Ilmu Qira’at Bagian 1
Sejarah Munculnya dan Perbedaan Sab’atu Ahruf dengan Qira’at Sab’ah
Keanekaragaman cara membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk kemudahan yang Allah ﷻ berikan kepada umat Islam. Keberagaman ini terangkum dengan rapi dalam sebuah disiplin khusus bernama Ilmu Qira’at. Namun demikian, sebagian masyarakat sering kali keliru dalam membedakan antara istilah Sab’atu Ahruf dan Qira’at Sab’ah.
Sejarah Singkat Munculnya Ilmu Qira’at
Pada masa awal Islam, masyarakat Arab terdiri dari berbagai kabilah dengan logat atau dialek yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, Allah ﷻ memberikan keringanan agar setiap kabilah dapat membaca Al-Qur’an sesuai dengan dialek mereka tanpa mengubah makna. Rasulullah ﷺ mengajar para sahabat رضي الله عنهما dengan berbagai variasi bacaan yang bersumber dari wahyu.
Setelah wilayah Islam meluas pada masa Khulafaur Rasyidin, para sahabat tersebar ke berbagai kota besar untuk mengajarkan Al-Qur’an. Penduduk tiap wilayah mempelajari bacaan sesuai dengan riwayat sahabat yang bertugas di daerah mereka. Selanjutnya, para ahli qira’at membukukan cabang ilmu ini secara sistematis agar kemurnian setiap sanad bacaan tetap terjaga dari kesalahan.
Pengertian Sab’atu Ahruf (Tujuh Huruf)
Istilah Sab’atu Ahruf merujuk pada tujuh variasi bahasa atau dialek Arab yang Allah ﷻ turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Keringanan ini bertujuan untuk memudahkan seluruh suku Arab dalam menghafal dan memahami firman-Nya.
Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَأَنِي جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ فَلَاجَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ وَيَزِيدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ
Jibril membacakan Al-Qur’an kepadaku dengan satu huruf (dialek), lalu aku senantiasa meminta tambahan kepadanya dan ia terus menambahkannya untukku hingga berakhir pada tujuh huruf (HR. Bukhari dan Muslim).
Umar bin Khattab رضي الله عنه juga pernah berselisih bacaan dengan Hisyam bin Hakim رضي الله عنه saat shalat. Ketika keduanya mengadukan masalah tersebut, Rasulullah ﷺ membenarkan bacaan mereka berdua lalu bersabda:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ
Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya (HR. Bukhari dan Muslim).
Pengertian Qira’at Sab’ah (Tujuh Bacaan Utama)
Sementara itu, Qira’at Sab’ah adalah tujuh metode pembacaan Al-Qur’an yang dikodifikasikan oleh seorang ulama besar bernama Imam Ibnu Mujahid. Beliau memilih tujuh imam qira’at yang memiliki sanad mutawatir, kedisiplinan tinggi, serta reputasi ilmiah yang diakui di kota-kota utama Islam.
Ketujuh imam tersebut meliputi Nafi’ dari Madinah, Ibnu Katsir dari Makkah, Abu ‘Amr dari Basrah, Ibnu ‘Amir dari Syam, serta ‘Ashim, Hamzah, dan Al-Kisa’i dari Kufah. Bacaan yang umum kita gunakan hari ini di Indonesia adalah riwayat Hafsh dari Imam ‘Ashim.
Perbedaan Antara Sab’atu Ahruf dan Qira’at Sab’ah
Banyak orang menganggap bahwa Qira’at Sab’ah merupakan bentuk fisik dari Sab’atu Ahruf. Padahal, kedua istilah tersebut memiliki cakupan makna yang berbeda secara fundamental.
Sab’atu Ahruf adalah ragam dialek dan variasi bahasa yang turun pada masa awal wahyu. Sebaliknya, Qira’at Sab’ah merupakan madzhab-madzhab bacaan pilihan para imam yang tercatat dalam mushaf standar Rasm Utsmani. Rasm Utsmani yang dikumpulkan oleh Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه telah mengagregasi dan menampung seluruh huruf yang cocok dengan pola tulisannya.
Allah ﷻ berfirman mengenai pemeliharaan kitab-Nya:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) mebacanya (QS. Al-Qiyamah: 17).
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menghargai kekayaan tradisi keilmuan Islam dan terhindar dari keraguan terhadap keaslian Al-Qur’an.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

