Al-Quran

Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail عليهما السلام dalam Keteguhan Iman

Ibadah qurban merupakan salah satu syariat agung yang umat Islam laksanakan setiap bulan Dzulhijjah. Di samping itu, ritual ini bukan sekadar menyembelih hewan ternak, melainkan sebuah visualisasi dari ketundukan total seorang hamba. Oleh karena itu, Al-Qur’an mengabadikan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail عليهما السلام sebagai mercusuar keteguhan iman sepanjang sejarah.

Ujian Cinta dan Perintah Penyembelihan

Secara mendasar, perintah berqurban bermula dari mimpi Nabi Ibrahim عليه السلام yang berisi perintah untuk menyembelih putra tercintanya. Selain itu, Ismail yang saat itu tumbuh menjadi remaja shaleh tidak menolak ketetapan tersebut demi menaati perintah Allah ﷻ. Maka dari itu, dialog antara ayah dan anak ini mencerminkan puncak keikhlasan tertinggi yang tiada tandingannya.

Allah ﷻ mengabadikan momentum tersebut dalam firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهِ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi dalam tidur bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Saffat: 102)

Hakikat Keikhlasan dalam Ibadah Qurban

Selanjutnya, kita perlu memahami bahwa Allah ﷻ sama sekali tidak membutuhkan daging ataupun darah dari hewan yang manusia qurbankan. Tentu saja, esensi utama yang sampai kepada Allah ﷻ adalah ketakwaan dan kebersihan niat di dalam hati sang pekurban. Di samping itu, ibadah ini melatih setiap Muslim untuk mengikis sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.

Allah ﷻ menegaskan hakikat tersebut melalui firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya. (QS. Al-Hajj: 37)

Keutamaan Melaksanakan Syariat Qurban

Bukan hanya sebagai bentuk napak tilas sejarah, namun Rasulullah ﷺ juga memberikan penekanan kuat terhadap pelaksanaan ibadah tahunan ini. Beliau ﷺ memberikan teladan langsung dengan menyembelih sendiri hewan qurbannya dengan membaca basmalah dan bertakbir. Oleh sebab itu, setiap Muslim yang memiliki kelapangan rezeki hendaknya tidak melewatkan kesempatan emas ini.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, beliau menceritakan:

ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Nabi ﷺ berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir, serta beliau meletakkan kaki beliau di atas leher kambing tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pelajaran Tauhid dari Momentum Qurban

Supaya ibadah kita membuahkan pahala yang sempurna, maka kita wajib meneladani keteguhan tauhid dari keluarga Nabi Ibrahim عليه السلام. Memang benar bahwa menyembelih hewan memerlukan pengorbanan harta, akan tetapi hal tersebut tidak sebanding dengan ujian penyembelihan seorang anak. Oleh sebab itu, marilah kita bersihkan niat agar qurban kita murni karena mengharap wajah Allah ﷻ semata.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ memberikan motivasi tentang kelapangan hati dalam berqurban. Beliau ﷺ mengingatkan agar orang yang mampu tidak meninggalkan syariat yang mulia ini.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami’ No. 6490).

Kesimpulan

Pada akhirnya, ibadah qurban adalah sarana efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ sekaligus merekatkan hubungan sosial dengan sesama manusia. Melalui keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail, kita belajar bahwa keimanan sejati menuntut pengorbanan dan kepatuhan mutlak. Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha sebagai sarana meningkatkan kualitas ketakwaan kita.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger