Cinta Tetangga Bentuk Keimanan
Cinta Tetangga Bentuk Keimanan
عَنْ أَنَسِ عن النَّبِيِّ صَ أَنَّهُ قَالَ (وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عبد حتى يُحِبّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Anas, dari Nabi saw. Ia bersabda: „Demi Tuhan yang diriku di tangannya, tidak (dinamakan) seorang beriman hingga ia su- ka buat jirannya apa yang ia suka buat dirinya”. Muttafaq ‘alaihi
Ini adalah terjemah hadits yang penulis ambil dari buku terjemah bulughul marom tuan A. Hassan, dengan rasa melayu yang kental.
kita alih bahasakan terlebih dahulu kepada bahasa indonesia. Ini dia;
Dari Anas, dari Nabi sallallohu alaihi wasallam, bersabda (Demi yang jiwaku ada pada genggamannya, tidak dikatakan beriman seorang hamba, sampai ia suka untuk tetangganya, apa yang ia suka untuk dirinya). Hadis riwayat Bukhori dan Muslim.
Referensi : buku terjemah bulghul marom A. Hassan, bab jaami’ sub bab al-birru wa shillah.
Jikalau kita bagi bagian-bagian hadis ini, maka bisa kita bagi tiga, yang pertama
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ artinya dan yang jiwaku berada ditangannya. Iniadalh sebuah sumpah, yang bisa kita terjemahkan menjadi demi Alloh.
لَا يُؤْمِنُ عبد artinya, tidak dianggap beriman seorang hamba.
حتى يُحِبّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ artinya, sehingga ia menyukai untuk tetangganya, apa yang ia sukai untuk dirinya.
Keimanan seseorang bisa dilihat dari tingkah lakunya, walau tidak setiap tingkah laku harus diketahui oleh orang lain. Namun seorang beriman akan memantulkan keimanannya dalam amal kesehariannya.
Satu diantara bentuk iman seorang muslim adalah ia mencintai orang lain sama seperti ia mencintai dirinya sendiri.
Umpamanya kita suka makan sup sapi, maka karena kita suka makanan itu, kita memberikan tetangga kita sebagiannya sebagai rasa cinta kita terhadap mereka.
Atau mungkin kita membenci satu hal menimpa kita, maka kitapun akan berusaha menjauhkan hal yang sama dari saudara kita agar tidak mendapatkannya (dalam perkara kejelekan misalnya).
Berbagi kebahagiaan, kesenakan, apa yang kita cintai dan sukai akan menambha keberkahan bagi kita.
Dan bermuamalah dengan baik dengan tetangga adalah hal yang dijunjung tinggi oleh islam, bahkan sering dibahas dalam pembahasan khusus, dan menyangkut keutamaan tetangga.
Penulis: Ustadz Nur Falah (Staff Pengajar Pesantren MAQI)