Pengantar Ilmu Balaghah

Bagikan artikel ini :

بسم الله الرحمن الرحيم

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW dan kepada keluarganya

Pendahuluan
I
Betapa banyak orang yang sibuk dengan ilmu balaghoh akan tetapi ilmu balaghoh tersebut telah hilang baik dalam lafadz ataupun maknanya; Sebagaimana sibuknya para pemberi penjelasan (syaarih) kitab talkhish, maka mereka menulis kitab dengan bahasa yang panjang lebar dengan adanya pembagian-pembagian, penggolongan-penggolongan, penolakan-penolakan, dan bantahan-bantahan yang semua itu menggunakan gaya Bahasa ahli filsafat dan ahli perdebatan. Orang yang berpengetahuan yang luas akan mengira bahwa itu bukan sebagai balaghoh akan tetapi mereka menganggapnya seperti kitab-kitab ilmu mantiq dan ilmu kalam. Karena kitab-kitab tersebut di dalamnya ada tambahan-tambahan yang tidak memiliki faidah dan hal-hal yang rumit, penyimpangan yang jauh seperti jasad yang pucat yang tidak memiliki ruh dan air di dalamnya.
Tidaklah permisalan balaghoh di dalam kitab-kitab yang panjang tadi kecuali seperti wanita cantik yang ditutupi sehingga kecantikannya hilang atau tidak terlihat, dan dia bekerja keras sampe hilang kehormatannya sebagai perempuan, dan dibebani dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengannya. Dengan perumpamaan demikian, bahwasanya balaghoh itu adalah perasaan yang di penuhi dengan tabiat yang murni maka dia tidak akan menguasai ilmu balaghoh sepenuhnya melainkan dengan melakukan tatabbu’ atau pengembangan karakter yang hilang darinya. Dan usahanya untuk mewujudkan keaslian ilmu ini dengan kemahiran dan keterampilan. Dan pencapaian itu memungkinkan bisa di dapat di setiap cabang ilmu, tidak ada yang ingin melakukan tathobbu’ melain kan dengan memiliki asal karakter yang bagus baik sedikit maupun banyak. Karna siapa saja yang memiliki mata pasti ada kemungkinan untuk di palingkan oleh kecendrungan cinta dan pengaguman.
II
Ilmu balaghoh bisa membantu di dalam memahami Bahasa Arab, sejak dulu setiap bahasa yang ada Allah ajarkan penjelasannya seperti halnya Al Qur’an, dan setiap yang memiliki perasaan yang baik itu akan terguncang jiwanya dan tersentuh perasaannya ketika membaca dan mendengarkan setiap perkataan yang berkesan. Dan manusia selalu saling memuji satu sama lain dengan kepasihannya, perkataan bagus dan benar, dan dahulu orang arab memiliki sarana untuk saling berbangga-bangga, saling memuji di dalam kepandaian berbicara yang bagus dengan ungkapan berupa syi’ir ataupun prosa.
Al Qur’an dan al bayan turun itu adalah awal para penyair merasa tersaingi dengan keindahan balaghoh didalam Al Qur’an kemudian mereka para pidato yang hebat berusaha menyainginya sebagaimana yang di katakana oleh seorang penyair tentang mereka:

يرمون بالخطب الطوال وتارة ** وحي الملاحظ خيفة الرقباء
“Mereka menyampaikan khutbah yang panjang, ketika itu turun wahyu (Al Qur’an) yang membuat orang-orang yang keras kepala itu ketakutan”
Dan bagi jahizh dan selainnya terdapat berbagai macam berita yang cepat tersebar luas tentang kemahirannya di dalam bertutur kata yang pasih dan juga kehebatnnya dalam menyampaikan. Dan ini mengenai kisah ziyad bin abihi yang menyampaikan khutbahnya di depan muawiyah dari waktu dhuha sampai waktu dzuhur dengan khutbah yang lancar tidak gugup dan berdekhem. Ketika datang waktu sholat muawiyah berkata ” waktu sholat telah tiba, waktu sholat telah tiba ” maka ziyad berkata ” Bukan kah kita masih berada di dalam bertasbih, bertahmid, bertamjid, berta’zhim, bertaqdis,….” Dan dia menyebutkan lebih banyak dari itu sampe muawiyah berkata ” Engkau adalah orang yang palimg mahir dalam berkhutbah di antara orang arab bahkan paling mahir diantara manusia dan jin.
Dan dulu wasil bin ‘atho al ghozzal -dia adalah salah seorang pimpinan paham mu’tazilah- Dimana wasil ini dikenal karena kepasihannya dalam berbicara dan juga terkenal karna kecerdasannya akan tetapi dia kesulitan didalam melafalkan huruf ro’ maka wasil selalu menghindari huruf ro’ di dalam ucapannya. Maka setiap kata yang mengandung ro’ disitu wasil dapan selalu menggantinya dengan kata lain yang tidak mengandung huruf ro’ seperti dia mengganti kata
الأرض) ) dengan
(البسيطة), (القريب) dengan
(الدني), البر)) dengan
(القمح), الحمار dengan
أبو زياد, السراب dengan
الآل dan
المطر dengan
الغيث. Dan dengan demikian seorang penyair berkata tentangnya:

ويبدل البر قمحا في تصرفه ** وغيّر الراء حتى احتال في الشعر

ولم يطق مطرا والقول يعجله ** فعاذ بالغيث إشفاقا من المطر
” Dan dia mengganti kata Al burru dengan kata al qomhu di dalam perubahannaya, dan dia mengubah huruf ro’ sampe bisa mengelabui di dalam sya’irnya, dan dia tidak mengucapkan kata mathor melainkan di ganti dengan kata al goitsu untuk menghindari kata mator ”
Setelah berlalunya hari dimana ziyad semakin dikenal oleh banyak orang karna kecadelannya didalam mengucapkan huruf ro’ maka orang-orang ingin mengolok-ngolok kecadelannya, mereka berkata kepadanya ” bagaimana kamu mengatakan kalimat
جر رمحه, ركب فرسه, أمر الأمير بحفر بئر على قارعة الطريق؟ maka seketika ziyad menjawab
” سحب ذابله , امتطى جواده, أوجب الخليفة نقب قليب على الجادة.
Bahasa Arab dan khazanhnya yang banyak, dia bisa menyesuaikan hal tersebut karna kecerdasan dan kemahirannya dalam penerapan gaya-gaya bahasa dan keterampilannya di dalam menghafal kosakata Bahasa arab.
III
Seandainya para penuntut ilmu dikalangan kita mengetahui apa yang akan mereka dapatkan dari ilmu balaghoh ini maka akan mendapat kecerdasan, ketekunan, sastra, keindahan dan kecantikan. Kalaulah mengetahi hal tersebut maka para penuntut ilmu akan mengagungkan ilmu ini dengan hak keagungannya dan juga akan mencintai dengan sebenar benarnya cinta dan mereka akan mengenakan pakaian keindahan dan keagungan. Itulah yang menjadi perhiasan mereka yang mengetahui hakikat ilmu balaghoh akan tetapi justru mereka memiliki urusan yang lain dan mereka menjadikan Al Qur’an itu seprti yang di tinggalkan karna ketidak tahuan kepada ilmu tersebut.
Jika penuntut ilmu menyadari hal ini didalam berkhutbah atau di dalam memberikan nasihat-nasihat di atas mimbar-mimbar jum’ah atau selainnya dan mengetahui rukun ilmu balaghoh maka engkau akan menemukan khutbah yang tidak memiliki bobot dan mereka tidak memperhatikan baiknya bentuk struktur kata yang mereka ucapkan. Jika engkau dapati seorang khotib menghadap secarik kertas yang mereka ambil dari suatu kitab atau dari hp kemudian khotib itu menyampaikan dan membacakannya. Kemudian dia itu tidak dapat menyampaikan inti atau hal penting dari khutbah tersebut dan hatinya juga tidak menghayati apa yang dia sampaikan. Kemudian Ketika engkau melihat mereka yang terburu-buru dalam perkara yang mereka belum pada tingkatan itu seperti berdiri di mimbar, sehingga dia tidak bisa menyampaikan kalam tersebut dengan baik.
Sesungguhnya keagungan dari ilmu ini adalah dapat menyingkap keapasihan Al Qur’an, kebalagohannya, kemudian dari segi keajaibannya atau mukzijatnya. Dengan memahami ilmu balaghoh kita juga dapat memahami pasihnya orang yang di anugrahkan jawamiul kalam yaitu Rosulullah SAW. Dan juga dapat menyingkap gaya Bahasa dari para penya’ir dan para pemilik lidah yang pasih, kemudian mengetahui ketinggian kalam atau kerendahannya, kebagusan atau kejeleknya. maka ilmu ini cukuplah bagimu sebagai sebuah kemulyaan.
Penulis : Ustadz Sihabudin (Admin Program Online Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger