Adab Penuntut Ilmu
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda: Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dicari demi wajah Allah ﷻ, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan harta dunia, ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Ilmu Butuh Adab
Ilmu ibarat air yang menyuburkan tanah. Namun, air hanya bermanfaat jika mengalir pada wadah yang bersih. Begitu pula ilmu. Ia hanya membawa berkah bagi hati yang bersih dan penuh adab.
Karena itu, para ulama salaf mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Selanjutnya, mari kita bahas lima adab penting bagi setiap penuntut ilmu.
Lima Adab Penuntut Ilmu
1. Mengikhlaskan Niat karena Allah ﷻ
Adab pertama sekaligus yang terpenting adalah ikhlas. Hadits pembuka memberi peringatan keras bagi orang yang belajar demi dunia, seperti jabatan, harta, atau pujian manusia.
Sebaliknya, niat yang lurus akan menjadikan setiap langkah belajar bernilai ibadah. Oleh karena itu, tanyakan pada diri sendiri sebelum belajar: untuk siapa aku menuntut ilmu?
2. Mengamalkan Ilmu yang Dipelajari
Di samping ikhlas, seorang penuntut ilmu wajib mengamalkan ilmunya. Sebab, Allah ﷻ akan menanyakan hal ini kelak.
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
Dari Abu Barzah Al-Aslami رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda: Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan. (HR. At-Tirmidzi no. 2417, dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Dengan demikian, ilmu bukan sekadar hafalan. Ilmu adalah amanah yang menuntut pengamalan. Mulailah dari hal sederhana, lalu tingkatkan sedikit demi sedikit.
3. Rendah Hati dan Hormat kepada Guru
Selanjutnya, adab yang tidak kalah penting adalah tawadhu kepada guru. Al-Qur’an memberi teladan melalui kisah Nabi Musa عليه السلام yang belajar kepada Khidir.
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu? (QS. Al-Kahfi: 66)
Perhatikan sopan santun Nabi Musa عليه السلام. Padahal, beliau adalah seorang rasul. Meski demikian, beliau tetap meminta izin dengan lembut dan penuh hormat. Lalu, beliau berjanji untuk bersabar dan taat.
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
Musa berkata: Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu sedikit pun. (QS. Al-Kahfi: 69)
4. Belajar, Lalu Mengajarkan
Setelah itu, seorang penuntut ilmu hendaknya berbagi ilmu yang ia miliki.
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Dari Utsman bin Affan رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda: Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari no. 5027)
Tentu saja, kita tidak harus menunggu menjadi ustadz. Sampaikan satu ilmu yang sudah kita pahami kepada keluarga atau teman. Dengan cara itu, ilmu semakin kuat di dalam hati, dan pahala pun mengalir.
5. Berdoa agar Ilmu Bertambah
Terakhir, ilmu adalah karunia Allah ﷻ. Oleh sebab itu, kita perlu memohon tambahan ilmu kepada-Nya.
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (QS. Thaha: 114)
Rasulullah ﷺ sendiri diperintahkan untuk berdoa dengan kalimat ini. Maka, kita yang jauh lebih membutuhkan ilmu tentu lebih pantas memohonnya setiap hari.
Penutup
Singkatnya, ilmu yang bermanfaat lahir dari adab yang baik. Ikhlas, amal, tawadhu, berbagi, dan doa adalah bekal yang menjaga ilmu tetap berkah. Mari kita perbaiki adab sebelum menambah ilmu. Semoga Allah ﷻ menjadikan ilmu kita bermanfaat di dunia dan di akhirat.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

