Fiqih

Cara Meraih Haji Mabrur

Bekal Menuju Surga Allah ﷻ

Mendapatkan predikat haji mabrur merupakan impian terbesar bagi setiap Muslim yang berangkat ke tanah suci. Haji mabrur adalah ibadah haji yang Allah ﷻ terima dan memberikan dampak perubahan positif pada perilaku pelakunya setelah pulang. Oleh sebab itu, setiap calon jamaah harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar perjalanan sucinya tidak sekadar menjadi wisata belaka.


Keutamaan Haji Mabrur

Keutamaan bagi pemilik haji mabrur sangatlah istimewa karena Allah ﷻ menjanjikan balasan yang tidak ada bandingannya, yaitu surga. Selain itu, ibadah haji yang berkualitas juga dapat menghapuskan dosa-dosa masa lalu hingga pelakunya kembali suci laksana bayi yang baru lahir.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan janji Rasulullah ﷺ:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga (HR. Bukhari dan Muslim).


Syarat Utama Meraih Kemabruran

Untuk mencapai derajat mabrur, seorang jamaah harus memperhatikan beberapa landasan utama dalam beribadah. Tanpa landasan yang kuat, maka amalan fisik yang berat selama di Mekkah dan Madinah bisa kehilangan maknanya.

1. Ikhlas dan Harta yang Halal

Seorang jamaah wajib memurnikan niatnya hanya untuk mencari ridha Allah ﷻ, bukan untuk gelar atau pujian manusia. Selain itu, bekal perjalanan harus berasal dari sumber yang halal karena Allah ﷻ itu baik dan hanya menerima yang baik. Pembersihan harta menjadi langkah awal yang paling menentukan sebelum seseorang menginjakkan kaki di Baitullah.

2. Sesuai dengan Sunnah Rasulullah ﷺ

Ibadah haji memerlukan ketelitian dalam mengikuti tata cara yang Nabi ﷺ ajarkan. Maka dari itu, jamaah perlu mempelajari manasik secara mendalam agar tidak terjatuh dalam kesalahan atau perkara bid’ah. Rasulullah ﷺ menekankan agar umatnya mengambil manasik langsung dari contoh yang beliau ﷺ berikan selama haji wada’.


Menjaga Akhlak Selama Beribadah

Kemabruran haji sangat berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam menahan diri dari kemaksiatan dan akhlak buruk. Selama berada di tanah suci, ujian kesabaran akan datang melalui kerumunan massa, cuaca, hingga perbedaan budaya.

Allah ﷻ mengingatkan batasan perilaku ini:

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu hendak mengerjakan haji, maka tidak boleh rafath (mendekati zina), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji (QS. Al-Baqarah: 197).

Selanjutnya, para ulama menjelaskan bahwa ciri haji mabrur terlihat dari kedermawanan dan lisan yang terjaga. Rasulullah ﷺ pernah menyebutkan bahwa memberi makan dan menyebarkan salam termasuk bagian dari kemabruran haji.


Tanda-Tanda Haji Mabrur Setelah Pulang

Meskipun kemabruran adalah rahasia Allah ﷻ, namun kita dapat melihat tanda-tandanya dari perubahan hidup seseorang setelah kembali ke tanah air. Seorang haji yang mabrur biasanya menunjukkan peningkatan kualitas ibadah shalat dan ketaatan lainnya. Ia akan menjadi pribadi yang lebih peduli kepada sesama dan semakin menjauhi kemaksiatan yang dahulu sering ia lakukan.

Singkatnya, haji mabrur merupakan hasil dari perpaduan antara niat yang ikhlas, harta yang suci, dan keteladanan pada sunnah. Semoga Allah ﷻ memudahkan kita semua untuk meraih derajat mulia ini dan mengumpulkan kita di dalam surga-Nya kelak.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger