Aqidah

Aqidah dalam Ibadah Sehari-hari

Banyak orang mengira aqidah hanya urusan keyakinan di dalam hati. Padahal, aqidah hidup dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Shalat, doa, sedekah, bahkan langkah kecil menuju masjid, semuanya bersumber dari aqidah. Oleh karena itu, artikel ini mengajak pembaca melihat bagaimana aqidah yang lurus tampak dalam ibadah sehari-hari.

1. Ikhlas: Beribadah Hanya untuk Allah ﷻ

Aqidah yang benar melahirkan ibadah yang ikhlas. Artinya, seorang muslim beramal semata-mata karena Allah ﷻ. Allah ﷻ memerintahkan hal ini dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An’am: 162-163)

Selanjutnya, niat menjadi penentu nilai sebuah amal. Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Misalnya, seorang muslim bangun untuk shalat Subuh demi mengharap ridha Allah ﷻ. Ia tidak berharap pujian dari siapa pun. Begitu pula saat bersedekah, ia menyembunyikan amalnya agar hatinya tetap bersih.

2. Ittiba’: Mengikuti Tuntunan Nabi ﷺ

Ikhlas saja belum cukup. Di samping itu, ibadah harus sesuai dengan contoh Nabi ﷺ. Aqidah yang lurus meyakini bahwa Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam beribadah.

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Dari Malik bin Huwairits رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, seorang muslim tidak menambah dan tidak mengurangi tata cara ibadah. Ia mencari dalilnya terlebih dahulu, lalu mengamalkannya dengan tenang.

3. Memohon dan Meminta Pertolongan Hanya kepada Allah ﷻ

Setiap hari, kita membaca ayat berikut dalam shalat minimal tujuh belas kali:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)

Ayat ini merangkum inti tauhid. Nabi ﷺ pun menegaskan pesan yang sama kepada sepupunya yang masih belia:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Penerapannya

Ketika sakit, kita berdoa kepada Allah ﷻ sambil berikhtiar berobat. Saat kesulitan rezeki, kita mengadu kepada-Nya dan tidak bergantung kepada benda keramat atau perantara apa pun. Jadi, doa menjadi bukti nyata bahwa hati bergantung hanya kepada Allah ﷻ.

4. Tawakal dalam Setiap Urusan

Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah ﷻ setelah berusaha. Sikap ini menenangkan hati. Allah ﷻ berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At-Talaq: 3)

Nabi ﷺ juga memberi gambaran yang indah tentang tawakal:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Perhatikan bahwa burung tetap keluar mencari makan. Maka, tawakal tidak berarti pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, tawakal berjalan beriringan dengan ikhtiar.

Penutup

Aqidah bukan sekadar teori. Aqidah tampak dalam keikhlasan niat, kesesuaian dengan sunnah, doa yang tertuju kepada Allah ﷻ, dan tawakal setelah berusaha. Karena itu, mari periksa ibadah kita setiap hari. Semoga Allah ﷻ meluruskan aqidah kita dan menerima seluruh amal kita.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger