Bahasa Arab

Memahami ‘Athaf Majruur

Cara Menyambungkan Kata Benda Berharakat Kasrah

Dalam menyusun kalimat bahasa Arab, kita sering menggabungkan dua kata benda atau lebih menggunakan kata hubung seperti dan, kemudian, atau atau. Kaidah penyambungan kata ini kita kenal dengan istilah ‘Athaf. Ketika kata pertama berkedudukan majrūr (berharakat kasrah karena didahului huruf jar atau idhāfah), maka kata yang menyertainya di belakang juga wajib berstatus majrūr. Pembahasan mengenai ‘Athaf Majrūr ini sangat krusial agar kita dapat membaca teks keagamaan dan berbicara dengan harakat yang tepat.

Definisi ‘Athaf dalam Ilmu Nahwu

Para ulama nahwu memasukkan ‘Athaf ke dalam kelompok kata pengikut atau Tawābi‘. Secara istilah, definisi ‘Athaf dalam teks Arab adalah sebagai berikut:

الْعَطْفُ هُوَ التَّابِعُ الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَتْبُوعِهِ أَحَدُ حُرُوفِ الْعَطْفِ

‘Athaf adalah kata pengikut yang di antara kata tersebut dan kata yang diikutinya terdapat salah satu dari huruf-huruf ‘athaf.

Oleh sebab itu, jika kata pertama (ma’thūf ‘alaihi) berkedudukan majrūr dengan harakat kasrah, maka kata kedua (ma’thūf) yang berada setelah huruf hubung wajib dibaca majrūr pula. Selanjutnya, huruf-huruf hubung yang paling sering kita gunakan antara lain wawu (dan), fa (maka/lalu), tsumma (kemudian), dan au (atau).

Contoh ‘Athaf Majrūr dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an sering menggunakan struktur penyambungan kata berharakat kasrah ini untuk memberikan petunjuk ajaran agama secara sempurna. Allah ﷻ berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya (QS. Al-Baqarah: 285).

Pada ayat di atas, lafaz بِاللَّهِ berkedudukan majrūr karena huruf jar bi. Kemudian, lafaz وَمَلَائِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, dan وَرُسُلِهِ mengikuti kata pertama dengan perantara huruf hubung wawu. Keserasian harakat kasrah pada setiap kata tersebut menunjukkan keindahan serta keteraturan tata bahasa Al-Qur’an yang sangat luar biasa.

Teladan dari Hadits Nabi ﷺ

Kita juga mendapati keindahan struktur kalimat penyambungan ini dalam lisan suci Rasulullah ﷺ saat beliau menjelaskan tentang pilar-pilar keimanan. Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk (HR. Muslim).

Perhatikan lafaz وَالْيَوْمِ الْآخِرِ dalam hadits tersebut. Kata الْيَوْمِ berstatus majrūr dengan harakat kasrah karena tersambung pada lafaz kemuliaan sebelumnya melalui huruf hubung wawu. Penguasaan kaidah ini tentu menjaga lisan kita agar tidak keliru saat melafalkan sabda-sabda beliau ﷺ.

Penerapan dalam Percakapan Sehari-hari

Supaya Anda lebih mahir dan percaya diri saat berkomunikasi, mari kita lihat beberapa contoh praktis ‘Athaf Majrūr dalam dialog harian:

  1. Tentang Perjalanan: سَافَرْتُ إِلَى مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ Aku telah bepergian ke Makkah dan Madinah. Lafaz وَالْمَدِينَةِ harus Anda baca kasrah karena ia tersambung dengan kata tempat pertama yang berkedudukan majrūr.

  2. Tentang Belajar di Ruangan: جَلَسْتُ فِي الْمَكْتَبَةِ ثُمَّ الْفَصْلِ Aku telah duduk di perpustakaan kemudian kelas. Kata الْفَصْلِ menjadi majrūr karena mengikuti status kata الْمَكْتَبَةِ melalui perantara kata hubung tsumma.

  3. Tentang Menulis dengan Alat: كَتَبْتُ بِالْقَلَمِ وَالْوَرَقَةِ Aku telah menulis dengan pena dan kertas.

Dengan membiasakan pola kalimat yang tertata rapi ini, percakapan Anda akan terdengar lebih fasih dan bermartabat. Selain itu, lawan bicara dapat menangkap rincian informasi yang Anda sampaikan dengan sangat jernih tanpa memicu kesalahpahaman.

Manfaat Mempelajari Kaidah Penyambungan Kata

Mempelajari ‘Athaf Majrūr tentu memberikan Anda ketajaman dalam memahami teks-teks Arab gundul secara mandiri. Selanjutnya, Anda akan lebih mudah menganalisis hubungan antar-kata dalam susunan kalimat panjang pada literatur Islam klasik. Oleh karena itu, mari kita terus konsisten menggali ilmu nahwu ini agar pemahaman keagamaan kita semakin matang dan kokoh. Melalui penguasaan kaidah yang benar, setiap bait kalimat Arab yang kita pelajari akan terasa lebih meresap ke dalam sanubari.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger