Al-Mudallas

Bagikan artikel ini :

Al-Mudallas

Menurut bahasa, mudallas berasal dari kata “دَلَّسَ” yang berarti menyembunyikan, mudallas berarti sesuatu yang disembunyikan.

Adapun menurut istilah, maka sebagaian ulama’ ahli hadits memiliki beberapa pengertian sebagaimana berikut ini :

اِخْفَاءُ عَيْبٍ فِى الْاِسْنَادِ وَتَحْسِيْنٍ لِظَاهِرِهِ

“Hadits Mudallas adalah menyamarkan aib atau cacat seorang rawi di dalam isnadnya dan menampakkan kebaikan rawi di dalam isnadnya”.

Namun perlu diketahui bahwasanya tadlis/mudallas merupakan sebab-sebab terjadinya keguguran dalam sanad, jadi ia itu bukan merupakan bagian dari macam-macam keguguran (sanad), akan tetapi mudallas itu merupakan salah satu cara yang dilakukan rawi’ agar terjadinya keguguran dalam sanad.

 

Macam-Macam Tadlis

Tadlis atau Mudallas terbagi kedalam 5 macam;

  1. Tadlis Sama’

هُوَ أَنْ يَرْوِيَ عَنْ رَاوٍ سَمِعَ مِنْهُ مَا لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْهُ بِصِيْغَةٍ تُوْهِمُ السَّمَاعَ.

Tadlis Sama’ yaitu tatkala seorang rawi’ meriwayatkan dari rawi’ lain yang (biasa) ia dengar darinya (hadits) yang sebernarnya ia tidak mendengar hadits tersebut darinya dengan menggunakan sigoh/bentuk seolah-olah ia mendengar langsung darinya.

Mudahnya yang dimaksud dengan tadlis sama’ ialah ketika seorang rawi yang biasa mendengar hadits dari rawi lain, sebut saja (Sufyan) namun ketika itu dia tidak mendengar langsung darinya (Sufyan) akan tetapi bisa jadi ia mendengar dari muridnya atau dari rawi’ lain. Akan tetapi ia tidak menyebutkan rawi’ yang mengabarkan langsung kepadanya, tapi ia langsung menyebutkan (Sufyan) dengan ungkapan, misalnya; عَنْ سُفْيَانَ dari (Sufyan).

Maka jelaslah dari kejadian tersebut banyak yang mengira seolah-olah rawi tadi mendengar atau menerima hadits langsung dari Sufyan. Padahal sebenarnya ada seorang rawi’ yang ia buang.

  1. Tadlis Taswiyyah

هُوَ أَنْ يُسْقِطَ الرَّاوِى شَيْخَ شَيْخِهِ أَوْ أَكْثَرَ بِصِيْغَةٍ تُوْهِمُ السَّمَاعَ.

Tadlis Taswiyyah yaitu ketika seorang rawi’ menggugurkan guru dari gurunya atau lebih dengan menggunakan sigoh seolah-olah ia mendengar langsung darinya.

Maksudnya adalah ketika seorang rawi’ menerima hadist dari gurunya, sebut saja Ahmad, lalu Ahmad memiliki guru yaitu Zuhri dan Zuhri memiliki guru Humaid. Namun rawi’ tadi melangsugkannya kepada Humaid dengan mengunakan sigoh yang menimbulkan sangkaan bahwa rawi’ tadi mendengar hadits tersebut langsung dari Humaid. Seperti dengan menggunakan kata عَنْ  “dari”. Walaupun rawi’ sebenarnya rawi’ tersebut tidak berbohong dengan menggunakan lafadz أَخْبَرَنِي أَوْ حَدَّثَنِي “Telah mengabarkan kepadaku atau telah menceritakan kepadaku” tapi dengan menggunakan kata عَنْ  sudah memberikan pemahaman bahwa seakan-akan ia menerima hadits tersebut dari Humaid.

  1. Tadlis Asma a Syuyukh

هُوَ أَنْ يُسَمَّى الرَّاوِى شَيْخَهُ بِاسْمِ آخَرَ لَيْسَ مَعْرُوْفًا بِهِ

Tadlis Asma a Syuyukh yaitu ketika seorang rawi’ menamakan gurunya dengan nama yang lain  yang tidak diknal (dengan nama tersebut).

Ringkasnya adalah bahwa si rawi’ merubah nama gurunya dengan nama lain yang pada dasarnya nama tersebut tidak dikenal banyak orang, dan biasanya perubahan nama tersebut dilakukan untuk menghindari kecurigaan bahwa tenyata orang yang disamarkan atau dirubah Namanya itu seorang yang memeliki illat/cacat atau ia merupakan seorang pemalsu hadits dan lain sebagainya. Namun bagian ini merupakan tadlis teringan kedhoifannya karena tidak sampai mengugurkan rawi’ karena hanya sebatas merubah nama. Namun tetap saja dihukumi sebagai hadits dhoif.

  1. Tadlis ‘Atof

هُوَ أَنْ يَذْكُرَ شَيْخًا سَمِعَ مِنْهُ وَيَعْطِفُ شَيْخًا آخَرَ لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ

Tadlis ‘Atof yaitu seorang rawi’ menyebut seorang guru yang ia mendengar dari padanya (hadits) dan mengikutkan atasnya guru lain yang ia belum mendengar/menerima darinya.

Sebagai contoh; seorang rawi’ memilki 2 orang guru, sebut saja (A) dan (B) suatu ketika rawi’ tersebut menerima hadits dari (A) akan tetapi ia juga mengikutkan (B) seolah-olah ia menerima hadits dari kedua gurunya, padahal ia hanya menerima hadits dari (A), rawi’ tersebut mengatakan; “Telah mengabarkan kepadaku (A) dan (B)” Maka tentulah rawi’ tersebut menerima dari (A) tapi belum tentu menerima dari (B).

  1. Tadlis Qotho

 

هُوَ أَنْ يَذْكُرَ الرَّاوِى صِيْغَةً تَسْتَلْزِمُ السَّمَاعَ وَتَقْتَضِيْهِ ثُمَّ يَسْكُت وَيَنْوِى قَطْعَ الكَلَامِ ثُمَّ يَقُوْلُ: فُلَانٌ عَنْ فُلَانٍ

Tadlis Qotho yaitu seorang rawi’ menyebut dengan suatu sigoh (عَنْ, أَخْبَرَنِي, حَدَّثَنِي) yang sigoh tersebut menjadikan suatu kepastian kepada pendengar dan menuntut sigoh tersebut kepada pendengar kemudian diam dan bermaksud memotong pembicaraan, kemudian berkata: Fulan dari Fulan.

Sebagai contoh:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا (ثُمّ َ يَسْكُتُ) عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ عَنْ حَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ عَنْ أَبِي مَطَرٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami (kemudian diam) Abdul Wahid bin Ziyad dari Hajjaj bin Arthah dari Abu Mathar dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya

Maka alasan diamnya perawi itu tiada lain adalah untuk memutus pembicaraan antara Qutaibah dan Abdul Wahid, karena sebenarnya Qutaibah tidak menerima hadits tersebut dari Abdul Wahid, akan tetapi orang-orang masih menyangka bahwa Qutaibah mendengar langsung darinya (Abdul Wahid).

Wallahu ‘alamu bis shawab.

 

Kedudukan Hadits Mudallas

Hadits Mudallas merupakan salah satu hadits yang digolongkan sebagai hadits lemah atau hadits dhaif, di mana kedhaifannya juga bisa dikategorikan cukup parah. Adapun mengenai kedudukan sebagai hujjah, dasar, dan pedoman hukum, maka beberapa ulama’ ahli hadits berbeda sikap :

Sebagian ‘Ulama hadits menolak hadits mudallas dikarenakan banyaknya cacat di dalamnya

Sebagian ‘Ulama hadits masih memberikan pertimbangan, jika hadits tersebut dilafadzkan dengan kalimat “سَمِعْتُ” (aku mendengar) atau sebagainya, maka masih dipertimbangkan untuk diterima.. Sedangkan jika menggunakan lafadz “عَنْ” (dari), “قَالَ” (mengatakan), atau sebagainya, maka semestinya tidak diterima.

 

Nama-nama Pentadlis Hadits

Terdapat beberapa nama rawi’ hadits yang suka mentadlis diantaranya;

  1. Hisyam bin ‘Urwah
  2. Sufyan ats-Tsauri
  3. Al-Hasan bin Abil-Hasan al-Bashri
  4. Sufyan bin Uyainah
  5. Humaid bin ‘Ammar
  6. Hajjaj bin Arthath
  7. Abdullah bin Lahi’ah

Masih banyak rawi’ lain yang juga biasa mentadlis hadits selain dari nama-nama diatas.

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI)

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Advertisment ad adsense adlogger