‘Abd Atau ‘Ibad sebagai Sebuah Kedudukan bagi Manusia

Bagikan artikel ini :

Konsep Manusia sebagai ‘abd atau ‘ibad memberikan pemahaman yang mendalam tentang arti sebuah kedudukan. Seseorang akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik jika ia mengerti kedudukannya, seperti contoh seorang suami mempunyai kedudukan sebagai kepala keluarganya artinya wajib baginya menafkahi anak dan istrinya. Jika suami tidak tahu akan kedudukannya sebagai kepala keluarga tentu ia akan sibuk mengurus pekerjaan rumah atau pekerjaan seorang istri. Atau seorang makmum ketika berjamaah dengan imam ia wajib mengikuti imamnya maka ketika makmum baca al-fatihah dengan keras di shalat jahr layaknya imam ia tidak mengerti atau lupa akan kedudukannya sebagai makmum. Begitupun manusia mempunyai kedudukan sebagai hamba Allah yang harus taat, tunduk patuh pada Allah,  mengabdi, menuruti perintahNya dan menjauhi hal-hal yang dilarangNya.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 21 Allah berfirman

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.

Imam Jalaludin As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain menafsirkan:

﴿يا أيّها النّاس﴾ أيْ أهْل مَكَّة ﴿اُعْبُدُوا﴾ وحِّدُوا ﴿رَبّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ﴾ أنْشَأَكُمْ ولَمْ تَكُونُوا شَيْئًا ﴿و﴾ خَلَقَ ﴿الَّذِينَ مِن قَبْلكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾ بِعِبادَتِهِ عِقابه ولَعَلَّ: فِي الأَصْل لِلتَّرَجِّي وفِي كَلامه تَعالى لِلتَّحْقِيقِ.

(Hai manusia!) Maksudnya warga Mekah, (Sembahlah olehmu) dengan bertauhid atau mengesakan (Tuhanmu yang telah menciptakanmu) padahal sebelum itu kamu dalam keadaan tiada (dan) diciptakan-Nya pula (orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa), artinya terpelihara dari siksa dan azab-Nya yakni dengan jalan beribadah kepada-Nya. Pada asalnya ‘la`alla’ mengungkapkan harapan, tetapi pada firman Allah berarti menyatakan kepastian.

Jadi Ayat 21 dari surat al-Baqarah merupakan ajakan untuk menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. manusia diajak untuk memeluk agama tauhid, yaitu dengan menghambakan diri pada Allah SWT, Tuhan satu-satunya, tunduk serta mengikhlaskan diri pada-Nya. Kemudian mereka diingatkan bahwa Allah-lah Tuhan yang telah mencipta, mengatur urusan dengan sunnah-Nya serta menganugerahi mereka hidayah dan jalan untuk bertaqarrub. Maka dari itu tidak ada yang layak dan pantas untuk disembah selain Dia, sebab mensyarikatkan-Nya hanya akan mendatangkan azab dan kehancur- an. Lalu dijelaskan bahwa penghambaan diri kepada-Nya serta sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan, dapat menghantarkan mereka kepada taqwa, yaitu suatu derajat dimana seseorang dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam diri serta memiliki kesadaran ketuhanan yang matang.

Kemudian Allah berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.

Imam Jalaludin As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain menafsirkan:

﴿وما خَلَقْت الجِنّ والإنْس إلّا لِيَعْبُدُونِ﴾ ولا يُنافِي ذَلِكَ عَدَم عِبادَة الكافِرِينَ لِأَنَّ الغايَة لا يَلْزَم وُجُودها كَما فِي قَوْلك: بَرَيْت هَذا القَلَم لِأَكْتُب بِهِ فَإنَّك قَدْ لا تَكْتُب بِهِ

(Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku) pengertian dalam ayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan kenyataan, bahwa orang-orang kafir tidak menyembah-Nya. Karena sesungguhnya tujuan dari ayat ini tidaklah memastikan keberadaannya. Perihalnya sama saja dengan pengertian yang terdapat di dalam perkataanmu, “Aku runcingkan pena ini supaya aku dapat menulis dengannya.” Dan kenyataannya terkadang kamu tidak menggunakannya.

Sesungguhnya Allah menciptakan jin dan manusia agar Allah memerintahkan mereka untuk menyembah Allah, bukan karena Allah membutuhkan mereka, Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.: اِلاَّ لِيـَعْبُ دُوْنِ Melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(Adz-Dzariyat : 56) Yakni agar mereka mengakui kehambaan mereka kepada-Ku, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Demikianlah menurut apa yang dipilih oleh Ibnu Juraij, makna yang dimaksud ialah melainkan supaya mereka mengenal-Ku. Ar-Rabi’ Ibnu Anas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: اِلاَّ لِيـَعْبُدُوْنِ Melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(Adz-Dzariyat : 56) Yakni kecuali untuk beribadah, As-Saddi mengatakan bahwa sebagian dari pengertian ibadah ada yang bermanfaat dan sebagian lainnya ada yang tidak bermanfaat. (Al Imam Abu Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad Dimasyqi, 2004:16).

Jadi ayat 56 surat al- Dzariyat dijelaskan bahwa tujuan hakiki dari penciptaan jin dan manusia adalah dalam rangka berubudiyah kepada-Nya.

Penulis: Paisal Ahmad Akbar (Web Administrator)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Advertisment ad adsense adlogger