Hadits Shahihain
Mengenal Metodologi Imam Bukhari dan Imam Muslim
Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menempati kedudukan paling utama sebagai kitab paling shahih setelah Al-Qur’an. Para ulama menyebut gabungan kedua kitab karya agung ini dengan istilah Shahihain. Oleh karena itu, kita perlu memahami bagaimana kedua imam besar ini menyusun kitab mereka agar kita semakin mantap dalam menjadikan riwayat mereka sebagai pegangan hidup.
Metodologi dan Syarat Imam Bukhari
Imam Bukhari rahimahullah menerapkan kriteria yang sangat ketat dalam menyaring hadits. Beliau menetapkan syarat bahwa perawi harus berada pada tingkat keadilan dan hafalan yang paling tinggi. Selain itu, beliau memberikan syarat mutlak berupa bukti kepastian bertemunya perawi (liqa’) dengan gurunya, bukan sekadar hidup di zaman yang sama (mu’asharah).
Langkah ketat ini menjadikan kitab karya beliau sebagai rujukan utama dalam penggalian hukum Islam. Allah ﷻ memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk agama berdasarkan ilmu yang yakin, sebagaimana firman-Nya:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata (QS. Yusuf: 108).
Keutamaan Metodologi Imam Muslim
Sementara itu, Imam Muslim rahimahullah juga menetapkan syarat periwayatan yang sangat tinggi. Beliau merasa cukup dengan kesepahaman zaman (mu’asharah) antara murid dan guru, selama ada kemungkinan besar mereka saling bertemu dan terbebas dari penyamaran (tadlis).
Meskipun demikian, keunggulan utama kitab Imam Muslim terletak pada kerapian sistematika penulisan. Beliau mengumpulkan seluruh jalur sanad suatu hadits dalam satu tempat tanpa memotong matannya. Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah riwayat shahihain yang sangat fundamental:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbedaan Fokus Utama Kedua Imam
Perbedaan gaya penyusunan kedua kitab ini memperkaya khazanah ilmu hadits. Imam Bukhari menyusun kitabnya untuk menggali hukum-hukum fikih (istinbath), sehingga beliau sering memotong matan hadits ke dalam bab-bab fikih yang sesuai.
Di sisi lain, Imam Muslim lebih berfokus pada kemurnian pengumpulan jalur-jalur riwayat secara utuh. Oleh sebab itu, para ulama menyimpulkan bahwa Shahih Bukhari lebih unggul dari segi keshahihan dan fikih, sedangkan Shahih Muslim lebih unggul dalam kemudahan penyusunan riwayat.
Kesimpulannya, kesungguhan kedua imam ini dalam menyaring riwayat menjadi berkah besar bagi umat Islam. Melalui metodologi Shahihain, kita dapat menikmati warisan sabda Nabi ﷺ yang murni dan teruji secara ilmiah hingga akhir zaman.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


