Jabariyyah
Mengenal penyimpangan akidah merupakan cara terbaik untuk menjaga kebenaran yang kita yakini. Jika sebelumnya kita mengenal paham Qadariyyah yang menolak takdir, maka terdapat pula kelompok ekstrem yang berada di posisi sebaliknya. Kelompok tersebut adalah Jabariyyah, sebuah paham yang membawa kekeliruan fatal dalam memahami takdir Allah ﷻ dan perbuatan manusia.
Pengertian dan Latar Belakang Kelompok Jabariyyah
Secara bahasa, kata Jabariyyah berasal dari kata jabar yang berarti paksaan. Sedangkan menurut istilah syariat, Jabariyyah adalah kelompok yang meyakini bahwa manusia terpaksa dalam melakukan seluruh perbuatannya. Mereka menganggap manusia tidak memiliki kehendak, pilihan, maupun ikhtiar sama sekali dalam kehidupan ini.
Paham ini pertama kali dicetuskan oleh Jahm bin Shafwan dan Al-Ja’d bin Dirham pada masa akhir Dinasti Umayyah. Kaum Jabariyyah menggambarkan manusia seperti bulu di udara yang terbawa angin tanpa bisa menentukan arahnya sendiri. Pemikiran ini jelas merusak logika dan syariat Islam yang menetapkan adanya perintah serta larangan.
Kekeliruan Fatal Paham Jabariyyah
Kekeliruan utama kelompok ini terletak pada pengabaian mereka terhadap ikhtiar dan kemampuan yang Allah ﷻ berikan kepada manusia. Jika manusia terpaksa dalam segala hal, tentu adanya balasan pahala dan siksa menjadi tidak adil. Padahal, Allah ﷻ Maha Adil dan memberikan kebebasan memilih kepada setiap hamba-Nya untuk taat atau bermaksiat.
Allah ﷻ secara tegas membantah anggapan bahwa manusia tidak memiliki pilihan dalam berbuat. Allah ﷻ berfirman:
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (QS. Al-Kahf: 29)
Ayat di atas membuktikan bahwa manusia memiliki kehendak untuk memilih jalan hidupnya. Namun, kehendak manusia tersebut tetap berada di bawah kekuasaan dan takdir Allah ﷻ.
Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang Wasathiyah
Ahlus Sunnah berada di posisi pertengahan antara Qadariyyah dan Jabariyyah. Ahlus Sunnah meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah ﷻ, namun manusia tetap memiliki ikhtiar dan kemampuan yang nyata. Oleh karena itu, seseorang wajib berusaha melakukan ketaatan dan tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat.
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk tetap beramal dan berikhtiar tanpa bersikap pasrah secara keliru. Dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya. (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647, Ali bin Abi Thalib meriwayatkan penegasan Nabi ﷺ agar hamba tetap berikhtiar).
Berdasarkan hadits yang Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه sampaikan, kita memahami bahwa ikhtiar merupakan bagian dari takdir itu sendiri. Manusia tidak boleh meninggalkan amal shalih hanya karena menganggap dirinya sudah terikat oleh takdir.
Kesimpulan
Memahami bahaya pemikiran Jabariyyah membimbing kita untuk selalu berikhtiar secara maksimal dalam ketaatan. Kita menyadari bahwa kehendak kita ada, namun kita menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada kehendak Allah ﷻ. Pemahaman yang seimbang ini akan melahirkan semangat beramal sekaligus sifat tawakal yang murni.
Akhirnya, mari kita senantiasa memohon petunjuk agar berada di atas manhaj Salafus Shalih yang lurus. Semoga Allah ﷻ menjauhkan kita dari paham-paham yang merusak tatanan syariat dan akidah. Keselamatan kita di dunia dan akhirat sangat bergantung pada kemurnian tauhid yang kita jaga hingga akhir hayat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

