Hadis Mengusap Khuf, Madzi dan Junub

Bagikan artikel ini :

Al-Hadist

  1. Bab mengusap diatas kedua khuf

الخف: هو ما يلبس على الرجل من جلد ونحوه, وجمعه: خفاف

Al-Khuf: merupakan suatu yang dipakai pada kaki terbuat dari kulit atau yang sejenisnya. Dan jamaknya adalah “al-Khifaf”

 

Dalil tentang khuf;


عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ دَعْهُمَا فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا (رواه البخاري)

Dari ‘Urwah bin Al Mughirah bin Syu’bah dari Bapaknya ia berkata, “Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan, aku lalu merunduk untuk melepas kedua sepatunya, namun beliau bersabda, “Biarkan saja, karena aku mengenakannya dalam keadaan suci.” Dan beliau hanya mengusap diatasnya. (HR. Bukhari)


عَنْ شُرَيْحِ بْنِ هَانِئٍ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنْ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَتْ عَلَيْكَ بِابْنِ أَبِي طَالِبٍ فَسَلْهُ فَإِنَّهُ كَانَ يُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

Dari Syuraih bin Hani’ dia berkata, “Saya mendatangi Aisyah untuk menanyakan kepadanya tentang mengusap bagian atas dua khuf. Maka dia menjawab, ‘Hendaklah kamu menanyakannya kepada Ibnu Abu Thalib, karena dia pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ.’ Lalu kami bertanya kepadanya, dia menjawab; ‘Rasulullah ﷺ menjadikan waktu tiga hari tiga malam bagi musafir (untuk mengusap khuf) dan sehari semalam bagi orang yang menetap (muqim).” (HR. Bukhari)

 

Dari kedua hadist diatas kita dapat mengambil faidah, diantaranya:

  • Bolehnya mengusap khuf bagi muqim dan musafir
  • Mengusap khuf adalah dengan mengusap atasnya
  • Batas waktu bagi yang muqim adalah satu sahari satu malam, sedangkan bagi musafir (bepergian) adalah tiga hari tiga malam.
  • Diantara syarat mengusaf khuf adalah, memakainya dalam kondisi bersih (terhindar dari najis)

Dan diantara syarat mengusap khuf adalah; menggunakan khuf yang menutupi seluruh bagian kaki, kemudian kaki dan khuf kita dalam keadaan suci saat pemakaian dan memakai khuf milik sendiri atau yang hak bagi kita.

  1. Bab Madzi dan yang lainnya

المذي: ماءٌ رقيق شفاف لزج يخرج عند الملاعبة أو التَّذَكُّر.

Madzi: Merupakan air encer, bening, lengket yang keluar saat bercumbu atau memikirkan (hal yang berbau sex).

 

Dalil tentang Madzi;


عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ (رواه البخاري)

Dari ‘Ali berkata,: “Dulu aku adalah seorang yang sering mengeluarkan madzi. Maka aku minta seseorang untuk bertanya kepada Nabi ﷺ. karena kedudukan putri beliau ﷺ. Maka orang itu bertanya, lalu Jawab Nabi ﷺ.: “Berwudhulah dan cuci kemaluanmu!”. (HR. Bukhari)

 

Faidah yang dapat diambil dari hadist ini yaitu; madzi itu najis sehingga mesti berwudlu dan mencuci kemaluan.

 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “(Sunah) fitrah itu ada lima, yaitu; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, mencukur kumis dan memotong kuku.” (HR. Bukhari)

 

Diantara tanda kesucian umat islam adalah;

  • Khitan
  • Mencukur bulu kemaluan
  • Mencabut bulu ketiak
  • Mencukur kumis
  • Memotong kuku

Catatan;

Hendaklah membersihkan itu semua tidak lebih dari 40 hari terkecuali khitan karena itu hanya dilakukan sekali seumur hidup.

 

  1. Bab Junub


الجُنب هو مصطلح إسلامي يُوصف به الشخص الذي وجب عليه الغسل بالجماع أو خروج المني. أي من جامع ولو لم ينزل منياً، أو أنزل منياً ولو لم يجامع، ويستوي في هذا المرأة والرجل. الجُنب من مُبطلات الصلاة

Junub adalah istilah Islam yang digunakan untuk menyebut seseorang yang wajib mandi dengan cara bersetubuh atau mengeluarkan air mani. Artinya, barang siapa yang bersetubuh walaupun tidak mengalami ejakulasi, atau mengalami ejakulasi walaupun belum bersetubuh, dan dalam hal ini perempuan dan laki-laki adalah sama. Dan zunub itu dari membatalkan shalat

 

Dalil tentang junub;


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ كُنْتُ جُنُبًا فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ pernah berjumpa dengannya di salah satu jalan Madinah, sementara ia dalam keadaan junub.” Abu Hurairah berkata, ‘Aku malu dan pergi diam-diam’. Abu Hurairah lalu pergi mandi dan kembali lagi setelah itu, beliau lalu bertanya, “Kemana saja kamu tadi wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tadi junub. Dan aku tidak suka bersama Tuan sedang aku dalam keadaan tidak suci.” Beliau pun bersabda, “Subhaanallah! Sesungguhnya seorang muslim itu tidak itu najis.” (HR. Bukhari)

 

Dari hadits ini kita ketahui bahwa muslim itu suci.

 


عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ (رواه البخاري 248 و مسلم 316)

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ (رواه البخاري 265 و مسلم 317)

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

 

Tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

  1. Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
  2. Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
  3. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun.
  4. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
  5. Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
  6. Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.
  7. Menyela-nyela rambut.
  8. Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci?

Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir.

Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan.

Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah.

Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger