Ilmu Hadits

Pembagian Hadits Berdasarkan Kuantitas Rawi

Mengenal Mutawatir dan Ahad

Para ulama hadits melakukan klasifikasi yang sangat rapi untuk menjaga keaslian sunnah Nabi ﷺ. Salah satu metode pengelompokan tersebut mengacu pada jumlah perawi yang membawa hadits. Pembahasan kuantitas perawi ini sangat penting karena berkaitan erat dengan tingkat kepastian sumber hukum Islam. Secara garis besar, para ulama membagi hadits dari sisi jumlah perawi menjadi dua kelompok utama, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad.

Mengenal Hadits Mutawatir dan Jenisnya

Hadits mutawatir adalah sebuah riwayat yang disampaikan oleh banyak perawi pada setiap tingkatan sanadnya. Jumlah perawi tersebut sangat banyak sehingga menurut akal sehat tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbohong. Hadits jenis ini memberikan keyakinan yang pasti dan mutlak bahwa riwayat tersebut benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ.

Ulama membagi hadits mutawatir menjadi dua macam, yaitu mutawatir lafzhi dan mutawatir ma’nawi. Mutawatir lafzhi terjadi ketika para perawi menyampaikan hadits dengan redaksi kata yang sama persis. Contohnya adalah hadits tentang ancaman berdusta atas nama Nabi ﷺ. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara itu, mutawatir ma’nawi adalah hadits-hadits yang memiliki makna atau inti masalah yang sama meskipun redaksi kalimatnya berbeda-beda. Contoh mutawatir ma’nawi ini adalah riwayat-riwayat tentang mengangkat tangan ketika berdoa serta mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ.

Memahami Hadits Ahad dan Kedudukannya

Kelompok kedua dalam pembagian ini adalah hadits ahad. Hadits ahad merupakan riwayat yang jumlah perawinya tidak mencapai batasan jumlah hadits mutawatir. Meskipun jumlah perawinya lebih sedikit, kita tidak boleh langsung meremehkan atau menolak hadits ahad.

Para ulama menegaskan bahwa hadits ahad yang shahih wajib menjadi hujah dalam urusan akidah maupun hukum syariat. Allah ﷻ memerintahkan umat Islam untuk menerima penjelasan dari utusan yang terpercaya. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (QS. Al-Hasyr: 7).

Keabsahan hadits ahad sebagai dasar hukum juga terlihat dari utusan-utusan yang Nabi ﷺ kirim ke berbagai daerah. Rasulullah ﷺ seringkali hanya mengutus satu orang sahabat untuk mengajarkan Islam dan penduduk daerah tersebut wajib mentaatinya. Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, beliau menceritakan peristiwa perubahan kiblat berdasarkan laporan satu orang perawi:

بَيْنَا النَّاسُ بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ النَّاشِئَةَ مِنَ الْقُرْآنِ قَدْ أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ

Ketika orang-orang sedang shalat subuh di Masjid Quba, tiba-tiba datang seorang utusan lalu berkata: Sesungguhnya malam tadi telah turun Al-Qur’an kepada Rasulullah ﷺ dan beliau diperintahkan untuk menghadap Kaabah, maka menghadaplah kalian ke sana. Tadinya wajah mereka menghadap ke Syam, lalu mereka pun berputar menghadap Kaabah (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulan dan Urgensi Pembahasan

Pemahaman yang baik tentang kuantitas perawi akan menjaga kita dari pemahaman keliru yang disebarkan oleh kelompok pengingkar sunnah. Kita dapat menolak syubhat mereka yang seringkali menolak hadits-hadits shahih dengan alasan statusnya yang berupa hadits ahad. Padahal, baik mutawatir maupun ahad yang shahih, keduanya merupakan wahyu yang wajib kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger