Qadariyyah
Mengenal prinsip-prinsip akidah yang lurus menuntut kita untuk memahami berbagai pemikiran yang menyimpang dari Sunnah. Salah satu kelompok yang membawa pemahaman keliru dalam sejarah Islam adalah Qadariyyah. Pemahaman ini berkaitan langsung dengan takdir Allah ﷻ yang merupakan salah satu rukun iman.
Pengertian dan Latar Belakang Kelompok Qadariyyah
Secara istilah, Qadariyyah adalah kelompok yang menolak takdir Allah ﷻ dan menganggap bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara mandiri. Mereka meyakini bahwa Allah ﷻ tidak mengetahui perbuatan manusia sebelum perbuatan itu terjadi. Sifat penolakan terhadap takdir ini menjadi pemicu utama penamaan kelompok tersebut dalam sejarah Islam.
Benih gerakan ini pertama kali muncul pada akhir masa sahabat Nabi ﷺ di Basrah. Tokoh awal penyebar pemikiran ini adalah Ma’bad Al-Juhani dan Ghailan Ad-Dimasyqi. Para sahabat yang masih hidup pada masa itu secara tegas membebaskan diri dari pemikiran mereka.
Penyimpangan Utama Qadariyyah dalam Masalah Takdir
Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas ilmu, penulisan, kehendak, dan penciptaan Allah ﷻ. Sebaliknya, kaum Qadariyyah mengingkari sebagian atau seluruh tingkatan takdir tersebut. Mereka mengklaim bahwa kehendak manusia berdiri sendiri tanpa ada campur tangan dari kehendak Sang Pencipta.
Tentu saja, klaim ini sangat bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kehendak manusia tetap berada di bawah kehendak Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (akan jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir: 29)
Sikap Para Sahabat Terhadap Kelompok Qadariyyah
Para sahabat Nabi رضي الله عنهم berdiri tegak membendung paham ini agar tidak merusak akidah masyarakat. Ketika berita tentang pemikiran Qadariyyah sampai kepada Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, beliau memberikan pernyataan yang sangat keras. Beliau menegaskan bahwa amal ibadah seseorang tidak akan diterima sampai ia mengimani takdir dengan benar.
Selanjutnya, bukti dari penegasan tersebut dapat kita lihat dalam riwayat hadits yang shahih. Dari Yahya bin Ya’mar, ia menceritakan perkataan Abdullah bin Umar رضي الله عنهما ketika mendengar tentang pemikiran Ma’bad Al-Juhani:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
Jika engkau bertemu dengan mereka, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu menginfakkannya, Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir. (HR. Muslim no. 8, Yahya bin Ya’mar meriwayatkan sikap tegas Ibnu Umar terhadap penolak takdir).
Kesimpulan
Memahami bahaya paham Qadariyyah menanamkan kesadaran dalam diri kita untuk selalu bersikap moderat. Kita wajib meyakini bahwa manusia memiliki ikhtiar dan kemampuan untuk bertindak, namun seluruh kemampuan tersebut ciptaan Allah ﷻ. Melalui pemahaman yang benar ini, kita terhindar dari kesombongan diri serta penolakan terhadap takdir.
Akhirnya, mari kita senantiasa memohon keteguhan akidah di atas petunjuk Salafus Shalih. Semoga Allah ﷻ menjaga kita dari segala bentuk pemikiran yang menyimpang dan menyesatkan. Keselamatan sejati hanya akan kita raih dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah secara istiqamah.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

