Adab di Atas Ilmu
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنَسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah ﷻ atas segala karunia-Nya. Selanjutnya, marilah kita meningkatkan kualitas ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi seluruh larangan-Nya. Perlu ana sampaikan bahwa ilmu agama merupakan salah satu nikmat paling agung yang Allah ﷻ karuniakan kepada seorang hamba. Namun, ilmu yang banyak akan menjadi tidak berharga jika pemiliknya tidak memiliki adab dan akhlak yang mulia. Oleh karena itu, para ulama salaf senantiasa menuntun kita untuk mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mendalami ilmu. Kedudukan adab yang tinggi akan menjadi wadah yang menjaga ilmu agar membawa keberkahan.
Kedudukan Adab Sebelum Menuntut Ilmu
Di sisi lain, adab merupakan hiasan utama bagi seorang penuntut ilmu dan ulama dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang berilmu tetapi tidak memiliki adab akan mudah terperosok ke dalam sifat sombong dan meremehkan orang lain. Oleh sebab itu, para ulama generasi terbaik Islam sangat menekankan pentingnya memperbaiki niat dan perilaku sejak awal menuntut ilmu. Abdullah bin Al-Mubarok رحمه الله pernah menegaskan betapa besarnya porsi adab yang dibutuhkan oleh penuntut ilmu dibandingkan sekadar wawasan teoritis.
Abdullah bin Al-Mubarok رحمه الله berkata dalam sebuah atsar yang masyhur mengenai pentingnya adab:
نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ
Kita lebih membutuhkan adab meskipun sedikit, daripada membutuhkan ilmu yang banyak (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi).
Maka dari itu, marilah kita senantiasa menghiasi wawasan keislaman kita dengan tutur kata yang santun dan sifat rendah hati. Kita tentu tidak ingin ilmu yang kita pelajari justru menjadi bumerang yang menjauhkan kita dari rahmat Allah ﷻ.
Bahaya Ilmu Tanpa Diikuti Akhlak yang Mulia
Selanjutnya, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan batin dan perpecahan di tengah masyarakat. Seseorang yang merasa memiliki pengetahuan luas tanpa landasan adab yang benar seringkali gemar berdebat dan mencari kesalahan orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ secara tegas memperingatkan kita agar tidak menuntut ilmu hanya untuk menyombongkan diri di hadapan manusia. Keikhlasan niat dan kelembutan sikap harus selalu menjadi pelindung bagi setiap mukmin yang berilmu.
Ka’ab bin Malik رضي الله عنه meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ yang berisi ancaman bagi penuntut ilmu yang salah niat:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Barangsiapa menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama, atau untuk membantah orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Sahih At-Tirmidzi).
Oleh sebab itu, mari kita perbaiki niat kita dalam setiap majelis ilmu yang kita hadiri. Tujuan utama kita belajar adalah untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri lalu mengamalkannya dengan penuh kesederhanaan.
Meneladani Adab Ulama Salaf
Kemudian, kita bisa melihat bagaimana para sahabat dan tabi’in sangat menghormati guru serta majelis ilmu. Mereka duduk di hadapan guru mereka dengan penuh ketenangan seolah-olah ada burung yang hinggap di atas kepala mereka. Oleh karena itu, adab terhadap guru, Kitabullah, dan sesama penuntut ilmu merupakan kunci dibukanya pemahaman agama yang hakiki. Jika kita menghormati syariat dan pembawanya, maka Allah ﷻ akan memancarkan cahaya hikmah di dalam hati kita.
Allah ﷻ memberikan gambaran tentang tingginya derajat orang-orang berilmu yang bertakwa dalam Al-Qur’an:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).
Maka dari itu, marilah kita jadikan adab sebagai pakaian utama dalam seluruh aktivitas keilmuan kita. Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang mulia sebagaimana para nabi dan shadiqin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ,
Sebagai kesimpulan, marilah kita meyakini bahwa adab adalah penuntun utama yang menjaga keberkahan ilmu pengetahuan. Kita tidak boleh menaikkan bendera keilmuan tanpa dibarengi dengan kelembutan akhlak dan rasa takut kepada Allah ﷻ. Selanjutnya, marilah kita ajarkan adab Islam ini kepada anak-anak kita sejak dini di lingkungan rumah tangga masing-masing. Oleh karena itu, mari kita bangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Akhirnya, marilah kita tundukkan kepala sejenak untuk memohon kepada Allah yang Maha Lembut agar memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan adab yang luhur.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَاهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

