Perbandingan Kedudukan Dunia dan Akhirat
Kehidupan dunia yang kita jalani saat ini hanyalah tempat persinggahan yang sangat singkat. Oleh karena itu, seorang muslim yang bijak tidak akan mengorbankan kebahagiaan akhirat yang abadi demi mengejar kenikmatan dunia yang semu. Mengetahui hakikat perbandingan antara keduanya akan membantu kita menjaga arah tujuan hidup agar tetap lurus di jalan Allah ﷻ.
Hadits Perumpamaan Dunia dan Akhirat
Berikut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Al-Mustaurid bin Syaddad رضي الله عنه mengenai perbandingan kenikmatan dunia dengan akhirat:
عَنْ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
Dari Al-Mustaurid bin Syaddad رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ini ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang tersisa pada jarinya. (HR. Muslim No. 2858)
Hakikat Kehidupan Dunia Menurut Al-Quran
Selanjutnya, Allah ﷻ memberikan penjelasan yang sangat tegas mengenai sifat kehidupan duniawi di dalam Al-Quran. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Oleh sebab itu, kita harus menggunakan kenikmatan duniawi hanya sebagai sarana ibadah. Kemudian, ayat ini mengingatkan kita agar tidak terjebak oleh tipu daya gemerlap materi yang fana. Jadi, memprioritaskan akhirat bukan berarti kita harus meninggalkan seluruh urusan kehidupan di bumi.
Rendahnya Nilai Dunia di Sisi Allah ﷻ
Lalu, kita perlu menyadari betapa tidak berharganya dunia jika dibandingkan dengan rida dan ampunan Sang Pencipta. Di samping itu, rasa cinta yang berlebihan terhadap harta dapat membutakan hati seseorang dari kebenaran. Rasulullah ﷺ menggambarkan hal ini melalui sabda beliau:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Dari Sahl bin Sa’ad رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah setara dengan satu sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum seorang kafir pun walau hanya seteguk air. (HR. Tirmidzi No. 2320, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 5292)
Padahal, banyak orang rela berbuat curang dan menzalimi sesama demi meraih sebagian kecil dari harta dunia. Dengan demikian, melatih diri untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada materi adalah kunci kedamaian jiwa.
Sikap Mukmin dalam Menjalani Hidup
Pada akhirnya, kesadaran akan keabadian akhirat akan mendorong kita untuk selalu beramal saleh secara konsisten. Selain itu, harta dan waktu yang kita miliki akan lebih banyak kita infakkan untuk investasi akhirat. Sebaliknya, orang yang terbuai oleh dunia hanya akan mendapatkan kekecewaan yang mendalam saat maut menjemputnya. Oleh karena itu, mari kita jadikan dunia ini sebagai ladang bercocok tanam yang hasilnya akan kita panen di surga kelak.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


