Sakitnya Nabi ﷺ
Ujian Berat di Penghujung Usia Kekasih Allah ﷻ
Pesan-pesan suci dalam Khutbah Haji Wada’ menjadi tanda bahwa tugas kerasulan Nabi ﷺ telah usai. Setelah kembali ke Madinah, Rasulullah ﷺ mulai merasakan tanda-tanda fisik yang mengisyaratkan semakin dekatnya ajal beliau ﷺ. Pada akhir bulan Shafar tahun kesebelas Hijriyah, Rasulullah ﷺ mulai menderita sakit demam yang sangat tinggi.
Awal Mula Sakitnya Rasulullah ﷺ
Kondisi kesehatan Rasulullah ﷺ mulai menurun setelah beliau ﷺ mendatangi pemakaman Baqi’ untuk mendoakan para sahabat yang telah gugur. Pada malam harinya, rasa sakit di bagian kepala mulai menyerang beliau ﷺ dengan rasa panas yang sangat membakar. Rasa sakit yang melanda fisik Nabi ﷺ bahkan berlipat ganda dari apa yang biasa dirasakan oleh manusia pada umumnya.
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه menceritakan momen saat menjenguk Rasulullah ﷺ yang sedang menderita demam tinggi:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ يُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا، فَقُلْتُ: إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا، ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: أَجَلْ، مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
Aku mendatangi Nabi ﷺ ketika beliau sedang menderita demam yang sangat parah. Maka aku berkata: “Engkau mengalami demam yang sangat berat, apakah itu karena engkau mendapatkan dua pahala?” Beliau menjawab: “Benar, tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa suatu penyakit melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berpindah ke Rumah Aisyah رضي الله عنها
Rasa sakit yang semakin memuncak membuat Rasulullah ﷺ kesulitan untuk berpindah-pindah antar rumah istri-istri beliau. Oleh karena itu, dengan kerelaan seluruh istri beliau ﷺ, Nabi ﷺ memilih untuk dirawat di kamar Aisyah رضي الله عنها. Kehadiran Aisyah رضي الله عنها memberikan ketenangan tersendiri bagi beliau ﷺ di tengah cobaan fisik yang sangat berat tersebut.
Selama masa sakitnya, Rasulullah ﷺ tetap berusaha keluar untuk memimpin shalat berjamaah di Masjid Nabawi selama beliau ﷺ mampu. Namun, ketika kondisi tubuhnya semakin melemah, beliau ﷺ memerintahkan agar Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه menggantikan posisi beliau ﷺ sebagai imam shalat. Penunjukan ini menjadi sinyal kuat mengenai kepemimpinan umat setelah berpulangnya Nabi ﷺ.
Allah ﷻ menegaskan tentang kepastian kematian bagi setiap makhluk, termasuk para utusan-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). (Az-Zumar: 30)
Wasiat Terakhir di Tengah Penderitaan
Meskipun dalam keadaan payah, Rasulullah ﷺ senantiasa mengkhawatirkan keselamatan akidah dan ibadah umatnya. Beliau ﷺ berulang kali menyampaikan wasiat agar kaum Muslimin senantiasa menjaga ibadah shalat dan memperhatikan hak-hak hamba sahaya. Selain itu, beliau ﷺ melarang keras tindakan menjadikan kuburan sebagai tempat peribadahan.
Oleh sebab itu, kesabaran Rasulullah ﷺ saat menghadapi sakit menjadi keteladanan tertinggi bagi setiap mukmin. Beliau ﷺ membuktikan bahwa tingginya derajat keimanan tidak meluputkan seseorang dari ujian fisik di dunia. Akhirnya, penderitaan sakit yang dialami oleh Nabi ﷺ semakin menyempurnakan pahala serta kemuliaan beliau ﷺ di sisi Allah ﷻ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

