Etika Terhadap Diri Sendiri (1)

Bagikan artikel ini :

Part 1

Adab Ma’a Nafsi; maksudnya sebagai panduan bagi kita dalam memanage (mengatur) diri kita sendiri agar menjadi orang yang selamat dunia dan akhirat, menjadi orang yang produktif, berguna bagi keluarga dan yang lain. Segala aktivitas kita sehari-hari menjadi amal ibadah serta kita dapat menyelamatkan diri kita, keluarga dan orang lain. Sikap ini tentu saja sangat penting demi kemajuan, keberhasilan dan kebahagiaan yang kita dambakan.

Ada tiga upaya yang harus kita perhatikan, yaitu;

  1. Muroqobah (Pengawasan)
  2. Muhasabah (Introspeksi Diri)
  3. Mujahadah (Kesungguhan Untuk Mencapai Cita-cita)

 

  1. Muroqobah (Pengawasan)

Muroqobah ialah kesadaran dan keyakinan diri bahwa segala gerak-gerik dan aktifitas kita pasti diketahui oleh Allah. Tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan-Nya, apakah itu amal baik, atau amal jahat. Bahkan Allah bukan saja mengetahui hal yang bersifat lahiriah semata, termasuk apa yang masih terpendam dalam hati kita Allah sudah mengetahuinya.

Dengan kesadaran muroqobah yang kuat kita tidak akan begitu berani berbuat kesalahan dan pelanggaran karena kita yakin semua itu akan dicatat oleh-Nya melalui malaikat Roqib dan ‘Atid dan sekaligus akan dipertanggung jawabkan dihari kiamat kelak. Inilah beberapa ayat al-Qur’an dan Hadits yang berhubungan dengan muroqobah;


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴿1﴾

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS. an-Nisa: 1)


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ﴿16﴾ اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ ﴿17﴾ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ﴿18﴾

 

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qof: 16-18)


اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ ﴿14﴾

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)? (QS al-‘Alaq: 14)


اَيَحْسَبُ اَنْ لَّمْ يَرَهٗٓ اَحَدٌۗ ﴿7﴾

Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya? (QS. al-Balad: 7)


…… وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوْهُ ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ ࣖ ﴿235﴾

……Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. (QS. al-Baqoroh: 235)

 

Hadits-Hadits:

وَقَدْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ حِيْنَ سَأَلَهُ جِبْرِيْلُ عَنِ الْإِحْسَانِ, قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ (رواه مسلم)

Dan sungguh Rasulullah ﷺ telah menjawab ketika malaikat Jibril bertanya kepadanya tentang ihsan; Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ دِيْنَارٍ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَى مَكَّةَ فَعَرَّسْنَا بِبَعْضِ الطَّرِيْقِ فَانْحَدَرَ عَلَيْنَا رَاعٍ مِنَ الْجَبَلِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَاعِى بِعْنَا شَاةً مِنْ هَذِهِ الْغَنَمِ, فَقَالَ الرَّاعِى: إِنَّهُ مَمْلُوْكٌ, فَقَالَ لَهٌ عُمَرُ: قُلْ لِسَيِّدِكَ أَكَلَهَا الذِّئْبُ, فَقَالَ الْعَبْدُ: أَيْنَ اللهُ؟ فَبَكَى عُمَرُ وَغَدَا عَلَى سَيِّدِ الرَّاعِى فَاشْتَرَاهُ مِنْهُ وَأَعْنَقَهُ (منهاج المسلم ص: 78)

‘Abdullah bi Dinar berkata: “Aku keluar Bersama ‘Umar bin Khatab menuju Makkah, lalu kami beristirahat sebentar disalah satu jalan, maka turunlah seorang penggembala dari gunung (lewat) dihadapan kami, maka ‘Umar berkata kepadanya: Hai penggembala! Jual lah kepada kami seekor kambing dari kambing-kambing ini! Pengembala itu berkata bahwa sesungguhnya ia itu seorang hamba sahaya. ‘Umar pun berkata kepadanya: Katakanlah kepada majkanmu bahwa serigala telah memakannya. Ia berkata: Jika demikian, dimanakah allah? Maka ‘Umar menangis dan ia menemui majikan pengembala itu, makai a membelinya dan memerdekakannya”. (Minhajul Muslim: 78)

وَقَالَ بَعْضُ الْمَشَايِخِ لِتَلَامِيْذِهَ: لِيَذْبَحْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْكُمْ طَائِرَةً فِي مَوْضِعٍ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ وَدَفَعَ إِلَى الشَّبَابِ مِثْلَ ذَلِكَ, وَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ لَهُمْ. فَرَجَعَ كُلُّ وَاحِدٍ بِطَائِرَةٍ مَذْبُوْحًا وَرَجَعَ الشَّبَابُ وَالطَّائِرُ حَيٌّ فِي يَدِهِ, فَقَالَ: مَا لَكَ لَمْ تَذْبَحْ كَمَا ذَبَحَ أَصْحَابُكَ؟ فَقَالَ: لَمْ أَجِدْ مَوْضِعًا لَا يَرَانِي فِيْهِ أَحَدٌ إِذِ اللهُ مُطَلِّعٌ عَلَيَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ (إحياء علوم الدين 397:4)

Dan berkata seorang guru kepada murid-muridnya: “setiap seorang diantara kalian agar menyembelih burungnya ditempat yang tidak bisa dilihatoleh seorang pun, dan ia menyampaikan kepada seorang pemuda seperti demikian dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada mereka. Maka pulanglah masing-masing membawa burung yang telah disembelih dan pemuda itu pun pulang dengan membawa burung yang masih hidup ditangannya, makai a (guru-guru) berkata: Kenapa kamu tidak menyembelih sebagaimana teman-temanmu menyembelihnya? Ia menjawab: Aku tidak mendapatkan tempat dimana aku tidak dapat dilihat oleh seorangan pun, Karena Allah selalu melihatku disetiap tempat. (Ihya’ ‘Ulumud Din, 4:397)

وَقَالَ ابْنُ عَطَاءٍ: أفْضَلُ الطَّاعَاتِ مُرَاقَبَةُ الْحَقَّ عَلَى دَوَامِ الْأَوْقَاتِ (إحياء علوم الدين)

Ibnu ‘Atha berkata: “Seutama-utamanya ta’at adalah merasa diawasi oleh Allah pada setiap waktu”. (Ihya’ ‘Ulumud Din)

وَقَالَ الْمُرْتَعِشْ: اَلْمُرَاقَبَةُ مُرَاعَةُ السِّرِّ بِمُلَاحَظَةِ الْغَيْبِ مَعَ كُلِّ لَحْظَةٍ وَلَفْظَةٍ  (إحياء علوم الدين)

Al-Murta’syi berkata: “Muroqobah itu menjaga hati dengan senantias merasa diperhatikan Allah dalam setiap langkah dan kata”. (Ihya’ ‘Ulumud Din)

وَقَالَ أَبُوْ عُثْمَانَ: قَالَ لِى أَبُوْ حَفْصٍ: إِذَا جَلَسْتَ لِلنَّاسِ فَكُنْ وَاعِظًا لِنَفْسِكَ وَقَلْبَكَ وَلَا يَغُرَّنَّكَ إِجْتِمَاعُهُمْ عَلَيْكَ فَإِنَّهُمْ يُرَاقِبُوْنَ ظَاهِرَكَ وَاللهُ رَقِيْبٌ عَلَى بَاطِنِكَ  (إحياء علوم الدين)

Abu ‘Utsman berkata: Abu Hafs berkata kepadaku: Apabila kamu duduk dengan orang banyak maka jadilah kamu pemberi nasihat bagi diri dan hatimu sendiri dan janganlah perkumpulan mereka menipumu. Maka sesungguhnya mereka hanya melihat zhahirmu sedangkan Allah mengetahui (lahir) dan bathinmu. (Ihya’ ‘Ulumud Din)

 

 

Inilah diantara etika seorang muslim terhadap dirinya sendiri. Mudah-mudahan bermanfa’at. Nantikan artikel part 2 nya pekan depan dengan melanjutkan tema yang kedua yaitu “Muhasabah“.

 

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger