Aqidah

Mengenal Syi’ah dan Penyimpangannya

Mempelajari berbagai pemikiran yang berkembang di dalam sejarah Islam merupakan hal penting bagi setiap muslim. Salah satu kelompok yang memiliki perbedaan mendasar dengan mayoritas umat Islam adalah Syi’ah. Memahami hakikat dan poin penyimpangan mereka bertujuan untuk menjaga kemurnian akidah kita agar tetap selaras dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Asal-Usul Kemunculan Kelompok Syi’ah

Secara bahasa, kata Syi’ah memiliki arti pengikut, pembela, atau kelompok yang fanatik kepada seseorang. Sedangkan menurut istilah syariat, Syi’ah merujuk pada kelompok yang mengklaim sebagai pengikut fanatik Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Mereka meyakini bahwa Ali dan keturunannya lebih berhak memegang tampuk kekhalifahan setelah Rasulullah ﷺ wafat.

Benih gerakan ini muncul ke permukaan akibat fitnah politik yang terjadi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’ menyebarkan paham ekstrem secara rahasia untuk memecah belah persatuan kaum muslimin. Seiring berjalannya waktu, gerakan politik ini berubah menjadi sebuah sekte akidah yang memiliki banyak keyakinan baru.

Penyimpangan Utama Syi’ah dalam Urusan Akidah

Kelompok Syi’ah memiliki beberapa doktrin utama yang bertentangan secara nyata dengan prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Salah satu penyimpangan yang paling mendasar adalah pengkultusan berlebihan terhadap para imam mereka. Mereka meyakini bahwa para imam memiliki sifat ma’shum atau suci dari segala bentuk dosa dan kesalahan.

Selain itu, kelompok Rafidhah—salah satu sekte terbesar Syi’ah—memiliki keyakinan yang sangat buruk terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Mereka mencela bahkan mengafirkan sebagian besar sahabat utama, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab رضي الله عنهما. Padahal, Allah ﷻ telah memberikan jaminan keridhaan-Nya kepada para sahabat dalam Al-Qur’an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. (QS. At-Taubah: 100)

Kedudukan Para Sahabat Menurut Sunnah yang Shahih

Rasulullah ﷺ melarang keras umatnya untuk mencaci maki para sahabat yang telah berjuang mengorbankan harta dan jiwa demi Islam. Kedudukan mereka di sisi Allah ﷻ sangatlah mulia karena mereka mengawal dakwah Nabi ﷺ dengan penuh kesetiaan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda memberikan peringatan:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka dan tidak pula separuhnya. (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540, Abu Sa’id Al-Khudri menyampaikan larangan tegas ini agar umat menghormati para sahabat).

Melalui hadits ini, kita memahami bahwa mencela para sahabat merupakan tindakan yang sangat berbahaya bagi keselamatan iman seseorang. Tindakan tersebut secara tidak langsung meragukan validitas ajaran Islam yang bersumber dari periwayatan mereka.

Kesimpulan dan Langkah Membentengi Diri

Mengenal penyimpangan kelompok Syi’ah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memegang teguh manhaj para sahabat Nabi رضي الله عنهم. Kita wajib menjauhi pemikiran yang merusak pilar akidah serta melecehkan kesucian keluarga dan sahabat Rasulullah ﷺ. Tuntutlah ilmu agama yang bersumber dari guru yang tepercaya agar kita terhindar dari syubhat yang menyesatkan.

Akhirnya, mari kita senantiasa berdoa agar Allah ﷻ menjaga hati kita di atas jalan kebenaran Islam yang murni. Semoga Allah ﷻ mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang mulia di surga-Nya kelak. Keberhasilan hakiki hanya akan kita raih dengan mengikuti sunnah dan petunjuk Salafus Shalih secara istiqamah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger