Sirah

Peristiwa Khaibar

Penaklukan Benteng Terakhir Konspirasi di Tanah Arab

Langkah diplomasi internasional melalui pengiriman surat kepada para raja dunia telah meningkatkan wibawa Madinah. Namun, Rasulullah ﷺ menyadari adanya ancaman besar yang masih mengintai dari dalam jazirah Arab sendiri. Pada awal tahun ketujuh Hijriyah, beliau ﷺ memimpin pasukan menuju Khaibar, sebuah wilayah subur yang menjadi pusat konspirasi kaum Yahudi.

Latar Belakang Penyerangan ke Khaibar

Khaibar merupakan benteng pertahanan utama bagi kaum Yahudi yang terus-menerus memprovokasi kabilah-kabilah Arab untuk menghancurkan Madinah. Mereka menjadi dalang di balik layar yang mendanai pasukan sekutu dalam Perang Khandaq beberapa tahun sebelumnya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk menyelesaikan akar permasalahan ini demi menjaga stabilitas keamanan negara Islam.

Sesuai dengan petunjuk Allah ﷻ, Nabi ﷺ hanya mengajak para sahabat yang ikut serta dalam Perjanjian Hudaibiyah saja. Pasukan Muslim yang berjumlah sekitar seribu empat ratus personel berangkat dengan penuh semangat ketakwaan. Mereka mengepung benteng-benteng Khaibar yang terkenal sangat kokoh dan memiliki sistem pertahanan yang sangat berlapis.

Penyerahan Bendera Komando kepada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه

Pengepungan berlangsung sengit selama beberapa hari karena kokohnya benteng-benteng pertahanan musuh di Khaibar. Melihat situasi tersebut, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kabar gembira mengenai sosok yang akan membuka jalan kemenangan. Beliau ﷺ mengumumkan bahwa bendera komando akan diserahkan kepada seorang laki-laki yang dicintai oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

Sahl bin Sa’d رضي الله عنه meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ pada malam sebelum penaklukan:

لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ، يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

Sungguh besok aku akan menyerahkan bendera ini kepada seorang laki-laki yang Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memanggil Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه yang saat itu sedang menderita sakit mata. Beliau ﷺ mengobati mata Ali dengan ludah mubaraknya hingga sembuh seketika tanpa bekas. Selanjutnya, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه maju memimpin pasukan dengan keberanian luar biasa hingga berhasil meruntuhkan benteng utama Khaibar.

Kemenangan Rampasan Perang yang Berkah

Allah ﷻ memberikan kemenangan gemilang kepada kaum Muslimin setelah runtuhnya benteng-benteng pertahanan kaum Yahudi Khaibar. Penaklukan ini menghasilkan harta rampasan perang (ghanimah) yang sangat melimpah berupa tanah pertanian yang sangat subur. Kemenangan besar ini sekaligus mengakhiri dominasi politik dan militer kaum Yahudi di seluruh wilayah Hijaz.

Allah ﷻ berfirman mengenai janji kemenangan dan harta yang melimpah ini:

وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka Dia segerakan harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari membinasakanmu. (Al-Fath: 20)

Oleh sebab itu, Peristiwa Khaibar mengubah kondisi perekonomian kaum Muslimin di Madinah menjadi jauh lebih makmur. Rasulullah ﷺ mengizinkan penduduk Khaibar tetap tinggal untuk mengelola lahan pertanian dengan sistem bagi hasil. Akhirnya, kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa keteguhan iman dan strategi yang matang akan selalu mendatangkan pertolongan dari Allah ﷻ.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger