Sikap Seorang Muslim Menghadapi Wabah Virus Corona

Bagikan artikel ini :

Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia secara umum dan kepada umat orang muslim secara khusus untuk dibaca, direnungkan dan dipahami maknanya. Kemudian kita berusa semampu kita untuk  mengamalkannya sehingga menjadi hujjah dihadapan Allah Subhanahu Wata’ala dan memberi syafaat atau pembela bagi yang membacanya pada hari kiamat. Karena  Allah Subhanahu Wata’ala telah menjamin bagi siapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan celaka di akhirat, dengan firmannya :

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Artinya :

“Barang siapa mengikuti petunjuku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Allah Subhanahu Wata’ala juga  berfirman dalam Surah Al Isra ayat 82, yaitu:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya :

“Kami menurunkan Al Qur’an yang mengandung obat dan rahmat untuk orang-orang yang beriman.”

Pembaca yang dimuliakan Allah, belakangan ini kita dihebohkan dengan wabah yang diyakini sangat berbahaya bahkan telah menelan banyak korban di berbagai belahan dunia, yaitu virus Corona atau Covid-19. Dan kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, pasti selalu meyakini bahwa virus ini adalah ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala. Artinya, virus ini tidak mampu memberikan kemudharatan (kerugian/mencelakakan) kepada siapa pun kecuali dengan izin Allah, kita pun tidak mampu terhidar dari virus yang ganas ini kecuali dengan izin Allah pula. Maka cara terbaik untuk menyikapi keadaan ini adalah dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada sang pencipta virus tersebut dengan ikhtiar yang maksimal. Ikhtiar yang maksimal adalah dengan mengikuti semua instruksi pemerintah dan majelis ulama.

Orang yang beriman kepada Allah Ta’ala pasti meyakini bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi setiap manusia , lantas bagaimana Al-qur’an menajdi solusi untuk apa yang kita hadapi saat ini? Untuk itu penulis akan memaparkan bagaimana seorang muslim menyikapi wabah ini menurut petunjuk Al-Qur’an.

Jauh sebelum kita mengahadapi musibah ini, Al-Qur’an telah memberikan isyarat yang jelas tentang bagaimana seorang muslim memberikan sikap diantaranya adalah :

  1. Meyakini bahwa Corona ini adalah ujian bagi orang yang beriman lalu menerimanya dengan sabar. Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-baqoroh :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah 2:155)

Al-Imam Al-Baidhowi dalam tafsirnya mengatakan bahwa makna dari firman Allah Ta’ala di atas adalah Allah pasti akan memberikan cobaan berupa musibah kepada manusia untuk menguji mereka apakah mereka akan bersabar dengan ketetapan Allah tersebut atau malah berbaling dari Allah Ta’ala.  Al-Imam mengatakan bahwa imam syafi’i meriwayatkan makna ayat ini adalah

لخوف: خوف الله، والجوع: صوم رمضان، والنقص: من الأموال الصدقات والزكوات، ومن الأنفس: الأمراض، ومن: الثمرات موت الأولاد.

الْخَوْفِ (ketakutan) adalah takut kepada Allah Ta’ala, kemudian وَالْجُوعِ (kelaparan) adalah puasa di bulan ramadhan, lalu وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَال (harta yang berkurang) adalah sedekah dan zakat, kemudian والْأَنْفُسِ  (dan jiwa) adalah penyakit, dan الثمرات (buah-buahan) adalah kematian anak-anaknya. Dan semua ini adalah musibah yang besar, makanya Allah katakan diakhir ayat berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar atas semua musibah yang Allah tetapkan untuk mereka.

Lantas kenapa harus sabar? Karena dengan sabar diri akan tenang, pikiran jadi jernih dan pahala pun akan mengalir. Hingga mudah bagi kita menentukan sikap dan menemukan solusi. Allah Ta’ala berfirman  :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”(al-baqoroh:153)

 

Dalam ayat lain Allah katakan :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar : 10)

 

Bahkan di syurga nanti mereka akan didatangi oleh malaikat-malaikat dari berbagai pintu dan malaikat mengatakan salam atas kesabaran mereka, Allah berfirman :

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ * سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Sedang malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu * seraya mengucapkan ” Salamun ‘alaikum bima shobartum” atau selamat atas kesabaran kalian di dunia. Maka alangkah baiknya tempat kalian setelah itu.” (Ar-Ra’du : 23,24)

 

Dan dalam surat Al-Mu’minun Allah katakan bahwa orang yang mendapatkan kemenangan yang hakiki adalah orang yang sabar. Allah berfirman :

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, kerena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (Al-Mu’minun: 111)

Maka apabila kita bersabar karena Allah Ta’ala, insya Allah akan mudah bagi melewati musibah ini.

ومن صبر ظفر وفاز في الدنيا والآخرة

artinya barang siapa yang bersabar pasti akan berhasil dan akan jadi pemenang di dunia dan akhirat.

 

 

  1. Menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Ta’ala dan mengatakan “Innalillahi wainnailaihi roji’un”. Sebagaimana firmannya :

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

 (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun”. (Al Baqarah 2:156).

 

Ayat ini mendefinisikan siapakah orang yang bersabar yang mendapatkan kabar gembira dari Allah sebagaiman yang dijelaskan pada ayat sebelumnya. Orang yang bersabar itu adalah yang mendapatkan lalu mengucapkan kalimat : “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun.

 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan maknanya adalah bersersh diri kepada Allah terhadap apa yang menimpa mereka, kemudian mereka meyakini bahwa mereka adalah milik Allah Ta’ala dan Allah berhak melakukan apa saja kepada mereka, dan mereka juga meyakini bahwa tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah di hari kiamat nanti walau hanya sekecil atom, maka sebab itulah mereka menyadari bahwa mereka adalah hamba Allah dan kepada Allah pula mereka akan kembali di negri akhirat.

 

  1. Meningkat ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (At-thalaq : 2 )

 

Dan di ayat yang ke-4 masih di surat At-Thalaq Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Thalaq : 4 )

 

Pada surat At-Thalaq ayat 2, Al-Imam Al-Bagowi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kebanyakan mufassir menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah ketika seorang laki-laki datang kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengadu bahwa anaknya telah jadi tawanan maka Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam mengatakan :

اتَّقِ اللَّهَ وَاصْبِرْ، وَأَكْثِرْ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah kemudian perbanyak dzikir “Laa Haula Walaa Quwwata illa Billahi”.

 

Maka laki-laki itupun melakukan perintah dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, dan suatu hari ketika dia duduk di rumahnya tiba-tiba anaknya yang telah jadi tawanan itu datang ke rumah sambil membawa unta.

 

Artinya kalau kita yakin kita tidak bisa berbuat apa-apa dalam menangani virus ini, maka kita bantu orang lain dengan doa kita dan yang paling penting lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Ta’ala walau tidak harus kemesjid (Apabila telah ada larangan kemesjid di daerah kita).

  1. Memaksimalkan ikhtiar dengan mengikuti semua arahan pemerintah dan para ahli dalam bidang penanganan virus ini, Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 43 dan Al-Anbiyaa’ ayat 7 :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”

 

Rosyid Ridha dalam tafsirnya Al-Mannar mengatakan bahwa kata “Dzikro” hakikatnya adalah sesuatu yang agung dan besar sehingga mengundang kesungguhan hati yang biasa di sebut dengan “dzikrol Qolbi” dan apabila diucapkan atau seseorang mengingatkan ke yang lain disebut dengan “Dzikrol Lissan”  dan di sini Allah menggunakan majaz yang berarti orang yang menyampaikan adalah memiliki keutamaan dan ilmu yang mempuni atas apa yang sampaikan. Seperti firman Allah ta’ala :

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ

“Dan sesungguhnya itu adalah peringatan dari Allah untukmu dan untuk kamu-mu”

 

Maka dari menafsiran ini kita bisa memahami bahwa saat ini pemerintah, ulama dan ahli medis adalah tempat kita berpijak. Maka wajib untuk mengikuti semua arahan mereka karena mereka adalah ahli dzikri dalam kasus virus corona ini.

Sekian apa yang bisa saya bagikan dari ilmu yang sangat terbatas ini. Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita bagian dari orang-yang bersabar atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Semoga kita mampu menjadi umat yang selalu mengambil hikamah dari setiap musibah ataupun ujian dari Allah Ta’ala. Dan yang terakhir semoga Allah Ta’ala mengangkat musibah ini dari negri yang kita cintai ini (indonesia).

Saya berpesan untuk diri saya pribadi dan seluruh pembaca dimanapun berada agar kita memperbanyak istigfar dan tobat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Penulis : Ustadz Faisal Alhabsyi (Bidang Kurikulum dan Akademik Pesantren MAQI)

 

 

 

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger