Prinsip Ittiba kepada Rasul ﷺ
Menjalankan ajaran Islam secara kaffah menuntut setiap mukmin untuk menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan mutlak dalam beragama. Sikap tunduk dan mengikuti segala contoh dari Rasulullah ﷺ kita kenal sebagai prinsip ittiba. Prinsip ini menjadi timbangan utama untuk menilai sah atau tidaknya setiap amal ibadah seseorang di sisi Allah ﷻ.
Pengertian dan Kedudukan Ittiba dalam Islam
Secara bahasa, ittiba berarti mengikuti jejak seseorang secara persis tanpa menyimpang sedikit pun ke kiri atau ke kanan. Sedangkan dalam istilah syariat, ittiba adalah mengamalkan apa yang Rasulullah ﷺ contohkan serta meninggalkan segala hal yang beliau larang. Kedudukan prinsip ini sangat tinggi karena Allah ﷻ menjadikan ketaatan kepada Nabi sebagai bukti cinta hamba kepada-Nya.
Oleh karena itu, setiap muslim wajib menyadari bahwa akal dan perasaan pribadi tidak boleh mendahului sunnah Nabi ﷺ. Allah ﷻ memberikan peringatan tegas agar kita selalu merujuk kepada keputusan Rasulullah ﷺ dalam segala urusan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَيَّرُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)
Perbedaan Antara Ittiba dan Ibtida
Umat Islam perlu memahami batas yang jelas antara ittiba (mengikuti sunnah) dengan ibtida (membuat bid’ah dalam agama). Ittiba mendatangkan keridhaan Allah ﷻ karena jalannya sudah pasti benar dan bersumber langsung dari wahyu. Sebaliknya, ibtida atau membuat-buat cara ibadah baru merupakan perbuatan yang tertolak dan berbahaya.
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap amal ibadah yang tidak ada contohnya dari beliau pasti akan kembali kepada pelakunya. Dari Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak. (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718, Aisyah meriwayatkan hadits prinsip penolakan amal bid’ah).
Berdasarkan hadits tersebut, niat yang baik tidak akan pernah bisa mengubah ibadah yang tidak ada tuntunannya menjadi sah di sisi Allah ﷻ.
Konsistensi Mengikuti Sunnah di Tengah Berbagai Fitnah
Menjaga konsistensi dalam ittiba memang bukan perkara mudah, terutama ketika banyak manusia mulai mengikuti hawa nafsu dan tradisi yang menyimpang. Namun, seorang mukmin sejati tetap berdiri tegak di atas sunnah meskipun ia harus merasa asing di tengah masyarakat. Keimanan yang kokoh mendorong seseorang untuk bangga mengamalkan ajaran yang autentik.
Selanjutnya, Rasulullah ﷺ memuji orang-orang yang tetap menghidupkan sunnah ketika umatnya telah banyak mengalami kerusakan. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda memberikan kabar gembira:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah orang-orang yang asing. (HR. Muslim no. 145, Abu Hurairah meriwayatkan keutamaan orang yang berpegang teguh pada sunnah di tengah keterasingan).
Kesimpulan
Prinsip ittiba kepada Rasul ﷺ merupakan kunci utama diterimanya seluruh amal shalih serta penentu keselamatan di akhirat. Kita wajib mempelajari sunnah-sunnah beliau melalui bimbingan para ulama yang lurus agar ibadah kita tidak sia-sia. Menjauhi segala bentuk bid’ah adalah bukti nyata kecintaan kita kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Akhirnya, mari kita senantiasa memohon taufik agar mampu meneladani akhlak dan ibadah Rasulullah ﷺ secara istiqamah hingga akhir hayat. Semoga Allah ﷻ mengumpulkan kita bersama Nabi Muhammad ﷺ di telaga Al-Kautsar kelak. Kemenangan abadi hanya akan diraih oleh hamba-hamba yang setia berjalan di atas manhaj sunnah yang mulia.
Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc
![]() |
|

