Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim dalam Berdakwah
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنَسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Marilah kita tingkatkan kualitas takwa sebagai bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. Saat ini kita berada di bulan Dzulqa’dah, sebuah waktu yang mengingatkan kita pada persiapan ibadah haji. Oleh karena itu, sangat relevan jika kita meneladani sosok Nabi Ibrahim عليه السلام. Beliau merupakan teladan utama dalam hal kesabaran dan keteguhan iman saat menjalankan dakwah. Maka dari itu, marilah kita petik hikmah dari perjalanan hidup beliau agar kita semakin kokoh dalam beragama.
Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Tauhid
Nabi Ibrahim عليه السلام menghadapi berbagai ujian yang sangat berat sejak masa mudanya. Beliau harus berdakwah di tengah masyarakat yang sangat fanatik terhadap penyembahan berhala. Namun, beliau tetap menyampaikan kebenaran dengan penuh kesabaran dan hikmah meskipun nyawa menjadi taruhannya. Oleh sebab itu, setiap muslim harus memiliki mentalitas pantang menyerah dalam mempertahankan prinsip-pintu keimanan. Keteguhan beliau saat dibakar oleh Raja Namrud menjadi bukti nyata bahwa Allah ﷻ selalu menolong hamba-Nya yang bersabar.
Allah ﷻ memberikan pujian kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dalam Al-Qur’an:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An-Nahl: 120).
Dengan demikian, marilah kita jadikan tauhid sebagai landasan utama dalam setiap langkah hidup kita. Kita tentu ingin mencontoh kemurnian akidah beliau agar selamat dari segala bentuk kesyirikan.
Keikhlasan dalam Menjalankan Perintah Allah ﷻ
Selanjutnya, kesabaran Nabi Ibrahim عليه السلام juga terlihat jelas saat beliau harus meninggalkan keluarganya di lembah yang tandus. Beliau menaati perintah Allah ﷻ untuk menempatkan Siti Hajar dan Nabi Ismail عليه السلام di Makkah tanpa ada rasa ragu sedikit pun. Keikhlasan beliau dalam mengorbankan perasaan demi menjalankan syariat merupakan derajat kesabaran yang luar biasa tinggi. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak banyak mengeluh saat menghadapi kesulitan dalam menjalankan ibadah. Pengabdian total kepada Allah ﷻ akan membuahkan keberkahan yang akan dinikmati oleh anak cucu kita kelak.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa para nabi adalah orang yang paling berat ujiannya di dunia ini. Mush’ab bin Sa’ad meriwayatkan dari ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه, bahwa ia bertanya tentang siapa manusia yang paling berat ujiannya. Nabi ﷺ menjawab:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
Para nabi, kemudian yang semisalnya (sholihin), lalu yang semisalnya (HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih At-Tirmidzi).
Oleh sebab itu, janganlah kita merasa berputus asa jika ujian dakwah atau ujian hidup datang silih berganti. Setiap kesulitan yang kita hadapi dengan sabar akan menaikkan derajat kita di hadapan Sang Pencipta.
Membangun Generasi yang Taat Beribadah
Kemudian, hikmah besar lainnya dari Nabi Ibrahim عليه السلام adalah perhatian beliau terhadap masa depan agama anak cucunya. Beliau tidak hanya sibuk dengan kesalehan pribadi, tetapi juga gigih membangun karakter generasi yang bertakwa. Oleh sebab itu, dakwah di dalam keluarga harus menjadi perhatian utama bagi setiap kepala rumah tangga muslim. Keberhasilan beliau dalam mendidik Nabi Ismail عليه السلام menjadi anak yang sabar merupakan buah dari doa dan teladan yang konsisten.
Allah ﷻ mengabadikan doa Nabi Ibrahim عليه السلام dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi kita:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (QS. Ibrahim: 40).
Maka dari itu, marilah kita jadikan sisa bulan Dzulqa’dah ini untuk memperkuat kualitas ibadah kita dan keluarga. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dikumpulkan bersama para nabi dan orang-orang shalih di surga-Nya kelak.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah ﷻ,
Sebagai kesimpulan, marilah kita meneladani kesabaran Nabi Ibrahim عليه السلام dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan. Dakwah bukan hanya tentang berbicara di depan orang banyak, tetapi tentang menunjukkan keteguhan iman dalam perbuatan. Selanjutnya, marilah kita perkuat doa agar anak keturunan kita tetap istiqamah dalam menjalankan shalat lima waktu. Oleh karena itu, jadikanlah kesabaran sebagai pakaian harian kita dalam menghadapi berbagai ujian zaman.
Akhirnya, marilah kita tundukkan kepala sejenak untuk memohon kepada Allah yang Maha Kuasa agar menguatkan iman kita semua.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ عَلَى طَاعَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّاتِنَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

