Ulumul Quran

I’jazul Qur’an Bagian 1

Hakikat Mukjizat dan Tantangan Al-Qur’an kepada Kaum Musyrikin

Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan. Allah ﷻ menjadikannya mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad ﷺ. Karena itu, para ulama menyebut pembahasan ini dengan nama I’jazul Qur’an. Artikel ini menjelaskan hakikat mukjizat dan tantangan Al-Qur’an kepada kaum musyrikin.

Hakikat Mukjizat

Pengertian mukjizat

Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang Allah ﷻ berikan kepada para nabi dan rasul. Kejadian itu disertai tantangan, dan tidak seorang pun mampu menandinginya. Dengan demikian, mukjizat menjadi bukti bahwa seorang rasul benar-benar utusan Allah ﷻ.

Kata I’jaz sendiri berarti melemahkan. Artinya, Al-Qur’an melemahkan siapa pun yang mencoba menandinginya.

Mukjizat setiap nabi sesuai zamannya

Allah ﷻ memberi setiap nabi mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaumnya. Nabi Musa عليه السلام menghadapi kaum yang ahli sihir, sehingga Allah ﷻ memberinya mukjizat tongkat. Sementara itu, Nabi Isa عليه السلام menghadapi kaum yang maju dalam ilmu pengobatan, sehingga Allah ﷻ memberinya mukjizat menyembuhkan orang sakit. Adapun bangsa Arab terkenal dengan kefasihan bahasa, sehingga mukjizat Nabi ﷺ berupa Al-Qur’an.

Rasulullah ﷺ menjelaskan hal ini dalam sabdanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak ada seorang nabi pun melainkan telah diberi mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, mukjizat para nabi terdahulu berhenti bersama wafatnya mereka. Sebaliknya, Al-Qur’an tetap terjaga dan tetap menjadi tantangan sampai hari kiamat.

Tantangan Al-Qur’an yang Bertahap

Allah ﷻ menantang kaum musyrikin dengan tiga tahap. Tantangan itu berawal dari yang paling berat hingga yang paling ringan.

Tahap pertama: membuat yang semisal Al-Qur’an

Pertama, Allah ﷻ menantang mereka membuat kitab yang serupa dengan Al-Qur’an secara keseluruhan.

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah: Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Isra: 88)

Tahap kedua: mendatangkan sepuluh surat

Berikutnya, Allah ﷻ meringankan tantangan itu menjadi sepuluh surat saja.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan mereka mengatakan: Dia telah membuat-buat Al-Qur’an itu. Katakanlah: Kalau begitu, datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah siapa saja yang kamu sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Hud: 13)

Tahap ketiga: mendatangkan satu surat

Akhirnya, Allah ﷻ meminta mereka mendatangkan satu surat saja.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan mereka mengatakan: Dia telah membuat-buatnya. Katakanlah: Kalau begitu, datangkanlah satu surat yang semisal dengannya, dan panggillah siapa saja yang kamu sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Yunus: 38)

Allah ﷻ menegaskan tantangan yang sama di Madinah, disertai kepastian bahwa mereka akan gagal.

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿٢٣﴾ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا وَلَن تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu surat yang semisal dengannya, dan panggillah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti kamu tidak akan dapat, maka takutlah kepada neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)

Mengapa Kaum Musyrikin Tidak Mampu Menandinginya

Kaum Quraisy adalah ahli bahasa dan sastra. Mereka bangga dengan syair dan khutbah mereka. Namun, tidak seorang pun berani menjawab tantangan itu. Padahal, jawaban itu jauh lebih mudah daripada berperang dan mengorbankan harta serta nyawa. Sikap mereka justru menjadi bukti bahwa mereka sadar akan ketidakmampuan mereka.

Selain itu, Al-Qur’an sangat memengaruhi hati orang yang mendengarnya, bahkan orang musyrik sekalipun. Jubair bin Muth’im رضي الله عنه menceritakan pengalamannya sebelum masuk Islam.

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ، فَلَمَّا بَلَغَ هَذِهِ الْآيَةَ {أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ، أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَل لَّا يُوقِنُونَ، أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ} كَادَ قَلْبِي أَنْ يَطِيرَ

Dari Jubair bin Muth’im رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib. Ketika beliau sampai pada ayat {Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak yakin. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu, ataukah merekalah yang berkuasa?}, hampir saja hatiku terbang. (HR. Al-Bukhari)

Penutup

Mukjizat Al-Qur’an bukan sekadar klaim, melainkan tantangan terbuka yang tidak pernah terjawab selama empat belas abad lebih. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadi bukti terkuat kebenaran risalah Nabi ﷺ. Insya Allah, artikel berikutnya membahas segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger