Macam-Macam Jiwa Menurut Al-Qur’an
Mengenal Tiga Sifat Jiwa Manusia dalam Al-Qur’an
Para ulama menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki tiga sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat ini saling tarik-menarik sehingga satu sifat dapat mengalahkan sifat yang lainnya sesuai kondisi iman seseorang. Oleh karena itu, memahami karakteristik setiap jiwa sangat penting agar kita dapat senantiasa menjaga hati di atas ketakwaan kepada Allah ﷻ.
1. An-Nafsu Al-Muthmainnah (Jiwa yang Tenang)
Jiwa yang tenang merupakan tingkatan tertinggi karena ia selalu merasa tenteram dalam ketaatan. Allah ﷻ memberikan kemuliaan besar bagi pemilik jiwa ini dengan firman-Nya:
يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr: 27-30).
Tafsir ringkas menjelaskan bahwa jiwa ini membenarkan janji serta ancaman Allah ﷻ yang ada dalam kitab-Nya. Pemilik jiwa muthmainnah berlepas diri dari kesyirikan serta merasa bahagia karena mencintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Selanjutnya, para Malaikat akan menyambut mereka dengan salam saat ruh kembali ke jasad pada hari kiamat kelak.
2. An-Nafsu Al-Lawwamah (Jiwa yang Menyesali Diri)
Sifat kedua adalah jiwa yang sering mencela atau menyesali dirinya sendiri atas segala perbuatan yang dilakukan. Allah ﷻ bahkan bersumpah demi jiwa ini dalam Al-Qur’an:
لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ
Aku bersumpah demi hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang suka menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al-Qiyamah: 1-2).
Al-Farra’ rahimahullah menjelaskan bahwa jiwa jenis ini selalu merasa kurang, baik saat bertakwa maupun bermaksiat. Apabila ia melakukan kebaikan, jiwanya akan menyesal mengapa tidak menambah amal tersebut lebih banyak lagi. Namun, jika ia melakukan keburukan, jiwanya akan sangat menyesali perbuatan maksiat tersebut.
3. An-Nafsu Al-Ammarah bis-Su’ (Jiwa yang Menyuruh Keburukan)
Sifat ketiga merupakan dorongan nafsu yang selalu memerintahkan hamba untuk melakukan kemaksiatan. Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ yang mengisahkan tentang sifat dasar manusia:
۞وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf: 53).
Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan bahwa jiwa ini selalu memerintahkan hamba untuk mengikuti hawa nafsunya. Al-Baghawi rahimahullah juga menegaskan bahwa makna keburukan pada ayat ini merujuk kepada perbuatan maksiat. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan rahmat Allah ﷻ agar terhindar dari dominasi sifat jiwa yang buruk ini.
Kesimpulan
Setelah mengetahui ketiga sifat ini, sudah sepantasnya kita berusaha keras agar an-nafsu al-muthmainnah menguasai diri kita. Maka dari itu, mari kita penuhi hari-hari dengan zikir dan amal shalih agar jiwa tetap tenang hingga ajal menjemput. Semoga Allah ﷻ senantiasa membimbing hati kita untuk tetap berada di jalan yang diridhai-Nya.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|


