Etika Berdo’a Seorang Muslim (1)

Bagikan artikel ini :

Part 1

Manusia tidak akan terlepas dari lika-liku kehidupan. Terkadang Bahagia, terkadang sedih. Ada kalanya masa sukses, ada juga masa gagal. Suatu waktu mengalami kemudahan, diwaktu lain berurusan dengan kesulitan. Setiap orang pasti akan mengalami romantika kehindupan. Baik dikala susah atau senang, tabi’at manusia cenderung untuk berbagi dengan sesama tentang kehidupannya. Satu sama lain saling membutuhkan dan melengkapi. Khusus ketika mengalami kesedihan, manusia sangat membutuhkan bantuan orang lain untuk mengatasi kesulitan hidupnya, walaupun tidak setiap orang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap yang lain. Bahkan terkadang permohonan kita tidak didengar atau langsung ditolak seketika.

Dalam hal ini, Allah selaku kholiq/pencipta membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima keluh kesah hamba-Nya, bahkan Allah akan murka kepada hamba-Nya yang tidak pernah berdo’a  atau berdo’a selain kepada Allah. Berbeda dengan watak manusia, cepat marah ketika sering diminta bantuan.

Ketika berdo’a kepada Allah, terdapat beberapa etika yang harus diperhatikan sebagaimana dalam keterangan dibawah ini;

 

  1. Berdo’alah dengan suara yang lembut dan merendahkan diri


اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ﴿55﴾

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-A’raf: 55)

 


وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ ﴿205﴾

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.  (QS. al-A’raf: 205)

 

  1. Jangan hanya berdo’a disaat susah saja


وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖٓ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَاۤىِٕمًا ۚفَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَآ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗۗ  كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ﴿12﴾

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus: 12)

 

  1. Janganlah berdo’a disertai dengan menyekutukan sesuatu kepada Allah


وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ  لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ  ﴿88﴾

Dan jangan (pula) engkau berdo’a disamping (berdo’a) kepada Allah (berdo’a pula) kepada sembahan yang lain. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. (QS. al-Qashash: 88)

 

  1. Berdo’alah dengan penuh keyakinan


وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ﴿186﴾

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS al-Baqarah: 186)

 

  1. Berdoa dengan penuh rasa harap


وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ﴿٥٦﴾

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan (QS. al-A’raf: 56)

 

Inilah diantara etika seorang muslim dalam berdo’a yang terdapat dalam al-Qur’an. Mudah-mudahan bermanfa’at. Nantikan artikel part 2 nya pekan depan dengan tema yang sama namun dalil-dalilnya akan diambil dari al-Hadits.

 

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger