Aqidah

Khawarij dan Sejarahnya

Mempelajari sejarah kelompok yang menyimpang dalam Islam memberikan kita pelajaran berharga untuk menjaga kemurnian akidah. Salah satu kelompok pertama yang muncul dan menimbulkan fitnah besar di tengah umat adalah Khawarij. Kelompok ini memiliki pemikiran ekstrem yang bertentangan dengan prinsip kasih sayang dan kedamaian dalam syariat Islam.

Pengertian dan Benih Awal Kemunculan Khawarij

Secara bahasa, Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar atau memisahkan diri. Sedangkan menurut istilah syariat, Khawarij adalah kelompok yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin kaum muslimin yang sah. Sifat utama mereka adalah mengafirkan pelaku dosa besar serta menghalalkan darah sesama muslim.

Sebenarnya, benih pemikiran Khawarij ini sudah tampak sejak zaman Rasulullah ﷺ masih hidup. Peristiwa ini terjadi ketika seorang pria bernama Dzul Khuwaishirah memprotes pembagian harta rampasan perang oleh Nabi ﷺ. Pria tersebut dengan keliru menganggap bahwa Rasulullah ﷺ tidak berlaku adil.

Melihat tindakan lancang tersebut, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras kepada para sahabat mengenai bahaya keturunan ideologis pria ini. Dari Abu Said Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan muncul suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur tembus dari hewan buruannya. Mereka membunuh penduduk Islam dan membiarkan para penyembah berhala. (HR. Bukhari no. 3344 dan Muslim no. 1064, Abu Said Al-Khudri menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ menjelaskan karakter buruk mereka).

Perkembangan Khawarij sebagai Kelompok Pemberontak

Kelompok ini menjelma menjadi gerakan politik dan militer yang terorganisir pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib rotate رضي الله عنه. Mereka awalnya merupakan bagian dari pasukan Khalifah Ali saat menghadapi perselisihan dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنهما. Namun, mereka menolak keputusan Khalifah Ali yang menerima perdamaian melalui proses tahkim (arbitrase).

Akibat kekecewaan tersebut, sekitar dua belas ribu orang memisahkan diri dan berkumpul di sebuah tempat bernama Harura. Oleh karena itu, sejarah kadang menyebut mereka sebagai kaum Haruriyah. Mereka menyalahgunakan sebuah ayat Al-Qur’an untuk membenarkan tindakan pemberontakan mereka:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (QS. Al-An’am: 57)

Mendengar slogan tersebut, Khalifah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengeluarkan perkataan yang sangat masyhur. Beliau menegaskan bahwa kalimat yang mereka ucapkan adalah kalimat yang benar, namun mereka menggunakannya untuk tujuan yang batil.

Karakteristik Utama Pemikiran Khawarij

Umat Islam perlu mengenali ciri-ciri kaum Khawarij agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda ekstrem mereka di zaman modern. Karakteristik paling menonjol dari mereka adalah semangat ibadah yang sangat tinggi, namun tidak dibarengi dengan pemahaman ilmu yang benar. Mereka membaca Al-Qur’an secara tekstual tanpa merujuk pada penjelasan para sahabat Nabi ﷺ.

Selain itu, mereka sangat mudah memberikan vonis kafir kepada muslim lain yang melakukan dosa seperti berzina atau mencuri. Pemikiran radikal ini secara otomatis membuat mereka merasa legal untuk menumpahkan darah dan merebut harta sesama muslim. Allah ﷻ secara tegas melarang tindakan melampaui batas dalam beragama:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ

Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam beramgama.” (QS. Al-Ma’idah: 77)

Kesimpulan dan Hikmah Sejarah

Sejarah kelam kaum Khawarij memberikan pelajaran berharga bahwa kebaikan niat harus selaras dengan kebenaran manhaj atau metode beragama. Kita tidak boleh mencukupkan diri dengan semangat berislam tanpa mau duduk mempelajari ilmu syar’i dari para ulama yang tepercaya. Dengan demikian, kita akan selamat dari pemikiran ekstrem yang merusak persatuan umat.

Akhirnya, mari kita senantiasa memohon hidayah kepada Allah ﷻ agar menjauhkan kita dari paham radikal maupun liberal. Semoga Allah ﷻ mengaruniakan pemahaman yang wasathiyah (moderat) sesuai dengan tuntunan sunnah yang murni. Keamanan dan kedamaian di dunia serta akhirat hanya akan kita raih dengan mengikuti manhaj salafus shalih secara istiqamah.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger