Perbedaan Laban dengan Halib

Bagikan artikel ini :

Karena sering mengajar kitab Al-Arabiyyah Baina Yadaik terutama jilid 1, terkadang hafal dengan beberapa percakapan yang ada di dalam kitab tersebut . Contohnya adalah percakapan antara seorang pramugari dengan seorang penumpang perempuan, ketika pramugari tersebut bertanya tentang minuman apa yang dia inginkan. Berikut petikan percakapannya :

مَاذَا تُفَضِّلِيْنَ مِنَ الشَّرَابِ , الشَّايَ أَمِ الْقَهْوَةَ ؟
Minuman apa yang lebih anda inginkan, teh atau kopi?

أُفَضِّلُ اَلْقَهْوَةَ مِنْ فَضْلِك
Tolong saya lebih menginginkan segelas kopi.

اَلْقَهْوَةُ بِالْحَلِيْبِ؟
Kopi susu?

نَعَمْ اَلْقَهْوَةُ بِالْحَلِيْبِ
Ya kopi susu.

Mengajarkan kitab Al-Arabiyyah Baina Yadaik ini menggunakan metode mubasyarah (langsung), maka ketika saya menerangkan makna kata halib ini menggunakan muradifnya (sinonim) dari kata tersebut yaitu laban karena selama ini beranggapan tidak ada perbedaan antara halib dengan laban, tapi ternyata hal tersebut kurang tepat, karena ada perbedaan antara halib dan laban ini dan baru saya ketahui setelah membaca tulisan Ustadz Budi Marta Saudin, ini saya copas saja tulisan beliau dari akun Facebooknya.


Laban (لبن) dan Halib (حليب)

Laban (لبن) dan halib ( حليب) adalah dua kata yang selalu dijumpai dalam buku-buku pelajaran bahasa Arab. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesianya adalah susu.

Keduanya adalah jenis minuman yang masuk dalam tsaqafah atau budaya Arab. Bangsa Arab tak bisa lepas dari dua hal ini.

Apakah ada perbedaan pada keduanya?

Laban adalah susu yang sudah difermentasi. Rasanya asam. Di kita biasa disebut dengan yoghurt. Sedangkan halib adalah susu murni.

Kalau kita datang ke warung berniat mau beli susu dengan bilang mau beli laban, nanti diberi oleh penjualnya susu yoghurt. Kalau kita ingin susu murni, kita ngucapnya halib.


Setelah membaca tulisan tersebut langsung saja googling dan mendapati artikel-artikel terkait hal tersebut dan memang benar seperti itu adanya, terdapat perbedaan makna antara halib dan laban. Itulah sebabnya pramugari di percakapan di atas menawarkan Qahwah bil halib dan bukan Qahwah bil laban, nggak kebayang kan gimana rasanya kopi campur yoghurt.

Di dalam Al-Quran juga ada istilah laban yaitu pada ayat :

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) SUSU MURNI antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. (QS An-Nahl : 66)

Terjemahan ayat tersebut diambil dari Terjemah Al-Quran terbitan Kemenag. Yang perlu kita fahami adalah bahwa bahasa apapun itu akan terus beradaptasi dan berkembang sesuai dengan perubahan waktu, tempat dan keadaan, maknanya bisa meluas atau menyempit.

Adapun bahasa Arab memiliki keunikan dan kekayaan tersendiri yang harus terus digali oleh setiap pencari ilmu syar’i.

Wallahu A’lam

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat (Musyrif Aam Pesantren MAQI)

 

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger