Sirah

Haji Wada’

Khutbah Terakhir dan Sempurnanya Syariat Islam

Cahaya Islam telah menerangi seluruh penjuru jazirah Arab setelah keberhasilan berbagai fatwa perjuangan yang besar. Pada bulan Dzulqa’dah tahun kesepuluh Hijriyah, Rasulullah ﷺ mengumumkan niat beliau ﷺ untuk melaksanakan ibadah haji. Perjalanan sejarah ini kemudian dikenal sebagai Haji Wada’ atau Haji Perpisahan karena menjadi haji pertama dan terakhir bagi beliau ﷺ.

Keberangkatan Rombongan Akbar dari Madinah

Kabar tentang rencana ibadah haji Rasulullah ﷺ segera tersebar luas ke seluruh kabilah Arab dengan sangat cepat. Akibatnya, lebih dari seratus ribu jamaah berkumpul di Madinah untuk menunaikan manasik haji bersama Nabi ﷺ. Rombongan akbar ini berangkat meninggalkan Madinah dengan penuh rasa syukur serta ketundukan hati yang sangat mendalam kepada Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ mencontohkan setiap detail tata cara ibadah haji yang murni dan bersih dari tradisi jahiliyah. Beliau ﷺ mengajarkan tata cara ihram, wukuf, tawaf, hingga lempar jumrah agar umat Islam memiliki panduan yang jelas. Kebersamaan yang sangat masif ini mempererat jalinan ukhuwah Islamiyah di antara kaum Muslimin dari berbagai latar belakang suku.

Khutbah Perpisahan yang Menggetarkan Hati di Arafah

Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah yang sangat monumental di lembah Uranah, Jabal Arafah, pada hari Arafah. Beliau ﷺ menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar kemanusiaan, keadilan sosial, serta penghormatan terhadap hak-hak wanita dalam Islam. Pesan-pesan terakhir ini menjadi warisan berharga yang harus senantiasa dijaga oleh seluruh umat manusia.

Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما menceritakan penegasan penting Rasulullah ﷺ dalam khutbah tersebut:

تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ، كِتَابُ اللَّهِ

Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelahnya jika kalian berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an). (HR. Muslim).

Selanjutnya, Nabi ﷺ juga menegaskan tentang kesucian darah, harta, serta kehormatan sesama Muslim yang wajib dihormati. Khutbah ini memancarkan wibawa yang sangat besar sehingga membuat para sahabat meneteskan air mata karena merasakan ajal Nabi ﷺ sudah dekat.

Turunnya Wahyu tentang Kesempurnaan Agama

Allah ﷻ menurunkan sebuah ayat yang sangat istimewa pada sore hari Arafah saat Rasulullah ﷺ masih berada di atas untanya. Ayat ini menjadi maklumat agung bahwa misi kerasulan Muhammad ﷺ telah selesai dengan hasil yang sangat sempurna. Kesempurnaan syariat ini menjadi nikmat terbesar bagi seluruh alam semesta.

Allah ﷻ berfirman mengenai kesempurnaan Islam ini:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Ma’idah: 3)

Oleh sebab itu, Haji Wada’ menjadi sebuah pembuktian atas keberhasilan dakwah tauhid yang Rasulullah ﷺ perjuangkan selama dua puluh tiga tahun. Beliau ﷺ telah menunaikan amanah langit dan menyampaikan risalah kepada umat dengan sangat sempurna. Akhirnya, setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat kembali ke Madinah dengan membawa ketenangan iman.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger