Hakikat Tujuan Pendidikan Islam

Bagikan artikel ini :

Hakikat Tujuan Pendidikan Islam adalah mencapai kebahagian dan keselamatan di dunia dan akhirat. Karena secara umum mencapai kebahagian dan keselamatan adalah keinginan semua manusia Seseorang menempuh Pendidikan atau di sekolahkan oleh orang tuanya karena berharap supaya mencapai kebahagian dan keselamatan di masa depannya.  Bahagia dengan ilmunya dan selamat dari kebodohan.

Begitupun secara khusus kita sebagai umat islam menempuh Pendidikan islam supaya dapat Bahagia dan selamat bukan hanya di dunia saja akan tetapi di akhirat juga. Hal ini berbeda dengan mereka yang tidak percaya akan kehidupan selepas kematian, tidak percaya akan adanya hari kiamat, hari kebangkitan, hari hisab, surga dan neraka.

Sebagai umat islam kita berkeyakinan akan adanya surga yang terdapat berbagai macam kenikmatan, bidadari, taman, sungai air susu, khamr, buah-buahan, dipan-dipan dan lain sebaginya (semoga allah mengumpulkan kita disana) dan percaya akan adanya neraka yang penuh dengan penderitaan, kesengsaraan, airnya dari darah dan nanah, sangat panas, membakar kulit hingga menjadi debu kemudian dibangkitkan Kembali supaya merasakan kepediahan yang berlipat (naudzubillahi min dzalik). Dengan hal itu tentu kita berharap masuk surga dan ingin merasakan kebahagian di dalamnya serta berharap selamat dari siksa api neraka.

Tujuan Pendidikan islam ini bisa kita lihat dalilnya dari al-quran surah albaqarah ayat 201

وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Terjemah Arti: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Menurut Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I dalam tafsirnya mengatakan Kebaikan di dunia misalnya sehat wal ‘afiyat, rezeki yang halal, istri dan anak yang shalih, ilmu yang bermanfa’at, amal shalih dan kenikmatan lainnya. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah selamat dari siksa kubur, selamat ketika di mahsyar, selamat dari neraka, memperoleh keridhaan Allah, masuk ke dalam surga dan dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Do’a ini adalah do’a yang paling luas cakupannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdo’a dengan do’a ini, dan do’a inilah yang patut dipanjatkan oleh seorang muslim.[1]

Kemudian pada surah al-Qashash ayat 77

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Jika kita melihat tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di beliau mengatakan tentang ayat tadi “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.” Maksudnya memperoleh sesuatu yang ada di sisi Allah dan bersedekahlah; dan jangan sekali-kali kamu merasa cukup dengan hanya sekedar memperoleh kepuasan nafsu dan meraih berbagai kelezatan, “dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi.” Maksudnya, Kami tidak memerintahmu agar menyedekahkan seluruh harta kekayaanmu sehingga engkau menjadi terlantar, akan tetapi berinfaklah untuk akhiratmu dan bersenang-senanglah dengan harta duniamu dengan tidak merusak agamamu dan tidak pula membahayakan akhiratmu, “dan berbuat baiklah,” kepada hamba-hamba Allah, “sebagaimana Allah telah berbuat baik” kepadamu dengan menganugerahimu harta kekayaan ini, “dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi,” dengan bersikap sombong dan berbuat berbagai maksiat terhadap Allah serta tenggelam di dalam kenikmatan dengan melupakan Pemberi nikmat itu. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Bahkan Allah akan menyiksa mereka atas perbuatan itu dengan siksaan yang paling berat.[2]

Dari dua ayat tersebut dan dua tokoh mufasir tersebut dapat kita simpulkan bahwa hakikat tujuan Pendidikan Agama Islam adalah menempuh jalan-jalan kebahagian di dunia dan akhirat kelak.

Menurut Ahli

menurut Didin Hafidhuddin, Tujuan pendidikan Islam paling tidak mencakup tujuh aspek, di antaranya adalah sebagai berikut;

1) untuk menyadarkan manusia sebagai hamba Allah (ta‟abbud) secara totalitas,

2) manusia sebagai khalifatullah (penguasa-penguasa di bumi),

3) sebagai makhluk yang sangat mulia dan sempurna dibandingkan makhlukmakhluk lain yang telah Allah Swt ciptakan,

4) supaya mampu melaksanakan amanah-amanah Allah Swt,

5) supaya mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sebagai bentuk syukur kepada Allah atas apa yang telah dianugerahkan kepadanya,

6) sebagai makhluk sosial agar manusia bertanggung jawab pada

lingkungan (manusia dan alam semesta),

7) agar memiliki kemampuan beramal secara optimal dan ihsan alam kehidupannya[3]

Kalau kita lihat pendapat beliau lebih menitikberatkan kepada hak dan kewajiban manusia sebagai hamba Allah yang diantara tugasnya mengetahui hubungan ia kepada Allah dan Hubungan Ia kepada manusia. Sebagaimana firman Allah

ضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٖ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَسۡكَنَةُۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ يَكۡفُرُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقۡتُلُونَ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ

Artinya : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

[1] Referensi: https://tafsirweb.com/727-surat-al-baqarah-ayat-201.html diakses pada tanggal 22 oktober 2021

[2] Referensi: https://tafsirweb.com/727-surat-al-baqarah-ayat-201.html diakses pada tanggal 22 oktober 2021

[3] Didin Hafidhuddin, Tafsir Hadits Pendidikan, dalam Silabus Doktor Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, disampaikan pada tanggal 19 Desember 2009, 9-10.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Advertisment ad adsense adlogger