Terminologi Dasar
Mengenal Perbedaan Nabi, Rasul, Hadits, hingga Atsar
Memahami agama Islam membutuhkan ketepatan dalam mengenal istilah-istilah dasarnya. Hal ini sangat penting agar kita tidak salah dalam menempatkan dalil. Oleh karena itu, kita perlu membedakan istilah Nabi, Rasul, Hadits, Sunnah, Khabar, dan Atsar secara tepat.
Perbedaan Antara Nabi dan Rasul
Seringkali orang menganggap Nabi dan Rasul adalah dua jabatan yang sama. Namun, para ulama menjelaskan adanya perbedaan mendasar di antara keduanya. Rasul merupakan sosok laki-laki yang menerima wahyu berupa syariat baru dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada kaum yang menentang.
Sementara itu, Nabi adalah laki-laki yang menerima wahyu untuk menguatkan syariat Rasul sebelumnya. Allah ﷻ menjelaskan keberadaan mereka dalam Al-Qur’an:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginan itu (QS. Al-Hajj: 52).
Meskipun berbeda tugas, setiap Rasul pasti merupakan seorang Nabi. Sebaliknya, tidak setiap Nabi mengemban tugas sebagai seorang Rasul.
Pengertian Hadits dan Sunnah
Istilah Hadits dan Sunnah sering muncul dalam pembahasan hukum Islam. Hadits secara bahasa berarti perkataan atau sesuatu yang baru. Namun secara istilah, hadits mencakup segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat fisik dan akhlak beliau.
Dunia Islam mengenal Sunnah sebagai jalan yang ditempuh oleh Nabi ﷺ. Para ulama hadits menganggap Sunnah memiliki arti yang sama dengan hadits. Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh pada keduanya. Dari Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّواجِذِ
Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Shahih menurut Syaikh Al-Albani).
Mengenal Istilah Khabar dan Atsar
Selanjutnya, kita akan mengenal istilah Khabar dan Atsar yang sering ditemukan dalam kitab-kitab ulama. Khabar memiliki makna yang lebih luas daripada hadits. Sebab, Khabar bisa berasal dari Nabi ﷺ maupun dari orang lain selain beliau.
Atsar biasanya digunakan untuk menyebut perkataan atau perbuatan yang berasal dari para Sahabat Nabi رضي الله عنهما atau Tabi’in. Meskipun demikian, sebagian ulama terkadang menggunakan istilah Atsar untuk hadits Nabi ﷺ secara mutlak.
Penggunaan Atsar sangat membantu kita dalam memahami bagaimana para Sahabat mempraktikkan wahyu. Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, beliau memberikan nasihat yang sangat berharga:
اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
Ikutilah (atsar para sahabat) dan janganlah kalian membuat bid’ah, karena sungguh kalian telah dicukupkan (Atsar riwayat Ad-Darimi, sanadnya shahih).
Mengapa Istilah Ini Sangat Penting?
Ketepatan dalam memahami terminologi ini memudahkan kita saat mempelajari kitab-kitab para ulama. Kita menjadi tahu apakah sebuah riwayat bersumber langsung dari Nabi ﷺ ataukah merupakan ijtihad Sahabat. Pemahaman yang benar akan menjaga kita dari kekeliruan dalam berhujjah.
Akhirnya, mari kita terus semangat mempelajari ilmu warisan para Nabi ini. Pengetahuan yang benar terhadap istilah dasar akan menjadi pondasi kuat dalam memahami ajaran Islam yang murni.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


