Ulumul Quran

Perbedaan Pengumpulan Al-Quran oleh Abu Bakar dan Utsman Radiyallahu ‘Anhuma

Proses kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi umat Islam. Meskipun tujuannya sama-sama untuk menjaga kemurnian wahyu, namun terdapat perbedaan mendasar antara kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه dan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Pemahaman mengenai perbedaan ini akan membantu kita menghargai jasa besar para sahabat dalam menjaga kitabullah hingga sampai ke tangan kita saat ini.

Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pengumpulan Al-Qur’an pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه bertujuan untuk memindahkan catatan ayat-ayat suci dari berbagai media yang terpisah. Para sahabat sebelumnya menuliskan ayat Al-Qur’an pada pelepah kurma, kulit hewan, daun, serta tulang-tulang binatang. Abu Bakar kemudian menyatukan semua catatan tersebut ke dalam satu Mushaf yang utuh dan tersusun rapi.

Kematian para huffadz (penghafal Al-Qur’an) dalam jumlah besar pada Perang Yamamah menjadi sebab utama kebijakan ini diambil. Kekhawatiran akan hilangnya sebagian Al-Qur’an membuat Umar bin Khattab رضي الله عنه mendesak Abu Bakar agar segera melakukan pembukuan. Allah ﷻ sendiri telah menjamin penjagaan kitab ini sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al-Hijr: 9).

Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Khalifah Utsman bin Affan

Kebijakan Utsman bin Affan رضي الله عنه memiliki karakteristik yang berbeda karena beliau lebih fokus pada penyeragaman bacaan. Pada masa ini, wilayah Islam sudah sangat luas sehingga muncul perbedaan qira’ah (cara membaca) di berbagai daerah. Perbedaan ini hampir saja memicu perpecahan di kalangan umat Islam karena masing-masing pihak merasa bacaannya yang paling benar.

Utsman kemudian memerintahkan penyalinan Mushaf yang telah terkumpul pada zaman Abu Bakar untuk dikirimkan ke berbagai wilayah Islam. Beliau juga memerintahkan pembakaran Mushaf lain yang tidak sesuai dengan dialek Quraisy agar tidak terjadi lagi perselisihan. Langkah berani ini berhasil menyatukan umat Islam dalam satu standar bacaan yang kita kenal sebagai Mushaf Utsmani.

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan mengenai pentingnya persatuan:

إِنَّمَا أُمِرْتُمْ أَنْ تُطِيعُوا اللَّهَ، وَأَنْ لَا تَعْصُوا اللَّهَ

Sesungguhnya kalian diperintahkan untuk taat kepada Allah, dan janganlah kalian bermaksiat kepada Allah (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Hikmah dari Perjuangan Para Sahabat

Ternyata, peran para sahabat dalam menjaga Al-Qur’an membuktikan betapa besar tanggung jawab mereka terhadap amanah agama. Abu Bakar menyelamatkan Al-Qur’an dari kepunahan fisik akibat gugurnya para penghafal, sementara Utsman menyelamatkan Al-Qur’an dari distorsi cara baca. Keduanya merupakan pahlawan besar yang Allah ﷻ pilih untuk menjaga keaslian wahyu terakhir-Nya.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib mensyukuri fasilitas kemudahan membaca Al-Qur’an yang ada saat ini. Kita harus meneladani kegigihan para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam membaca, menghafal, maupun mengamalkannya. Akhirnya, semoga Allah ﷻ senantiasa memberkahi hidup kita dengan cahaya Al-Qur’an dan mengumpulkan kita bersama para huffadz di surga-Nya kelak.

Penulis : Ustadz Wildan Risalat (Mudir Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger