Aqidah

Asy’ariyyah dan Maturidiyyah

Mempelajari perkembangan sejarah ilmu kalam menjadi langkah penting untuk memahami peta pemikiran akidah di dunia Islam. Di antara mazhab teologi yang paling luas tersebar dalam sejarah adalah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah. Kedua mazhab ini lahir pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriyyah sebagai bentuk perlawanan teologis terhadap pemikiran rasionalisme ekstrem Mu’tazilah.

Sejarah Pendirian dan Tokoh Utama

Masyarakat menyandarkan Mazhab Asy’ariyyah kepada Abu Al-Hasan Al-Asy’ari yang lahir di Bashrah. Beliau awalnya mempelajari paham Mu’tazilah selama puluhan tahun dari gurunya, Abu Ali Al-Jubba’i. Namun, setelah merenungi keterbatasan logika filsafat, beliau keluar dari Mu’tazilah dan membela akidah Ahlus Sunnah menggunakan pendekatan dalil aqli dan naqli.

Sementara itu, masyarakat menyandarkan mazhab Maturidiyyah kepada Abu Mansur Al-Maturidi yang berkembang di wilayah Samarqand, Transoxiana. Beliau membangun metode teologi yang menerima banyak pengaruh dari fikih dan pemikiran Imam Abu Hanifah. Kedua ulama ini berjuang membendung propaganda fikiran rasionalis yang merusak tatanan akidah masyarakat pada zamannya.

Karakteristik dan Metode Teologi

Kedua kelompok ini memiliki kesamaan mendasar dalam menjadikan akal sebagai alat untuk membenarkan dan memperkuat dalil wahyu. Namun, pendekatan ini membuat mereka melakukan ta’wil (mengalihkan makna lahir) atau tafwidh (menyerahkan makna) terhadap sifat-sifat Allah ﷻ yang mereka anggap menyerupai makhluk.

Sebagai contoh, mazhab Asy’ariyyah membatasi penetapan sifat Allah pada 20 sifat wajib (Sifat 20), sedangkan Maturidiyyah menetapkan 8 atau 13 sifat utama. Pendekatan ini berbeda dengan metode para sahabat Nabi ﷺ dan generasi Salafus Shalih yang menetapkan seluruh sifat Allah ﷻ sesuai keagungan-Nya tanpa ta’wil, ta’thil (meniadakan), maupun tasybih (menyerupakan).

Allah ﷻ menetapkan prinsip dasar dalam memahami sifat-sifat-Nya melalui Al-Qur’an:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syura: 11)

Penjelasan Sunnah Mengenai Kemurnian Akidah

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umatnya agar senantiasa berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para sahabat. Keutamaan generasi awal Islam menjadi tolak ukur utama dalam menjaga kemurnian akidah dari pengaruh ilmu filsafat asing.

Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda mengenai generasi terbaik:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka. (HR. Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533, Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan penegasan keutamaan generasi Salafus Shalih).

Berdasarkan hadits ini, meneladani cara beragama para sahabat رضي الله عنهم dalam menetapkan nama dan sifat Allah ﷻ merupakan jalan yang paling selamat dan murni.

Kesimpulan

Mengenal mazhab Asy’ariyyah dan Maturidiyyah memberikan wawasan historis mengenai dinamika pemikiran teologi Islam. Kita dapat menghargai niat awal para tokohnya dalam membantah filsafat Mu’tazilah, sekaligus tetap kritis membandingkan metodenya dengan manhaj Salafus Shalih. Berpegang pada pemahaman generasi sahabat adalah kunci utama agar akidah kita tetap murni.

Akhirnya, mari kita terus memohon petunjuk kepada Allah ﷻ agar tetap teguh di atas jalan As-Sunnah yang murni. Semoga Allah ﷻ melindungi hati kita dari keraguan dan kekeliruan dalam memahami sifat-sifat Keagungan-Nya. Hamba hanya akan memperoleh keselamatan sejati dengan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya secara konsisten.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger