Ilmu Hadits

Hadits Mursal Khafi

Memahami Pengertian dan Perbedaannya dengan Mursal Biasa

Pembahasan mengenai kejanggalan jalur sanad membawa kita pada salah satu istilah yang sangat halus dalam ulumul hadits, yaitu hadits mursal khafi. Jenis keterputusan ini membutuhkan penelitian ekstra mendalam karena bentuknya yang tersembunyi. Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari definisi, cara mengetahui, serta perbedaan mursal khafi dengan bentuk keterputusan sanad lainnya.

Apa Itu Hadits Mursal Khafi?

Secara bahasa, mursal berarti yang dilepaskan dan khafi berarti tersembunyi. Sementara itu, dalam istilah ilmu hadits, mursal khafi adalah riwayat seorang perawi dari orang yang sezaman dengannya, tetapi ia tidak pernah bertemu atau tidak pernah mendengar langsung hadits darinya, dengan menggunakan lafadz yang memberi kesan ia mendengar langsung seperti “dari…” (‘an) atau “ia berkata” (qala).

Penyamaran ini terjadi secara halus karena kedua perawi hidup pada masa yang sama (mu’asharah). Oleh karena itu, masyarakat awam sering kali mengira sanad tersebut bersambung padahal sebenarnya terputus.

Perbedaan Mursal Khafi dengan Mursal Biasa dan Tadlis

Para ulama membedakan mursal khafi dari mursal biasa dan tadlis isnad. Pada mursal biasa, seorang Tabi’in menggugurkan posisi Sahabat, sehingga keterputusannya sangat jelas terlihat.

Sedangkan perbedaannya dengan tadlis isnad terletak pada tingkat pertemuan antarperawi. Pelaku tadlis (mudallis) meriwayatkan dari guru yang memang pernah ia temui dan pernah ia dengar hadits darinya. Sementara pada mursal khafi, perawi hidup sezaman dengan sang guru tetapi ia belum pernah bertemu atau tidak pernah mendengar satu hadits pun secara langsung darinya.

Cara Ulama Mengetahui Mursal Khafi

Para ahli hadits menggunakan metode yang sangat teliti untuk mendeteksi mursal khafi. Pertama, ulama memeriksa catatan sejarah melalui penegasan para kritikus hadits bahwa kedua perawi tersebut tidak pernah bertemu. Kedua, ulama menemukan jalur periwayatan lain yang menyebutkan adanya perawi perantara di antara keduanya.

Allah ﷻ mengingatkan kita untuk selalu meneliti kebenaran berita agar kita tidak terjebak dalam kekeliruan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (QS. Al-Hujurat: 6).

Kejujuran dan ketelitian dalam menyampaikan sabda Nabi ﷺ menjadi kunci utama keabsahan agama. Dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu mengantarkan ke surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Hukum dan Kehujjahan Hadits Mursal Khafi

Para ahli hadits sepakat mengategorikan mursal khafi sebagai bagian dari hadits dhaif (lemah). Hal ini terjadi karena gugurnya salah satu syarat mutlak keshahihan hadits, yaitu bersambungnya sanad (ittishal as-sanad). Oleh sebab itu, kita tidak boleh menjadikan riwayat mursal khafi sebagai hujah utama dalam hukum syariat.

Kesimpulannya, penelusuran terhadap mursal khafi membuktikan ketajaman analisis ulama salaf dalam menyaring sanad. Pemahaman ini membentengi kita agar selalu beribadah di atas dalil-dalil yang shahih dan teruji.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger