Ulumul Quran

Komentar Az-Zarkasyi Terhadap Tafsir Al-Isyari

Mempelajari cara para ulama berinteraksi dengan Al-Qur’an merupakan hal yang sangat menarik bagi umat Islam. Salah satu pendekatan yang sering muncul dalam literatur keislaman adalah penafsiran kaum sufi atau yang para ulama sebut sebagai tafsir Isyari. Penafsiran ini biasanya menitikberatkan pada makna-makna batiniah yang muncul dalam hati seorang hamba saat ia merenungkan ayat-ayat suci.

Penjelasan Imam Az-Zarkasyi dalam Kitab Al-Burhan

Al-Imam Az-Zarkasyi memberikan catatan penting mengenai metode ini dalam kitabnya yang fenomenal, Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa ucapan kaum sufi saat menafsirkan Al-Qur’an pada hakikatnya bukanlah tafsir dalam pengertian syariat yang kaku. Sebaliknya, hal itu merupakan penemuan-penemuan spiritual (waraid) yang mereka dapatkan sewaktu membaca Al-Qur’an.

Sebagai contoh, sebagian dari mereka memberikan makna mendalam terhadap firman Allah ﷻ dalam surat At-Taubah:

قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُوْنَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ

Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu (At-Taubah: 123).

Kaum sufi terkadang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “orang kafir di sekeliling” dalam ayat tersebut adalah nafsu manusia. Mereka berargumen bahwa perintah memerangi orang yang paling dekat memiliki illat (alasan) kedekatan posisi. Oleh karena itu, tidak ada satu pun musuh yang lebih dekat kedudukannya kepada manusia daripada hawa nafsunya sendiri.

Pentingnya Menjaga Kedekatan dengan Al-Qur’an

Ternyata, perenungan terhadap makna batiniah ayat tersebut sejalan dengan anjuran untuk selalu memperbaiki diri. Islam mengajarkan umatnya agar selalu waspada terhadap godaan hawa nafsu yang sering kali menjerumuskan manusia pada keburukan. Allah ﷻ memberikan peringatan mengenai tabiat nafsu melalui firman-Nya:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Yusuf: 53).

Selain itu, perjuangan melawan hawa nafsu merupakan bagian dari pengendalian diri yang sangat utama dalam agama. Rasulullah ﷺ menekankan bahwa kekuatan sejati seorang mukmin terletak pada kemampuannya menguasai emosi dan keinginan rendahnya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedudukan Tafsir Isyari dalam Ilmu Al-Qur’an

Para ulama memberikan syarat yang cukup ketat agar penafsiran Isyari semacam ini dapat diterima. Pertama, makna tersebut tidak boleh bertentangan dengan makna lahiriah ayat yang sudah tetap. Kedua, makna tersebut tidak boleh bertentangan dengan dalil-dalil syariat lainnya yang sudah jelas. Akhirnya, penafsiran ini harus tetap dipandang sebagai hikmah tambahan, bukan sebagai pengganti makna asli dari ayat tersebut.

Dengan memahami batasan ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari setiap hasil perenungan para ulama terdahulu. Kita juga diingatkan untuk senantiasa membersihkan hati agar dapat menangkap cahaya petunjuk Al-Qur’an secara lebih jernih. Semoga Allah ﷻ memudahkan kita untuk memahami isi kandungan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan kita.

Penulis : Ustadz Wildan Risalat (Mudir Pesantren MAQI)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger