Tarikh Islam

Saqifah Bani Sa’idah dan Dibai’atnya Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه

Wafatnya Rasulullah ﷺ menjadi musibah terbesar bagi kaum muslimin. Meski begitu, para sahabat segera menyelesaikan satu urusan penting, yaitu memilih pemimpin umat. Peristiwa itu terjadi di Saqifah Bani Sa’idah dan berujung pada pembai’atan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Wafatnya Rasulullah ﷺ dan Keteguhan Abu Bakar رضي الله عنه

Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin di bulan Rabiul Awal tahun 11 Hijriah. Kabar itu mengguncang Madinah. Bahkan Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه sempat sulit menerimanya.

Di tengah kegoncangan itu, Abu Bakar رضي الله عنه tampil dengan tenang. Beliau menguatkan hati kaum muslimin dengan kalimat tauhid.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رضي الله عنه قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا ﷺ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ

Dari Aisyah رضي الله عنها, bahwa Abu Bakar رضي الله عنه berkata, “Amma ba’du. Siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, sesungguhnya Muhammad telah wafat. Siapa di antara kalian yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.” (HR. Al-Bukhari no. 3668)

Setelah itu, beliau membacakan firman Allah ﷻ:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran: 144)

Berkumpulnya Kaum Anshar di Saqifah

Sementara itu, kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Saqifah adalah balai pertemuan beratap milik Bani Sa’idah. Di sana hadir Sa’d bin Ubadah رضي الله عنه, pemuka Khazraj. Mereka ingin membicarakan siapa yang akan memimpin kaum muslimin.

Kabar pertemuan itu segera sampai kepada Umar رضي الله عنه. Beliau lalu mengajak Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah رضي الله عنهما menuju Saqifah. Dengan cepat mereka tiba di sana, sebelum perbedaan pendapat membesar.

Jalannya Perundingan di Saqifah

Usulan Dua Pemimpin

Di Saqifah, Abu Bakar رضي الله عنه berbicara lebih dulu. Beliau mengakui jasa besar kaum Anshar dalam membela Islam. Namun, beliau menjelaskan bahwa bangsa Arab hanya akan tunduk kepada suku Quraisy.

Mendengar itu, Al-Hubab bin Al-Mundzir رضي الله عنه mengusulkan satu pemimpin dari Anshar dan satu dari Muhajirin. Akan tetapi, dua pemimpin dalam satu negeri akan melahirkan perpecahan.

Penetapan Abu Bakar رضي الله عنه

Abu Bakar رضي الله عنه kemudian menawarkan dua nama, yaitu Umar dan Abu Ubaidah. Namun, Umar رضي الله عنه menolak dan justru berkata bahwa Abu Bakar adalah yang paling layak. Menurut riwayat Al-Bukhari, Umar menyebut beliau sebagai pemimpin, orang terbaik, dan orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ di antara mereka.

Selanjutnya, Umar رضي الله عنه menjabat tangan Abu Bakar dan membai’atnya. Kaum Muhajirin dan Anshar pun mengikuti beliau. Dengan begitu, perselisihan di Saqifah selesai dengan damai.

Dalil yang Menguatkan Kekhilafahan Abu Bakar رضي الله عنه

Para sahabat tidak memilih Abu Bakar رضي الله عنه tanpa dasar. Rasulullah ﷺ sendiri telah memberi isyarat yang jelas.

Pertama, beliau ﷺ menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat ketika sakit.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي مَرَضِهِ: مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda saat sakitnya, “Perintahkan Abu Bakar agar mengimami manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 664 dan Muslim no. 418)

Kedua, beliau ﷺ mengarahkan seorang wanita agar menemui Abu Bakar bila tidak menjumpai beliau.

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: أَتَتِ النَّبِيَّ ﷺ امْرَأَةٌ فَكَلَّمَتْهُ فِي شَيْءٍ فَأَمَرَهَا بِأَمْرٍ، فَقَالَتْ: أَرَأَيْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ لَمْ أَجِدْكَ؟ قَالَ: إِنْ لَمْ تَجِدِينِي فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ

Dari Jubair bin Muth’im رضي الله عنه, ia berkata: Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ lalu berbicara kepada beliau tentang suatu urusan, dan beliau memerintahkannya sesuatu. Wanita itu berkata, “Bagaimana jika aku tidak menemukan Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika engkau tidak menemukanku, datanglah kepada Abu Bakar.” (HR. Al-Bukhari no. 3659 dan Muslim no. 2386)

Ketiga, kepemimpinan umat memang berada di tangan suku Quraisy.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Para pemimpin berasal dari suku Quraisy.” (HR. Ahmad no. 12307, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 520)

Bai’at Umum di Masjid Nabawi

Keesokan harinya, kaum muslimin berkumpul di Masjid Nabawi. Mereka membai’at Abu Bakar رضي الله عنه secara umum. Para ahli sirah mencatat bahwa beliau berpidato singkat dalam kesempatan itu. Beliau meminta rakyat menaatinya selama ia menaati Allah dan Rasul-Nya, serta meluruskannya bila menyimpang.

Prinsip ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Dari Ali رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat. Ketaatan hanyalah dalam perkara yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 7257 dan Muslim no. 1840)

Setelah urusan kepemimpinan selesai, kaum muslimin memandikan, mengafani, dan menguburkan jenazah Rasulullah ﷺ.

Hikmah dari Peristiwa Saqifah

Musyawarah Menjadi Jalan Menyelesaikan Masalah

Para sahabat menyelesaikan urusan terbesar umat dengan bermusyawarah. Hal ini sesuai dengan sifat orang beriman dalam firman Allah ﷻ:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Asy-Syura: 38)

Persatuan Lebih Utama daripada Kepentingan Golongan

Kaum Anshar sangat berjasa, namun mereka lapang dada menerima keputusan yang lebih menjaga persatuan. Selain itu, kaum Muhajirin tidak merendahkan mereka. Sikap saling menghormati inilah yang menyelamatkan umat dari perpecahan.

Kepemimpinan Dibangun di Atas Ketaatan kepada Allah ﷻ

Abu Bakar رضي الله عنه tidak menjadikan jabatan sebagai kebanggaan. Beliau menjadikannya amanah yang harus dijalankan sesuai syariat. Dengan demikian, rakyat wajib menaati pemimpin dalam kebaikan dan menasihatinya bila ia keliru.

Keutamaan Abu Bakar رضي الله عنه Diakui Semua Sahabat

Seluruh sahabat sepakat bahwa Abu Bakar رضي الله عنه adalah orang yang paling pantas memimpin. Beliau sahabat paling dekat dengan Nabi ﷺ, sejak awal dakwah hingga akhir hayat beliau.

Penutup

Peristiwa Saqifah menunjukkan kecerdasan, keikhlasan, dan kuatnya ukhuwah para sahabat. Dari sana, kita belajar bahwa persatuan umat harus didahulukan dalam setiap urusan. Semoga Allah ﷻ meridhai seluruh sahabat dan menjadikan kita pengikut mereka dengan baik.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger