Tidak Dikenal Dibumi Namun Terkenal Dilangit

Bagikan artikel ini :

Tidak Dikenal Dibumi Namun Terkenal Dilangit

 

Siti Regita Nurhaliza [email protected]

Hukum Ekonomi Syariah STEI SEBI Depok.

 

Diceritakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah SAW:

”Sesungguhnya Tabi’in yang terbaik adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih)”. Nama lengkapnya adalah Abu Amru Uwais bin Amir bin Jaza al-Qarni al-Muradi al-Yamani, atau yang biasa dikenal adalah Uwais Al-Qarni. Seorang pemuda asal negri Yaman yang tidak banyak mengenalnya, namun terkenal di Langit. Lalu, apa yang membuatnya biasa begitu terkenal dilangit serta namanya sangat harum bahkan Rasulullah sangat mencintainya, padahal Rasulullah belum pernah bertemu dengan Uwais Al-Qarni.

Uwais Al-Qarni bukan sahabat tapi sahabat meminta doa kepadanya, bukan sahabat tapi Rasulullah memberikan kabar kepada umatnya bahwa Uwais Al-Qarani bisa memberikan syafaat dan membantu orang yang sangat banyak jumlahnya, karena apa? Karena amalannya berbakti kepada orang tuanya. Penduduk dinegaranya selalu pergi ke Madinah dan selalu bercerita bahwa mereka bertemu dengan Rasulullah SAW, Uwais yang mendengar kabar tersebut sangat ingin bertemu dengan Rasulullah SAW, namun ketika meminta izin kepada ibunya, ibunya menjawab,

“jika kau pergi, lantas siapa yang akan merawat ku disini”. Sampai pada akhirnya Rasulullah SAW meninggal namun Uwais tidak dapat bertemu dengan Rasulullah SAW.

Dalam suatu riwayat Uwais pernah berangkat ke Madinah setelah diizinkan oleh ibunya, betapa bahagianya hati uwais, lalu segera bersiap untuk menemui Rasullah SAW. Sesampainya di Madinah Uwais langsung mencari tempat tinggal Rasulullah SAW kemudian diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah Siti Aisyah RA seraya membalas salamnya. Namun, ternyata Nabi sedang tidak berada dirumahnya, beliau sedang didalam medan pertempuran (perang tabuk). Wasiat ibunya pada Uwais “pergilah anakku, temuilah Nabi di rumahnya. Dan apabila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah kembali pulang”.

Baktinya kepada orang tua, telah menjadikan Uwais Al-Qarani bukan sahabat tapi para sahabat meminta doa kepada dirinya. Sampai Rasulullah SAW mewasiatkan kepada Sayyidina Umar bin Khattab, bahwa Uwais Al-Qarani ini akan datang setelah wafatnya Rasulullah SAW kemudian

Rasulullah SAW berkata “Jika engkau bertemu dengan Uwais Al-Qarani mintalah ia untuk beristighfar untukmu, mintalah kepadanya agar Allah mengampunimu, karena doanya diijabah oleh Allah SWT. Hidup Uwais dijadikan oleh Allah SWT untuk beribadah, beliau tidak terkenal dinegaranya yaitu Yaman. Sebagian penduduk Yaman menganggapnya sebagai orang gila, karna Uwais Al-Qarani hidup dalam kemiskinan, cacat dalam badannya terdapat putih-putih, pakaiannya sobek-sobek dan tidak punya apa-apa.

Maka ketika tiba waktunya Uwais datang ke Madinah Sayyidina Umar bin Khattab Teringat dengan sabdanya Rasulullah SAW. Ketika datang rombongan dari negri Yaman, kemudian

Sayyidina Umar bertanya, “apakah ada diantara kalian yang bernama Uwais?”, rombongan itu kemdian menjawab “Uwais siapa yang engkau maksud wahai Amirul Mu’minin? Kami hanya mengenal Uwais salah seorang miskin yang pergi bersama kami yang menjaga unta-unta kami, dia ada di ujung Madinah, sedang mengembala unta-unta kami”. Rombongan ini tidak akan menyangka bahwa seseorang yang dicari Sayyidina Umar adalah Uwais si pengembala Unta. Kemudian Sayyidina Umar meminta untuk diantarkan ke tempat Uwais berada dan mengajak Sayyidina Ali untuk bertemu dengan Uwais Al-Qarani.

Sesampainya ditempat Uwais Al-Qarani, Lalu Sayyidina Umar menceritakan semuanya kepada Uwais.”Saat Rasulullah masih hidup, pernah berpesan kepada saya untuk menemuimu, beliau titip salam kepadamu, bahkan disuruh meminta doa kepadamu”,kata Umar. “Alaikuma wa alaihissalam yaa Habibana Muhammad dan juga untukmu yaa Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali”, jawab Uwais sambil menangis sejadi-jadinya, hampir tak percaya Rasulullah pernah menitipkan salam untuk dirinya.

Lalu Umar lanjut bertanya,”Apakah engkau tidak pernah rindu dan ingin bertemu Rasulullah, padahal kau hidup dimasa Rasulullah,kenapa engkau tidak berusaha menemuinya?”. “Kalau soal rindu, rinduku kepada Rasulullah sudah memuncak tak terbendung, setiap kali ada kafilah lewat yang akan berhaji, yang terjadi padaku selalu adalah tangis derai air mata, dan sedih hati yang tak terperi karena aku tidak bisa ikut serta pergi berhaji sekaligus menemui Rasulullah”, jawab

Uwais. Lalu kenapa engkau tidak berusaha menemui Rasulullah?”, tanya Sayyidina Umar. Ditanya demikian maka makin menangislah Uwais, sambil berkata, “Yaa Khalifah Umar, bagaimana mungkin aku bisa berangkat berhaji lalu menemui Rasulullah, sedang dirumahku masih ada Ibuku yang sudah tua yang harus aku tunggu dan aku rawat”.Maka sungguh terkejutlah kedua khalifah itu, seraya berkata, “yaa Uwais..rupanya inilah rahasiamu, kenapa Rasulullah begitu mengistimewakanmu”. Kedua Khalfah itu baru menyadarinya. “Lalu kenapa engkau hari ini bisa berada disini? lanjut sang Khalifah. Ibuku telah meninggal beberapa bulan yang lalu, makanya ketika ada kabilah lewat menuju Mekah, saya menawarkan diri untuk menggembalakan kambingnya, asal aku bisa ikut serta sampai ke Mekah, dan setelah sampai sini ternyata Rasulullah telah tiada”, lanjut Uwais.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah Uwais Al-Qarani adalah kita harus senantiasa menghormati serta berbakti terhadap orang tua. Ia selalu taat dalam beribadah dan selalu berbuat baik. Sifat sabar dan cintanya terhadap Rasullah SAW membuatnya sangat dikagumi dan dirindukan oleh Rasullah SAW. Meskipun ia tidak dikenal orang banyak, ketaqwaan serta kebaktian dirinya terhadap ibunya membuat nama Uwais Al-Qarani begitu terkenal dan harum di Langit Allah SWT.

 

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Advertisment ad adsense adlogger