Fiqih

Rahnu (Gadai) dan Wakalah (Perwakilan)

Solusi Keuangan Berdasarkan Syariat

Syariat Islam memberikan berbagai kemudahan dalam urusan muamalah untuk menjaga keharmonisan dan keadilan antar sesama manusia. Oleh karena itu, kita perlu mengenal dua akad penting yang sering hadir dalam kehidupan sehari-hari, yaitu akad rahnu (gadai) dan wakalah (perwakilan). Memahami kedua konsep ini membantu umat Islam dalam mengelola piutang serta urusan perwakilan secara sah dan penuh berkah.

Pengertian dan Hukum Rahnu (Gadai)

Secara bahasa, rahnu memiliki arti menahan sesuatu. Sementara itu secara istilah fikih, rahnu berarti menyerahkan suatu barang bernilai harta sebagai jaminan utang, agar penerima gadai dapat melunasi utang tersebut darinya jika peminjam gagal membayar. Oleh sebab itu, hukum asal akad ini adalah mubah dan menjadi sarana tolong-menolong yang sangat baik.

Allah ﷻ menegaskan landasan akad gadai di dalam Al-Qur’an:

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (QS. Al-Baqarah: 283).

Selain dalil dari Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ juga pernah mempraktikkan akad gadai ini semasa hidup beliau. Beliau ﷺ menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk mendapatkan bahan makanan bagi keluarganya.

Aisyah رضي الله عنها menceritakan peristiwa tersebut:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ membeli makanan dari seorang Yahudi secara tidak tunai (berutang) sampai waktu tertentu, dan beliau menggadaikan baju besi beliau kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim).

Aturan Pemanfaatan Barang Gadai

Selanjutnya, satu hal penting yang wajib kita perhatikan dalam akad gadai adalah status kepemilikan barang. Penerima gadai tidak boleh mengambil keuntungan dari barang jaminan tersebut, karena setiap keuntungan yang lahir dari utang termasuk riba. Namun demikian, jika barang gadai memerlukan biaya perawatan seperti hewan ternak atau kendaraan, maka penerima gadai boleh memanfaatkannya sebanding dengan biaya yang ia keluarkan.

Abu Hurairah رضي الله عنه menceritakan petunjuk Nabi ﷺ:

الظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Hewan tunggangan boleh dinaiki dengan memberi nafkah (biaya perawatan) apabila digadaikan, dan susu perahan boleh diminum dengan memberi nafkah apabila digadaikan. Bagi orang yang menaiki dan meminum susunya wajib memberikan nafkahnya (HR. Bukhari).

Pengertian dan Hukum Akad Wakalah (Perwakilan)

Di samping masalah gadai, Islam juga menyediakan akad wakalah atau perwakilan. Wakalah adalah penyerahan kuasa oleh seseorang kepada orang lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan, agar wakil tersebut bertindak atas nama pemberi kuasa selama ia masih hidup. Oleh karena itu, akad ini sangat membantu seseorang yang memiliki keterbatasan waktu, kesempatan, atau keahlian dalam mengurus perkaranya.

Para ulama bersepakat membolehkan akad wakalah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menyerahkan beberapa urusan beliau kepada para sahabat, seperti saat menyembelih hewan kurban dan mengurus zakat.

Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما menceritakan penugasan dari Nabi ﷺ:

أَرَدْتُ الْخُرُوجَ إِلَى خَيْبَرَ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِذَا أَتَيْتَ وَكِيلِي بِخَيْبَرَ فَخُذْ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَسَقًا

Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما berkata: Aku hendak keluar menuju Khaibar, lalu aku mendatangi Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda: Apabila engkau mendatangi wakilku di Khaibar, maka ambillah darinya lima belas wasaq (hasil kurma) (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Syarat Sah Akad Wakalah

Satu akad wakalah dianggap sah apabila memenuhi syarat-syarat syar’i. Pertama, pemberi kuasa dan penerima kuasa harus berakal sehat serta memiliki hak mengelola harta. Kedua, perkara yang diwakilkan harus jelas dan termasuk dalam hal-hal yang dapat diwakilkan, seperti jual beli, sewa-menyewa, atau pelunasan utang.

Namun demikian, urusan ibadah badan murni seperti shalat tidak boleh berpindah kepada orang lain. Melalui pemahaman yang benar mengenai rahnu dan wakalah, kita dapat menjalankan muamalah dengan aman, tertib, dan sesuai dengan ridha Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger