Wasiat Abu Hanifah kepada Yusuf bin Kholid As-Samty (2)
Hubungan harmonis antar sesama manusia sangat bergantung pada cara seseorang bersikap dan berinteraksi. Imam Abu Hanifah, seorang ulama besar pendiri Mazhab Hanafi, memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada muridnya, Yusuf bin Khalid As-Samti. Beliau menekankan bahwa karakter seseorang dalam pergaulan menentukan apakah orang lain akan menjadi kawan atau justru menjadi lawan dalam hidupnya.
Pentingnya Akhlak Baik dalam Pergaulan
Imam Abu Hanifah mengingatkan bahwa sikap buruk dapat menjauhkan orang-orang terdekat, sementara sikap baik dapat mendekatkan mereka yang jauh. Beliau memberikan wasiat berharga yang tertuang dalam teks berikut:
وَاعْلَمْ أَنَّكَ مَتَى أَسَأْتَ عِشْرَةَ النَّاسِ صَارُوا لَكَ أَعْدَاءً، وَلَوْ كَانُوا أُمَّهَاتٍ وَآبَاءً، وَمَتَى أَحْسَنْتَ عِشْرَةَ النَّاسِ مِنْ أَقْوَامٍ لَيْسُوا لَكَ أَقْرِبَاءَ صَارُوا لَكَ أَقْرِبَاءَ، ثُمَّ قَالَ لِي: اصْبِرْ يَوْمًا حَتَّى أَفْرَغَ لَكَ نَفْسِي، وَأَجْمَعَ لَكَ هِمَّتِي، وَأُعَرِّفَكَ مِنَ الْأَمْرِ مَا تَحْمَدُنِي، وَتَجْعَلَ نَفْسَكَ عَلَيْهِ، وَلَا تَوْفِيقَ إِلَّا بِاللَّهِ
Dan ketahuilah, jika kamu memperlakukan manusia dengan cara bergaul yang buruk, maka mereka akan menjadi musuhmu meskipun mereka adalah ibu dan ayahmu sendiri. Namun, jika kamu memperlakukan orang-orang yang bukan kerabatmu dengan cara bergaul yang baik, maka mereka akan menjadi kerabat bagimu. Kemudian beliau berkata kepadaku: Sabarlah sehari sampai aku meluangkan waktu untukmu, mengumpulkan tekadku, dan mengenalkan kepadamu perkara yang kelak akan membuatmu memujiku serta kamu dapat menjadikannya sebagai pegangan hidup, dan tidak ada taufik kecuali dari Allah.
Landasan Syariat tentang Keutamaan Akhlak
Pesan Imam Abu Hanifah ini sangat selaras dengan ajaran Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Sikap mulia ini terbukti mampu mengubah permusuhan menjadi persahabatan yang sangat erat. Allah ﷻ berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (Fushshilat: 34).
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang tercermin dari keindahan akhlaknya kepada sesama manusia. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Menanam Kebaikan untuk Meraih Kedamaian
Ternyata, investasi terbaik dalam hidup adalah membangun reputasi yang baik melalui tutur kata dan perilaku yang santun. Seorang muslim yang memiliki adab tinggi akan mendapatkan kemudahan dalam segala urusan karena orang-orang di sekitarnya merasa nyaman. Sebaliknya, kekasaran hati hanya akan menimbulkan kebencian yang merugikan diri sendiri di dunia maupun di akhirat.
Imam Abu Hanifah sengaja meluangkan waktu khusus untuk mengajarkan hal ini karena beliau menganggap adab sebagai fondasi ilmu. Tanpa adab yang benar, ilmu yang luas tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Akhirnya, semoga kita mampu mengamalkan wasiat ini agar setiap langkah pergaulan kita senantiasa membuahkan cinta dan persaudaraan.
Penerjemah: Paisal Ahmad Akbar

