Ulama dan Hartawan

Bagikan artikel ini :

Tanda Orang-Orang Yang Beruntung

Harta adalah karunia yang diberikan Allah SWT kepada setiap makhluq yang ada dunia ini. Secara naluriah yang ada pada manusia semuanya memiliki definisi hartanya masing-masing, dan hal ini yang menjadikan satu sama lainnya berbeda dalam mengambil sikap dan usahanya.

Sebagian besar manusia tentu akan lebih condong kepada harta yang bersifat material ketimbang harta yang sifatnya abstrak, walaupun bila dilihat kebaikan diantara keduanya sangat berbeda sekali, bahwa jika harta yang bersifat material akan habis dan hilang atau tak bernilai karna lapuk dimakan zaman.

Namun apabila seseorang memiliki harta yang bersifat abstrak seperti ilmu, cinta dan hati tidak akan pernah habis bahkan jika hal tersebut dibagikan kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Maka dari itulah mengapa para ulama terdahulu banyak dari mereka yang mengorbankan hidupnya berjuang untuk mencari ilmu pengetahuan. Dan nama-nama meraka pun masih tertulis  dan disebutkan sampai zaman sekarang dari sekian banyaknya orang-orang kaya harta yang hidup pada zamannya.

Pada dasarnya seseorang  dikatakan kaya akan ilmu atau harta yang dimilikinya bila mana orang tersebut mengajarkannya dan membagikannya pula pada orang lain, maka dari itu islam memerintahkan pada setiap individual muslim untuk menjauhi sifat kikir, karena dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِيْ مُؤْمِنٍ البُخْلُ وَسُوْءُ الخُلْق

“Dua sifat tidak akan bertemua dalam diri seorang mukmin, yaitu kikir dan akhlak yang buruk”.

Dan didalam potongan sebuah ayat didalam Al Qur’an Allah sebutkan :

وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Dari dua dalil diatas dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwa harta ilmu dan materi merupakan karunia yang Allah berikan kepada orang-orang mukmin agar dapat diamalkan, diajarkan kemudian disampaikan.

Sebanyak apa pun keilmuan yang seseorang miliki tidak akan menjadikan dirinya beruntung dengan ilmu (islam) tersebut manakala orang tersebut tidak membaginya atau mengajarkannya kepada yang lain.

Dan begitu pula seseorang yang memiliki harta materi yang melimpah ruah tak akan menjadikannya kaya dan beruntung apabia orang tersebut telah terjerat penyakit kikir dalam hatinya, sebesar apa pun harta yang dia miliki.  Karena pada hakikatnya perilaku kikir tersebut menunjukkan betapa miskinnnya orang tersebut. Wallahu A’lam Bisshowaab

Penulis : Ustadz A. Muslim Nurdin, S.Pd (Mudir Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger