Ulumul Quran

Syubhat Seputar Wahyu dan Bantahannya

Menjaga Kemurnian Al-Qur’an

Musuh-musuh Islam sejak zaman dahulu selalu berusaha meruntuhkan keyakinan umat terhadap kebenaran Al-Qur’an. Mereka menyebarkan berbagai syubhat atau keraguan ilmiah yang tampak meyakinkan bagi orang awam. Oleh karena itu, kita perlu mengenali tipuan tersebut guna memperkokoh keimanan berdasarkan hujjah yang kuat.

Syubhat Pertama: Al-Qur’an Adalah Karangan Nabi Muhammad ﷺ

Kaum kafir Quraisy dahulu menuduh bahwa Rasulullah ﷺ memalsukan wahyu dan membuat Al-Qur’an dari akal pikirannya sendiri. Mereka menganggap beliau ﷺ sebagai seorang penyair atau tukang sihir yang pandai merangkai kata-kata indah.

Allah ﷻ langsung mematahkan tuduhan keji tersebut di dalam Al-Qur’an dengan berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَل لَّا يُؤْمِنُونَ فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ

Atau apakah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya?” Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka cobalah mereka membuat satu saja yang semisal dengan Al-Qur’an jika mereka adalah orang-orang yang benar (QS. At-Thur: 33-34).

Tantangan ini membuktikan bahwa tidak ada satu pun manusia yang mampu menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an adalah buatan manusia, tentu orang-orang Arab zaman dahulu yang sangat ahli dalam sastra bisa menirunya dengan mudah.

Syubhat Kedua: Rasulullah ﷺ Belajar dari Ahli Kitab

Kaum orientalis zaman modern mengadopsi syubhat lama yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ menyalin ajaran Taurat dan Injil. Mereka mengklaim beliau ﷺ berguru kepada seorang pendeta Kristen bernama Bahira atau saksi hidup lainnya saat berdagang ke Syam.

Bantahan atas klaim ini sangat jelas karena Rasulullah ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis (ummi). Fakta sejarah ini menutup rapat celah tuduhan bahwa beliau ﷺ telah meneliti dan menyalin kitab-kitab terdahulu.

Allah ﷻ menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkarinya (QS. Al-Ankabut: 48).

Syubhat Ketiga: Wahyu Hanyalah Halusinasi Akibat Penyakit

Orang-orang kafir juga mencoba memberikan penjelasan medis palsu mengenai kondisi Rasulullah ﷺ saat menerima wahyu. Mereka menuduh gejala fisik yang berat seperti tubuh bergetar dan bercucuran keringat sebagai tanda penyakit saraf atau epilepsi.

Tuduhan ini sangat tidak masuk akal karena penderita epilepsi akan mengalami penurunan kesadaran dan berbicara melantur. Sebaliknya, Rasulullah ﷺ justru berada dalam kesadaran penuh dan mampu menyampaikan syariat yang sangat cerdas, teratur, dan agung setelah peristiwa tersebut.

Kondisi fisik yang berat itu murni merupakan beban berat dari proses spiritual menerima firman Allah ﷻ yang suci. Aisyah رضي الله عنها mengonfirmasi realita ini dalam sebuah riwayat yang shahih:

وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

Dan sungguh aku telah melihat beliau ketika turunnya wahyu pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu terhenti dari beliau sementara dahi beliau benar-benar mengalirkan keringat (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulan

Semua syubhat yang dihembuskan oleh para penolak kebenaran terbukti rapuh dan tidak memiliki landasan ilmiah yang valid. Al-Qur’an tetap tegak berdiri sebagai mukjizat abadi yang murni berasal dari Allah ﷻ tanpa ada campur tangan makhluk. Semoga Allah ﷻ senantiasa menjaga hati kita di atas kebenaran serta menjauhkan kita dari segala syubhat yang menyesatkan.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger