Sirah

Umar Bin Khattab (3)

 

Secercah Lembaran Putih Kehidupan Umar bin Khattab

  • Apakah Keliling Umar Kau Ikuti?

Berkata Thalhah bin Ubaidillah RA: “Umar keluar pada malam yang gelap lalu masuk ke rumah. Ketika pagi tiba aku pergi ke rumah itu, tiba-tiba ada wanita tua buta yang sedang duduk. Aku tanyakan ia: “Apa gerangan orang yang datang menemuimu itu?” Dia menjawab: Ia menjanjikanku pada satu waktu untuk memberikan solusi, dan melepaskan masalah dariku”. Maka aku berkata dalam hati; rasakan kehilangan ibumu! Apa cuma keliling Umar seperti ini kau ikuti!!

  • Kabarkan berita gembira pada saudaramu akan adanya Anak!

Diriwayatkan dalam kitab Al Bidayah wan Nihayah, dari Aslam berkisah: “Aku keluar pada satu malam bersama Umar sang Amirul Mukminin ke pemukiman Madinah. Lalu di saat menyenandungkan syair, tiba-tiba ada wanita trauma cerai dan mandul yang menangis. Dan bertanyalah Umar tentang kondisinya, lalu ia jawab: ‘Aku wanita terasing dan tak memiliki apapun..’ Lalu Umar kembali berlari ke rumahnya, dan berkata pada Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib istrinya itu: ‘Apakah kau memiliki pahala yang Allah lebihkan untukmu?’ Lalu diceritakahlah tentang wanita ditemui tadi.  Dan Ummu Kultsum mengiyakannya, lalu diangkatkan pada badan suaminya tepung dan lemak daging, dan Ummu Kultsum membawa solusi tentang anak. Lalu masuklah Ummu Kultsum pada wanita tadi, dan Umar duduk disamping suaminya, sedang ia tidak tahu. Lalu mengobrollah mereka, dan Ummu Kultsum menyiapkan anak kecil. Lalu berkata Ummu Kultsum: “Wahai Amirul Mukminin, Kabarkan saudaramu itu akan adanya anak!”. Tatkala laki-lakinya mendengar hal itu, gaduhlah ia. Dan ia meminta izin pada Umar, dan umarpun jawab: ‘Tidaklah mengapa’. Lalu Umarpun memberikan nafkah yang dapat memperbaiki mereka.

  • Istiqamahnya Rakyat merupakan dari Istiqamahnya Pemimpin

Dari Said bin Musayyab bahwa Umar pernah berkata: “Sesungguhnya manusia masih akan istiqamah selama imam-imamnya dan pengarahnya juga istiqamah.”

Oleh karenanya dalam suatu Riwayat dari Jarir bin Abdullah Bajali berkisah: Seseorang bersama Abu Musa Asy’ari dan dia bersuara lantang terhadap musuh. Mereka mendapat harta rampasan perang, dan Abu Musa berikan sebagian sahamnya, tapi ia belum penuhi haknya. Dan orang itu enggan menerima haknya yang terkurangi itu. Maka Abu Musa mencambuknya dan mencukur botak rambutnya.

Kemudian orang itu mengumpulkan rambutnya, lalu ia pergi menghadap Umar di Majelisnya. Dan ia sodorkan rambutnya ke dada Umar. Hia ia berkata: “Demi Allah, kalaulah bukan karena neraka, akan aku perlakukan tuanmu seperti apa yang aku perlakukan”.

Kemudian ia menceritakan apa yang diperbuat Abu Musa. Dan Umarpun menulis pada Abu Musa: “Salam bagimu, amma ba’du; sesungguhnya fulan mengabarkan padauk tentang ini dan itu. Jika engkau lakukan itu di hadapan manusia, aku bersumpah akan aku dudukkan kamu di hadapan manusia hingga kau diqishas. Tapi jika kau lakukan itu di tempat sembunyi, aku perlakukan serupa pula.”

Dan datanglah orang itu dengan surat pada Abu Musa, maka berkatalah orang-orang: ‘Maafilah ia’. Tapi orang itu menjawab: ‘Tidak, demi Allah. Tidak akan kubiarkan seorangpun dari manusia seperti itu’.

Dan tatkala Abu Musa duduk untuk diqishaskan, orang itu mengangkat kepalanya ke langit, dan berkata: “Ya Allah telah aku maafkan ia”.

Begitulah Islam, wallahu a’lam

Penulis : Ustadz M. Ramdhan El-Hakim (Staff Pengajar Pesantren MAQI)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Advertisment ad adsense adlogger