Meneladani Kepemimpinan Rasulullah ﷺ
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنَسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah ﷻ atas segala nikmat iman yang membalut kehidupan kita. Selanjutnya, marilah kita meningkatkan kualitas ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi seluruh larangan-Nya. Saat ini kita berada di pertengahan bulan Rabi’ul Awwal yang mulia. Perlu ana sampaikan bahwa setiap muslim pada hakikatnya memikul amanah kepemimpinan di ruang lingkupnya masing-masing. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan figur teladan terbaik dalam mengelola amanah tersebut. Rasulullah ﷺ telah menampilkan contoh kepemimpinan yang paling sempurna, baik di dalam rumah tangga maupun di tengah masyarakat luas. Maka dari itu, meneladani kepemimpinan beliau menjadi kunci utama untuk mewujudkan kedamaian dan keadilan sejati.
Kepemimpinan Berlandaskan Kasih Sayang dan Kelembutan
Di sisi lain, gaya kepemimpinan Rasulullah ﷺ sangat mengedepankan sifat kasih sayang dan kelembutan sikap. Beliau tidak pernah mengintimidasi atau bersikap otoriter kepada para pengikutnya. Oleh sebab itu, para sahabat merasa sangat menghormati dan mencintai sosok pemimpin mereka. Kelembutan batin beliau justru menjadi daya tarik luar biasa yang mampu menyatukan berbagai kelompok masyarakat yang tadinya saling bermusuhan.
Allah ﷻ menegaskan sifat kepemimpinan yang penuh rahmat ini dalam Al-Qur’an:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS. Ali ‘Imran: 159).
Maka dari itu, marilah kita menerapkan sifat kelembutan ini saat memimpin keluarga dan anggota masyarakat kita. Kita tentu ingin menjadi pemimpin yang merangkul sesama, bukan pemimpin yang memicu ketakutan karena kesombongan.
Keadilan dan Tanggung Jawab dalam Memikul Amanah
Selanjutnya, prinsip kepemimpinan Rasulullah ﷺ berdiri kokoh di atas keadilan yang tidak memandang latar belakang seseorang. Beliau tidak pernah membeda-bedakan perlakuan hukum antara orang kaya dengan orang miskin. Oleh karena itu, setiap orang memperoleh haknya secara adil tanpa merasa dizalimi. Selain itu, beliau selalu mengingatkan bahwasanya Allah ﷻ akan menuntut pertanggungjawaban yang sangat berat atas setiap kepemimpinan di akhirat kelak.
Abdullah bin Umar رضي الله عنهما meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ yang sangat tegas mengenai hakikat amanah kepemimpinan:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, mari kita jalankan setiap amanah yang ada di pundak kita dengan penuh rasa takut kepada Allah ﷻ. Kesadaran akan hadirnya hisab akhirat akan menjaga kita dari perbuatan menzalimi orang-orang yang kita pimpin.
Menjadi Suami dan Kepala Rumah Tangga Teladan
Kemudian, keteladanan kepemimpinan Nabi ﷺ juga memancar secara indah di dalam kehidupan domestik rumah tangga. Beliau merupakan sosok suami yang paling lembut, rajin membantu pekerjaan rumah, serta sabar mendidik istri-istrinya. Oleh karena itu, keberhasilan seorang muslim dalam memimpin masyarakat berawal dari keberhasilannya memimpin rumah tangganya sendiri. Jika kita memimpin keluarga dengan nilai-nilai syariat yang lurus, maka akan lahir generasi yang kuat dan bertakwa.
Aisyah رضي الله عنها menceritakan bagaimana perilaku harian Rasulullah ﷺ saat berada di tengah keluarganya:
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ
Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan apabila tiba waktu shalat, maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat (HR. Bukhari).
Maka dari itu, marilah kita jadikan rumah tangga kita sebagai tempat pertama untuk menerapkan kepemimpinan islami. Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing kita agar mampu meneladani seluruh jejak langkah Rasulullah ﷺ dengan konsisten.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ,
Sebagai kesimpulan, marilah kita meyakini bahwa teladan kepemimpinan Rasulullah ﷺ memberi solusi terbaik bagi seluruh persoalan hidup. Kita tidak boleh memisahkan nilai-nilai keislaman dari cara kita memimpin keluarga maupun organisasi. Selanjutnya, marilah kita melatih diri untuk selalu bersikap adil, jujur, dan rendah hati kepada siapa saja. Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum bulan Rabi’ul Awwal ini untuk memperbaiki kualitas kepemimpinan pribadi kita.
Akhirnya, marilah kita tundukkan kepala sejenak untuk memohon kepada Allah yang Maha Kuasa agar mengaruniakan pemimpin-pemimpin yang bertakwa bagi kita.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا، وَاهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

