Bagaimana Menyikapi Anak Indigo

Bagikan artikel ini :

Belakangan ini banyak terjadi musibah yang luar biasa dahsyat dan setiap musibah yang menimpa kita selalu di hubung-hungkan dengan ramalan dukun, orang pintar, para normal, bahkan seorang yang mengidap penyakit indigo. Sehingga menurut saya perlu untuk dibahas tentang ap aitu indigo, ilmu gaib, dan bagaimana seorang muslim menyikapi hal ini.

 

INDIGO MENURUT PARA AHLI

  1. Menurut Fajarina bahwa kata indigo berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila yang merupakan warna ungu kebiruan, sehingga dijelaskan bahwa orang indigo memiliki aura kombinasi dari warna biru dan ungu. Pendapat dari Fajarina ini menguraikan pengertian yang menekankan pada asal usul istilah dari kata indogo itu sendiri yang berarti warna ungu kebiruan.
  2. Berdasarkan pendapat Carroll dan Tober, (2006: 7) mengemukakan anak indigo yang memiliki warna aura nila dianugerahi berbagai kelebihan serta kemampuan yang berbeda dibanding pada anak-anak seusianya, diantaranya pengalaman spiritualitas yang tinggi, Extra Sensori Perception (ESP), dan rasional. Dari pendapat Carrol dan Toper tersebut lebih menitikberatkan pada kemampuan yang dimiliki anak indigo, yakni memiliki kemampuan unik dibanding dengan anak seusianya yang diantaranya sudah diuraikan sebelumnya.
  3. Pengertian selanjutnya menurut Virtue (2001: 85), menjelaskan bahwa anak dengan indigo sensitif pada situasi, maupun orang-orang yang berada di areanya. Pengertian menurut Virtue menekankan pada kelebihan yang dimiliki anak tersebut.
  4. Pengertian Indigo menurut Syuropati (2014: 13), yakni seseorang yang mempunyai kemampuan psikis yang unggul dibandingkan anak normal seusianya, yang dikarenakan orang tersebut memiliki kekhawatiran maupun tingkat stress yang lebih rendah dari pada orang pada umumnya.

 

Dari pengertian tersebut banyak yang menyimpulkan bahwa indigo adalah kelebihan yang dimiliki oleh seorang seorang anak. Namun pada hakikatnya ini adalah penyakit. Karena seorang anak indigo hakikatnya telah menyelisihi fitrah seorang manusia pada umumnya, terlebih lagi pada saat seorang anak indigo mengaku mengetahui hal-hal yang gaib maka disinilah perlunya kita meninjau dari sudut pandang agama agar kita tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak ridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Seperti yang di sampaikan oleh Imam Sya-fi’i:

إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة

Artinya : Apabila kita melihat sesorang yang bisa berjalan diatas air dan terbang di udara, maka janganlah kita tertibu sampai kita merujuknya kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Dalam penyartaan ini imam Asy-fi’i ingin menjelaskan kepada kita bagaimana cara menyikapi seseorang yang telah keluar dari batas kemampuan manusia pada umumnya.

 

INDIGO DAN ILMU GAIB

Ilmu gaib adalah pengetahuan atas apa yang tidak bisa di jangkau oleh panca indra manusia sedangkan anak indigo suka mengaku mengetahui perkara-perkara yang ghaib seperti masa depan. Dan menurut islam ilmu gaib itu hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala seperti firman Allah Ta’ala dalam surat  An-Naml ayat 65 :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya : katakanlah (Muhammad) tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.

Dalam ayat ini kita bisa mengetahui bahwa hakikatnya ilmu gaib itu mutlak hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala.

Al-imam Al-Baidhowi dalam tafsirnya Anwaru Tanzil wa Asroru Ta’wil mengatakatan bahwa, pengetahuan tentang ilmu gaib itu adalah ke khususan Allah Ta’ala dan segala kuasanya. Al-imam juga mengatakan :

وهو التفرد بعلم الغيب والاستثناء منقطع، ورفع المستثنى على اللغة التميمية للدلالة على أنه تعالى إن كان ممن في السموات والأرض ففيها من يعلم الغيب مبالغة في نفيه عنهم

Ilmu gaib adalah ke khususan Allah Subhanahu Wata’ala dan pengecualian dalam ayat ini adalah munqoti’ artinya hanya allah sajalah yang mengetahui ilmu gaib. Dan harokat dhomma pada lafadz Allah adalah penegasan untuk melarang semua yang ada di langit dan di bumi masuk pada hal ini.

Dalam ayat yang Allah Subhanahu Wata’ala memberikan pengecualian kepada para nabi dan juga rasul. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-jin ayat 26 – 27 :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا * إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Artinya :

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu * Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Allah memberikan sedikit tentang ilmu gaib kepada siapa yang di ridhainya dari kalangan rasul. Namun sesuai dengan kebutuhan mereka dan tidak dibukakan secara Mutlaq, melainkan sesuai kebutuhan yang dibutuhkan oleh para rasul di medan dakwah.

Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 49 :

وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِى بُيُوتِكُمْ

Artinya :

Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa nabi isa alaihi salam mengetahui perkara yang ghaib dan itu untuk menunjang dakwa beliau alaihi salam. Bahkan di ayat yang lain Allah ta’ala menegaskan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pun tidak mengetahui ilmu ghaib kecuali setelah di wahyukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Allah berfirman dalam surat  Al-An’am ayat 50 :

وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ

Artinya :

Dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.

Kalua saja Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam  tidak mengetahui perkara yang ghaib maka dari mana seorang anak indigo bisa mengetahui perkara yang ghaib kalua bukan dari bisikan syetan atau jin.

Kesimpulannya indigo adalah penyakit yang di sebabkan oleh gangguan jin dan semua informasi yang didapat semuanya berasal dari jin. Maka tidak pantas bagi seorang muslim untuk mempercayai-nya apalagi sampai mengagungkannya. Karena seorang muslim wajib mengimani bahwa perkara-perkara ghaib itu hanya milik Allah Ta’ala semata dan itu adalah ke-khususan Allah Jalla wa ‘Ala.

Penulis : Ustadz Faisal Alhabsyi (Bidang Kurikulum dan Akademik Pesantren MAQI)

 

 

 

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger