Etika Terhadap Diri Sendiri (2)

Bagikan artikel ini :

Part 2

  1. Muhasabah (Introspeksi Diri)

Muhasabah secara harfiah berarti menghitung. Secara umum mengandung arti introspeksi diri, mengkaji diri sendiri, membaca kelemahan dan kemampuan yang ada pada diri. Sebagaimana dikatakan: “Sebaik-baik nasihat adalah nasihat yang datang dari diri kita sendiri“, karena pada hakikatnya hanya kita sendiri yang mengetahui keadaan kita sebenarnya.

Kita menjalani hidup di dunia bukan tanpa tugas dan kewajiban, bukan tanpa rencana dan cita-cita. Kita sadar bahwa kita akan menjalani hidup di dua alam; dunia dan akhirat; alam baqa, kekal tiada berakhir baik yang mendapat kebahagiaan atau penderitaan. Karenanya kita wajib bertanya terhadap diri kita sendiri, sudah sejauh mana bekal yang sudah kita persiapkan untuk menjalani hidup di akhirat? Untuk menjalani kebahagiaan yang haqiqi dan abadi. Untuk itu perhatikanlah petunjuk-petunjuk dari al-Qur’an dan hadits dibawah ini;


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ ﴿18﴾

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Hasyr: 18)


اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ ﴿1﴾   مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ ﴿2﴾

Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main. (QS. al-Anbiya: 1-2)


وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ  ﴿49﴾

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (QS. al-Kahf: 49)


يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗوَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ࣖ. ﴿30﴾

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya. (QS. Ali-‘Imron: 30)

 

Hadits-Hadits:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ (رواه أحمد)

Dari Ali bin Husain dari Bapaknya berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Diantara tanda baiknya keislaman seseorang adalah (sikapnya untuk) meninggalkan apa yang tidak ada manfaat baginya.” (HR. Ahmad)

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ (رواه ابن ماجه)

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang berakal (bijak) adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan (kosong) atas Allah.” (HR. Ibnu Majah)

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا (رواه الترمذي)

Dari Umar bin Al Khottob dia berkata, hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Mahaagung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.” (HR. Tirmidzi)

 

Cara membagi waktu;

وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ تَكُوْنَ لَهُ أَرْبَعَةُ سَاعَاتٍ:

Bagi orang yang berakal wajib baginya mempunyai empat waktu/saat:

سَاعَةٌ يُنَاجِى فِيْهَا رَبَّهُ

Satu saat ia bermunajat kepada Tuhannya.

وَسَاعَةٌ يُحَاسَبُ فِيْهَا نَفْسَهُ

Satu saat ia menghisab dirinya.

وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيْهَا فِي صُنْعِ اللهِ تَعَالَى

Satu saat untuk men-tafakkuri ciptaan Allah.

وَسَاعَةٌ يَخْلُوْا فِيْهَا لِلْمَطْعَمِ وَ الْمَشْرَبِ (إحياء علوم الدين 403:4)

Satu saat untuk menyiapkan diri untuk mencari makanan dan minuman. (Ihya ‘Ulumud Din, 4:403)

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ, وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ كَأَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ, وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Rasulullah ﷺ  bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia itu beruntung, dan barang siapa yang hari ini seperti hari kemarin, maka ia tertipu, dan barang siapa  yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia itu dilaknat”.

 

Bahan untuk Muhasabah;

  1. Sudah berapa tahunkah umur anda sekarang?
  2. Yakinkah bahwa anda akan berumur Panjang?
  3. Umur yang telah anda jalani, sudahkah diisi dengan amal shaleh?
  4. Cukupkah amal anda untuk menebus ridha dan maghfirah-Nya? Bukankah orang yang biasa shalat juga ada diancam mendapatkan Wailun (kecelakaan dan kebinasaan)
  5. Yakinkah anda bahwa amal anda akan diterima di sisi Allah?
  6. Sudahkah anda shalat dengan khusyu’? Infaq dan shadaqah tanpa riya? Menolong orang tanpa pamrih? Bekerja dengan nawaitu ibadah karena Allah?
  7. Pernahkah anda berbuat dosa?
  8. Pernahkah anda berbuat dzolim kepada yang lain?
  9. Sudahkah anda meminta maaf kepada mereka?
  10. Yakinkah anda bahwa mereka akan memaafkan kesalahan anda?
  11. Sudahkah anda menangisi dosa anda?
  12. Kapan anda akan meningkatkan amal ibadah anda?
  13. Apakah anda masih menunggu tua atau menunggu pensiun atau menunggu santai dari suatu kesibukan?
  14. Bagaimana kalau Allah mencabut usia anda di saat muda atau di saat anda sedang sibuk dengan pekerjaan anda? Apa yang akan anda andalkan untuk menghadap Rabb anda?

(Kitab Etika Hidup Seorang Muslim Karya KH. Aceng Zakaria)

 

Alhamdulillah pembahasan seputar etika terhadap diri sendiri part ke-2 telah selesai kita bahas. Mudah-mudahan kita lebih sering lagi memuhasabah diri sendiri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Nantikan artikel part ke-3 nya di pekan depan.

 

Penulis : Ustadz Fairuuz Faatin (Bidang Perkantoran & Bendahara Pesantren MAQI

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Open chat
Advertisment ad adsense adlogger