Menyambut Tahun Baru Hijriyyah dengan Aqidah Salimah
Pergantian waktu dalam kalender Islam senantiasa membawa momen perenungan yang mendalam bagi setiap muslim. Momentum tahun baru Hijriyyah bukan sekadar urusan perubahan angka pada kalender penanggalan semata. Lebih dari itu, seorang mukmin sejati harus menyikapinya dengan landasan akidah yang selamat (aqidah salimah) agar tidak terjerumus ke dalam kekeliruan.
Hakikat Waktu dan Ketetapan Bulan di Sisi Allah ﷻ
Allah ﷻ menetapkan perhitungan bulan sebanyak dua belas bulan dalam setahun sejak penciptaan alam semesta. Sistem penanggalan ini menjadi panduan penting bagi umat Islam untuk mengatur waktu ibadah seperti puasa dan haji. Oleh karena itu, kita harus memandang pergantian tahun ini sebagai tanda kekuasaan Allah ﷻ yang mengatur peredaran zaman.
Selanjutnya, Allah ﷻ memberikan penjelasan mengenai jumlah bulan tersebut secara gamblang di dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (QS. At-Taubah: 36)
Menjaga Akidah dari Keyakinan Sial (Thiyarah)
Umat Islam wajib membersihkan pikiran dari berbagai mitos atau khurafat yang sering muncul menjelang tahun baru Hijriyyah. Sebagian masyarakat awam masih meyakini bahwa bulan Muharram atau bulan Suro merupakan bulan yang penuh kesialan. Mereka takut mengadakan pernikahan atau memulai usaha baru karena menganggap waktu tersebut mendatangkan malapetaka.
Padahal, akidah Islam yang murni melarang keras keyakinan merasa sial terhadap waktu, tempat, atau hewan tertentu. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa menganggap sesuatu sebagai tanda kesialan merupakan salah satu bentuk kesyirikan. Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
Menganggap sial (thiyarah) adalah syirik, menganggap sial adalah syirik, dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (memiliki kecenderungan itu), namun Allah menghilangkannya dengan tawakal. (HR. Abu Dawud no. 3910 dan Tirmidzi no. 1614, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud).
Melalui hadits yang Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه sampaikan, kita belajar untuk menggantungkan segala urusan hanya kepada Allah ﷻ. Rasa takut terhadap kesialan bulan tertentu akan terkikis habis ketika seseorang memiliki ketauhidan yang kokoh.
Koreksi Diri dan Meningkatkan Amal Shalih
Sikap terbaik dalam menyambut tahun baru Hijriyyah adalah melakukan muhasabah atau evaluasi terhadap catatan amal di masa lalu. Kita memanfaatkan sisa umur yang Allah ﷻ berikan untuk memperbanyak ibadah dan menjauhi kemaksiatan. Selain itu, bulan Muharram memiliki keutamaan khusus sebagai bulan yang mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.
Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk menghidupkan bulan Allah ini dengan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Asyura. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. (HR. Muslim no. 1163, Abu Hurairah meriwayatkan anjuran Nabi ﷺ untuk mengagungkan bulan mulia ini melalui ibadah).
Kesimpulan
Menyambut pergantian tahun dengan akidah yang selamat akan melahirkan ketenangan jiwa yang hakiki dalam menghadapi masa depan. Kita menjauhi segala bentuk perayaan yang tidak memiliki dasar syariat serta membersihkan hati dari keyakinan syirik. Manfaatkan momentum ini untuk memperbaharui komitmen takwa dan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah ﷻ.
Akhirnya, mari kita senantiasa berdoa agar Allah ﷻ memberkahi setiap lembaran waktu yang akan kita lalui. Semoga kita semua tetap istiqamah di atas manhaj yang lurus hingga ajal menjemput. Kunci kesuksesan seorang hamba di dunia dan akhirat terletak pada kemurnian akidah dan konsistensi dalam beramal shalih.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


