Sirah

Fathu Makkah

Kemenangan Agung dan Pembebasan Kota Suci Tanpa Pertumpahan Darah

Pelaksanaan Umrah Qadha terbukti mampu meruntuhkan mental kaum musyrikin Quraisy secara perlahan. Namun, kedamaian yang tercipta pasca Perjanjian Hudaibiyah tidak bertahan lama karena pengkhianatan sepihak dari pihak Quraisy. Pada bulan Ramadhan tahun kedelapan Hijriyah, Rasulullah ﷺ memimpin sepuluh ribu pasukan menuju Makkah dalam sebuah peristiwa agung bernama Fathu Makkah.

Latar Belakang Pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah

Peristiwa besar ini bermula ketika kabilah Bani Bakar, yang bersekutu dengan Quraisy, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu kaum Muslimin. Kaum Quraisy bahkan ikut membantu logistik dan personel dalam serangan malam yang keji tersebut. Pelanggaran nyata ini secara otomatis membatalkan kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati bersama.

Rasulullah ﷺ segera merespons permohonan bantuan dari Bani Khuza’ah dengan mempersiapkan pasukan terbesar dalam sejarah Islam saat itu. Beliau ﷺ merahasiakan rencana keberangkatan ini dengan sangat ketat agar dapat mengejutkan penduduk Makkah. Strategi ini bertujuan untuk meminimalisasi pertumpahan darah di tanah suci yang sangat Allah ﷻ muliakan.

Detik-Detik Memasuki Makkah dengan Ketundukan Hati

Pasukan Muslim berkemah di pinggiran kota Makkah sambil menyalakan ribuan obor yang membuat nyali kaum Quraisy menciut. Abu Sufyan yang melihat kekuatan raksasa tersebut akhirnya datang menyerahkan diri dan menyatakan masuk Islam di hadapan Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ kemudian memberikan jaminan keamanan bagi siapa saja yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan atau menutup pintunya.

Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memasuki kota Makkah dengan menundukkan kepala di atas kendaraannya sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam. Beliau ﷺ tidak menampakkan kesombongan seorang penakluk, melainkan menunjukkan akhlak mulia yang luar biasa. Nabi ﷺ segera menuju Ka’bah untuk menghancurkan ratusan berhala yang selama ini mengotori kesucian Baitullah.

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه menceritakan momen pembersihan berhala tersebut:

دَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ مَكَّةَ وَحَوْلَ البَيْتِ ثَلاَثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ نُصُبًا، فَجَعَلَ يَطْعُنُهَا بِعُودٍ فِي يَدِهِ وَيَقُولُ: جَاءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ

Nabi ﷺ memasuki Makkah dan di sekitar Ka’bah terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Beliau kemudian mulai menusuk berhala-berhala itu dengan sebatang kayu di tangannya seraya bersabda: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pengampunan Massal dan Datangnya Pertolongan Allah ﷻ

Rasulullah ﷺ mengumpulkan penduduk Makkah yang dahulu pernah menyiksa dan mengusir kaum Muslimin di depan halaman Ka’bah. Alih-alih membalas dendam, Nabi ﷺ justru memberikan pengampunan massal secara sukarela kepada seluruh penduduk kota tersebut. Sikap pemaaf yang sangat agung ini menyebabkan ribuan orang berbondong-bondong memeluk agama Islam dengan hati yang lapang.

Allah ﷻ mengabadikan kemenangan mutlak ini dalam sebuah surat khusus di dalam Al-Qur’an.

Allah ﷻ berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ * وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. (An-Nashr: 1-2)

Oleh sebab itu, Fathu Makkah menjadi simbol kemenangan mutlak keimanan atas kesyirikan di jazirah Arab. Pembebasan ini sekaligus mengembalikan fungsi Ka’bah sebagai pusat tauhid bagi umat manusia hingga akhir zaman. Akhirnya, Makkah pun resmi menjadi kota suci yang aman di bawah naungan syariat Islam yang penuh dengan kedamaian.

Penulis : Ustadz Kurnia Lirahmat, B.A., Lc

Facebook Comments

Pesantren MAQI

Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Advertisment ad adsense adlogger