Ilmu Hadits

Hadits Shahih

Memahami Syarat-Syarat Keshahihan dan Tingkatannya

Mempelajari kualitas sebuah riwayat akan mengantarkan kita pada pembahasan tingkatan tertinggi, yaitu hadits shahih. Hadits shahih merupakan sumber hukum utama yang menjadi landasan beragama setelah Al-Qur’an. Oleh karena itu, kita harus mengetahui kriteria mutlak sebuah riwayat agar bisa mengategorikannya sebagai hadits shahih.

Lima Syarat Mutlak Hadits Shahih

Para ulama merumuskan lima kriteria yang harus terpenuhi sekaligus agar sebuah hadits mencapai derajat shahih. Jika salah satu syarat ini hilang, maka status keshahihan hadits tersebut otomatis gugur.

Pertama, sanadnya harus bersambung dari perawi pertama hingga perawi terakhir yang menyampaikan langsung kepada Nabi ﷺ. Kedua, para perawinya wajib memiliki sifat adil, yaitu seorang muslim yang bertakwa dan menjaga kehormatan diri. Ketiga, perawi harus memiliki sifat dhabith, artinya mempunyai hafalan yang sangat kuat atau catatan yang akurat.

Keempat, riwayat tersebut harus terhindar dari syadz, yaitu tidak bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih tepercaya. Kelima, hadits harus bersih dari illat, yaitu cacat tersembunyi yang bisa merusak keabsahan hadits. Allah ﷻ menyuruh kita untuk selalu bersikap jujur dalam berucap, sebagaimana firman-Nya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Dan bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (QS. At-Tawbah: 119).

Mengenal Tingkatan Hadits Shahih

Kualitas hafalan dan kekuatan sanad para perawi menciptakan tingkatan-tingkatan dalam hadits shahih itu sendiri. Imam Bukhari dan Imam Muslim menempati tingkatan tertinggi karena mereka menyepakati riwayat tersebut dalam kitab mereka.

Selanjutnya, tingkatan kedua adalah hadits yang hanya berasal dari riwayat Imam Bukhari saja. Tingkatan ketiga memuat hadits yang hanya keluar melalui jalur Imam Muslim saja. Setelah itu, barulah mengikuti oleh hadits-hadits yang memenuhi syarat kedua imam tersebut namun tidak masuk dalam kitab Shahihain.

Salah satu contoh hadits dengan derajat keshahihan tertinggi adalah riwayat tentang pilar Islam. Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).

Kewajiban Mengamalkan Hadits Shahih

Umat Islam wajib menerima dan mengamalkan seluruh kandungan hukum dari hadits shahih tanpa ragu-ragu. Hal ini karena para ulama telah menguji keshahihannya secara ilmiah lewat pemeriksaan sanad yang sangat ketat.

Menerima keputusan dari Rasulullah ﷺ merupakan bukti nyata keimanan seorang hamba. Allah ﷻ memberikan penegasan yang sangat kuat mengenai ketaatan ini dalam Al-Qur’an:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (QS. An-Nisa: 65).

Melalui pemahaman yang benar tentang syarat dan tingkatan hadits shahih, kita bisa beribadah dengan tenang. Kita juga terhindar dari keraguan akibat penyebaran riwayat-riwayat palsu di tengah masyarakat.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger