Fi‘il Madhi dan I’rabnya
Ketika membaca kitab berbahasa Arab, kita sering bertemu kata kerja yang menunjukkan perbuatan di masa lampau. Kata kerja seperti ini disebut fi‘il madhi. Meski terlihat sederhana, ia memiliki aturan i’rab yang menarik. Oleh karena itu, mari kita pelajari bersama dengan contoh yang mudah.
Pengertian Fi‘il Madhi
Pertama, perhatikan definisinya dalam bahasa Arab:
الْفِعْلُ الْمَاضِي هُوَ مَا دَلَّ عَلَى حَدَثٍ وَقَعَ فِي زَمَنٍ مَضَى
Artinya, fi‘il madhi adalah kata kerja yang menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi. Dalam bahasa Indonesia, kita menerjemahkannya dengan kata “telah” atau “sudah”.
Allah ﷻ berfirman:
خَلَقَ الْإِنْسَانَ، عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara (QS. Ar-Raḥmān: 3-4).
Pada ayat ini, خَلَقَ dan عَلَّمَ adalah fi‘il madhi. Keduanya menunjukkan perbuatan yang sudah terjadi.
Tanda-Tanda Fi‘il Madhi
Selanjutnya, bagaimana cara mengenali fi‘il madhi? Para ulama nahwu menyebutkan dua tanda yang paling mudah:
- Tā’ ta’nīts sākinah, yaitu huruf ت sukun di akhir kata. Contohnya: قَامَتْ (dia perempuan telah berdiri).
- Tā’ fā‘il, yaitu huruf ت yang menunjukkan pelaku. Contohnya: قُمْتُ (aku telah berdiri).
Selain itu, kata قَدْ sering muncul sebelum fi‘il madhi, seperti pada قَدْ قَامَ.
Contoh sehari-hari:
- ذَهَبْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ (Aku telah pergi ke masjid)
- أَكَلَ أَخِي الْخُبْزَ (Kakakku telah makan roti)
- فَتَحَتِ الْأُمُّ الْبَابَ (Ibu telah membuka pintu)
I’rab Fi‘il Madhi: Selalu Mabnī
Inilah kaidah pentingnya. Fi‘il madhi selalu mabnī, artinya akhir katanya tidak berubah karena kedudukannya dalam kalimat. Dengan demikian, kita tidak perlu mencari tanda rafa‘, nashab, atau jar pada fi‘il madhi.
Meski begitu, harakat akhirnya bisa berbeda. Hal ini bergantung pada huruf yang bersambung dengannya. Ada empat keadaan.
1. Mabnī ‘alā Fatḥah
Keadaan ini adalah hukum asalnya. Fi‘il madhi berharakat fatḥah jika tidak ada dhamir yang mengubahnya. Hukum yang sama berlaku ketika bersambung dengan tā’ ta’nīts sākinah atau alif tatsniyah.
- كَتَبَ (dia laki-laki telah menulis)
- كَتَبَتْ (dia perempuan telah menulis)
- كَتَبَا (mereka berdua telah menulis)
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (HR. Muslim).
Kata بَدَأَ adalah fi‘il madhi mabnī ‘alā fatḥah.
2. Mabnī ‘alā Ḍammah
Jika fi‘il madhi bersambung dengan wawu jamā‘ah, harakat akhirnya menjadi ḍammah.
- كَتَبُوا (mereka telah menulis)
- ذَهَبُوا (mereka telah pergi)
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (QS. Al-Ḥujurāt: 15).
Kata آمَنُوا dan جَاهَدُوا adalah fi‘il madhi mabnī ‘alā ḍammah, sebab keduanya bersambung dengan wawu jamā‘ah.
3. Mabnī ‘alā Sukūn
Fi‘il madhi berharakat sukun ketika bersambung dengan dhamir rafa‘ yang berharakat, yaitu tā’ fā‘il, nā (kami), dan nūn niswah.
- كَتَبْتُ (aku telah menulis)
- كَتَبْنَا (kami telah menulis)
- كَتَبْنَ (mereka para perempuan telah menulis)
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak (QS. Al-Kautsar: 1).
Kata أَعْطَيْنَا adalah fi‘il madhi mabnī ‘alā sukūn karena bersambung dengan nā.
Pada ayat lain, Allah ﷻ berfirman:
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
Engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah (QS. An-Naṣr: 2).
Kata رَأَيْتَ adalah fi‘il madhi mabnī ‘alā sukūn karena bersambung dengan tā’ fā‘il.
4. Mabnī ‘alā Fatḥah Muqaddarah
Terakhir, fi‘il madhi yang berakhiran alif, seperti دَعَا, رَمَى, dan سَعَى, tetap mabnī ‘alā fatḥah. Namun, fatḥah-nya tidak tampak. Kita menyebutnya fatḥah muqaddarah, yaitu fatḥah yang tersembunyi karena sulit diucapkan.
- دَعَا الْمُعَلِّمُ الطُّلَّابَ (Guru telah memanggil para murid)
- سَعَى الْأَبُ لِرِزْقِ أُسْرَتِهِ (Ayah telah berusaha mencari rezeki untuk keluarganya)
Contoh Mengi’rab Kalimat
Berikut ini cara mengi’rab kalimat yang memuat fi‘il madhi.
Contoh 1: كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ
- كَتَبَ: fi‘il madhi mabnī ‘alā fatḥah
- الطَّالِبُ: fā‘il marfū‘, tanda rafa‘-nya ḍammah
- الدَّرْسَ: maf‘ūl bih manshūb, tanda nashab-nya fatḥah
Contoh 2: فَهِمْتُ الدَّرْسَ
- فَهِمْ: fi‘il madhi mabnī ‘alā sukūn
- تُ: dhamir muttashil mabnī ‘alā ḍammah, berkedudukan rafa‘ sebagai fā‘il
- الدَّرْسَ: maf‘ūl bih manshūb
Contoh 3: جَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
- جَاهَدُوا: fi‘il madhi mabnī ‘alā ḍammah
- وَاو: dhamir muttashil mabnī ‘alā sukūn, berkedudukan rafa‘ sebagai fā‘il
Fi‘il Madhi dalam Kalimat Syarat
Ada satu hal yang menarik. Fi‘il madhi tidak pernah berubah akhirnya, tetapi ia bisa memiliki kedudukan jazm ketika muncul setelah isim atau huruf syarat. Kita menyebutnya fī maḥalli jazm.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim).
Pada hadits ini, سَلَكَ adalah fi‘il syarth dan سَهَّلَ adalah jawab syarth. Keduanya fi‘il madhi mabnī ‘alā fatḥah, dan keduanya berkedudukan jazm.
Contoh sehari-hari:
- إِنْ دَرَسْتَ نَجَحْتَ (Jika kamu belajar, kamu berhasil)
Kata دَرَسْتَ dan نَجَحْتَ sama-sama mabnī ‘alā sukūn, dan keduanya berkedudukan jazm.
Contoh Percakapan Sehari-hari
Supaya lebih jelas, mari kita simak percakapan singkat berikut:
أَحْمَدُ: مَاذَا فَعَلْتَ أَمْسِ؟
خَالِدٌ: ذَهَبْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ، وَصَلَّيْتُ الْعِشَاءَ، ثُمَّ رَجَعْتُ إِلَى الْبَيْتِ.
أَحْمَدُ: وَهَلْ أَكَلْتَ؟
خَالِدٌ: نَعَمْ، أَكَلْنَا أَنَا وَأُسْرَتِي.
Pertama, ذَهَبْتُ, صَلَّيْتُ, رَجَعْتُ, dan أَكَلْتَ adalah fi‘il madhi mabnī ‘alā sukūn karena bersambung dengan tā’ fā‘il. Kedua, أَكَلْنَا juga mabnī ‘alā sukūn karena bersambung dengan nā. Ketiga, kata فَعَلْتَ pada pertanyaan pertama mengikuti kaidah yang sama.
Tips Mudah Mengi’rab Fi‘il Madhi
Pertama, lihat akhir kata. Kedua, tentukan apakah ada dhamir yang bersambung. Ketiga, sebutkan harakat mabnī-nya sesuai empat keadaan di atas. Dengan latihan rutin, Anda akan terbiasa dan cepat mengi’rab.
Penutup
Singkatnya, fi‘il madhi adalah kata kerja yang menunjukkan masa lampau, dan ia selalu mabnī. Bentuk mabnī-nya ada empat, yaitu fatḥah, ḍammah, sukūn, dan fatḥah muqaddarah. Oleh karena itu, mari terus belajar, sebab nahwu adalah kunci memahami Al-Qur’an dan Sunnah dengan benar.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

